TribunTimur/

CITIZEN REPORTER

Belajar Efisiensi Lahan Pertanian dari Belanda dan Jerman

Beberapa hamparan lahan juga terlihat tidak ditanami, lahan ini berisi puluhan bahkan ratusan ekor ternak, ada kuda, sapi dan juga domba.

Belajar Efisiensi Lahan Pertanian dari Belanda dan Jerman
CITIZEN REPORTER
Suardi Bakri

Suardi Bakri

Dosen UniversitasIslam Makassar

Melaporkan dari Wismar, Jerman

TRIBUN-TIMUR.COM-Pada kesempatan melakukan perjalanan darat Amsterdam, Paris lalu ke Brussel dan Jerman saya berkesempatan menikmati jalan tol yang mulus dan juga berkesempatan menusuk masuk ke pedalaman, utamanya saat menuju ke Wismar, salah satu kota kecil di Jerman bagian Timur.

Sejak dari Nederland keluar kota sudah terlihat hamparan lahan-lahan petani yang seakan tak bertepi seperti di Indonesia, dibatasi dengan Pematang atau tanggu pembatas yang menandakan kepemilikan atau penguasaan.

Di penghujung Summer ini di hamparan lahan lahan pertanian, baik di negara Nedherland maupun German masih ada pertanaman, walaupun sebahagian besar ya sudah panen yaitu pertanaman jagung dan juga gandum.

Pada lahan-lahan yang sudah dipanen kita melihat pemandangan selain batang jagung yang terlihat terpotong dengan rata, menandakan bahwa panen mereka pasti menggunakan mesin panen (harverster) juga terlihat gulungan seperti gulungan kabel listrik besar berserakan dimana mana.

Itu adalah batang jagung kering yang telah diawetkan untuk antisipasi pakan ternak di musim dingin yang sebentar lagi tiba. Beberapa hamparan lahan juga terlihat tidak ditanami, lahan ini berisi puluhan bahkan ratusan ekor ternak, ada kuda, sapi dan juga domba.

Semua nampak diusahakan dalam skala besar, memenuhi skala ekonomi. Dibandingkan dengan misalnya di Indonesia lahan lahan dikelola secara individu dengan luasan paling tinggi dua hektar atau beternak dengan beberapa ekor saja, kurang efisien. Agus Salim yang menemani kami dalam perjalanan menyebutkan di Belanda petani itu disebut pengusaha, mereka kaya kaya.

"Lihat saja hamparan lahan yang begitu luas, ada mesin-mesin pertanian, ada truck untuk mengangkut ada gudang. mereka tidak membutuhkan banyak dan memang kurang tenaga kerja untuk menjalankan usahataninya, karena mereka serba mekanisasi," katanya.

Di Belanda petani juga punya hak suara, mereka didengar oleh Pemerintah.

"Lihat saja Pak jalan jalan yang kita lalui semua mulus bagus, karena petani marah kalau jalanan mereka tidak diperbaiki, jalanan ini kan dipergunakan untuk mengangkut hasil pertanian mereka agar bisa cepat sampai ke kota,"kata Agus lagi.

Dari hamparan lahan yang saya lihat, saya berkeyakinan bahwa sistem pertanian di Indonesia kita harus re-form, dari pertanian individual keluarga menjadi pertanian komunal, kelompok.

Di Belanda ataupun di German memang bertani juga ada yang dilakukan dan bisa jadi lebih banyak secara individu tetapi lahan mereka ratusan hektar, sehingga penggunaan mekanisasi sangat efisien dan efektif. 

Terlihat di sini mesin-mesin pertanian yang digunakan adalah mesin -mesin besar, mereka menggunakan dumtruck untuk memobilisasi. Sementara di Indonesia karena permasalahan lahan yang sempit dibatasi Pematang sehingga mesin-mesin kecilpun kadang masih susah untuk dioperasikan.(*)

Penulis: CitizenReporter
Editor: Anita Kusuma Wardana
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help