TribunTimur/

Usai Diperiksa, Bendahara BPKAD Mamuju Langsung Dijebloskan ke Rutan

Ia ditahan setelah ditetapkan sebagai tersangka atas kasus tindak pidana korupsi dalam penyalahgunaan dana Bansos tahun anggaran 2016 tahun lalu.

Usai Diperiksa, Bendahara BPKAD Mamuju Langsung Dijebloskan ke Rutan
HANDOVER
Bendahara Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, Abdullah dijebloskan ke lembaga Rumah Tahanan (Rutan) Mamuju, Selasa (18/07/2017). 

Laporan wartawan Tribun Timur Hasan Basri

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR -- Bendahara Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, Abdullah dijebloskan ke lembaga Rumah Tahanan (Rutan) Mamuju, Selasa (18/7/2017).

Ia ditahan setelah ditetapkan sebagai tersangka atas kasus tindak pidana korupsi dalam penyalahgunaan dana Bansos tahun anggaran 2016 tahun lalu.

Baca: Korupsi Rp 7,2 Miliar, Bendahara Kabupaten Mamuju Diperiksa Kejaksaan

Sebelum ditahan, tersangka sempat menjalani pemeriksaan selama hampir empat jam, mulai pukul 10.00 Wita sampai pukul 13.40 Wita.

"Tersangka langsung ditahan usai diperiksa," kata Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejati Sulselbar, Salahuddin, Selasa (18/7/2017)

Abdullah ditetapkan tersangka karena perbuatanya merugikan uang negara senilai Rp 7,2 Miliar. Perbuatan tersangka bertentangan dengan ketentuan pasal 8 ayat 2 uu no.1 2004 tentang perbendaharaan negara.

Adapun kasus menyeret tersangka, bermula pada tahun 2016 BPKAD Mamuju mendapat kucuran dana bansos yang tidak direncanakan dari APBD dengan pagu Rp 23,5 Miliar.

Terpidana Ayyub yang lebih dulu menjalani proses hukum memerintahkan bendahara Abdullah untuk menerbitkan proposal penyediaan dana sebanyak tujuh kali.

Sehingga terbit SP2D dengan total pencairan Rp 8,2 Miliar dari seluruh kucuran dana tersebut.

Terpidana Ayyub kemudian memerintahkan kembali Abdullah untuk mencairkan dana sebesar Rp 239 juta bagi penerima bantuan.

Sedangkan sisanya Rp 7,2 Miliar digunakan terpidana untuk keperluan pribadi. (*)

Penulis: Hasan Basri
Editor: Anita Kusuma Wardana
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help