TribunTimur/
Home »

Opini

OPINI

Jika Media Sosial Diblokir di Indonesia

Di Indonesia potensi perubahan budaya akan hadirnya media sosial sudah terlihat jelas saat ini

Jika Media Sosial Diblokir di Indonesia
ist
Qudratullah Rustam, S.Sos 

Oleh: Qudratullah Rustam, S.Sos.
Mahasiswa Program Magister Dakwah dan Komunikasi
UIN Alauddin Makassar

KEMUNCULAN media sosial banyak memberikan pengaruh terhadap kehidupan sosial masyarakat. Adanya media sosial menjadika pola perilaku masyararakat berubah atau bergeser dari segi etika, budaya dan norma.

Di Indonesia potensi perubahan budaya akan hadirnya media sosial sudah terlihat jelas saat ini. Beragamnya suku ras, dan agama yang ada di Indonesia tidak menjadi penghalang media sosial dalam mengubah pola perilaku masyarakat Indonesia. Dari sisi positif, media idealnya dijadikan sebagai alat dalam melakukan interaksi dengan orang lain.

Seperti pengertian media sosial menurut  Chris Garrett yang menyatakan bahwa media sosial merupakan alat, jasa, dan yang memfasilitasi hubungan antara orang dengan satu sama lain dan memiliki kepentingan atau kepentingan yang sama. Namun bertolak belakang dengan yang terjadi saat ini, media sosial banyak disalah gunakan seseorang dan pihak lain.

Salah satu contohnya dengan maraknya akun-akun penebar hate speech  di media sosial seperti Facebook.  Banyak informasi yang berisikan hoax terpampang nyata di Facebook oleh ulah para pengguna yang meng-share informasi tersebut tanpa memeriksa secara teliti informasi yang diperolehnya.

Hal tersebut merupakan bias dari kurangnya minat baca masyarakat Indonesia. Terbukti, Lembaga United Nations Educational,
Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) pernah merilis hasil survei terhadap minat baca di 61 negara yang menyebitkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001% atau menempati terendah kedua
dari 61 negara yang disurvei.

Sangatlah disayangkan mengingat menurut Kementeria Komunikasi dan Informatika, pengguna internet di Indonesia
sebanyak 63 juta orang yang 95 persennya mengakses media sosial. Melalui situs www.kominfo.go.id,  Direktur Pelayanan Informasi Internasional Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) , Selamatta Sembiring mengatakan,  situs jejaring sosial yang paling banyak diakses adalah Facebook dan Twitter. Indonesia menempati peringkat 4 pengguna Facebook terbesar setelah USA, Brazil, dan India.

Masih menjadi isu yang hangat, beberapa media sosial di Indonesia bahkan terancam diblokir. Di antaranya adalah Facebook yang merupakan media sosial yang banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia. Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengancam akan menutup akses sejumlah platform media sosial asing yang beroperasi di Indonesia jika tidak mau bekerja sama dengan pemerintah Indonesia untuk menangkal konten-konten berbau fake news, dan radikalisme baik dalam bentuk foto, tulisan, hingga video.

Beberapa negara juga telah memblokir Facebook yang merupakan media sosial populer, di antaranya China yang memboblokir Facebook sejak Juli 2009, Iran yang blokir Facebook sejak 2009, Mesir yang blokir Facebook sejak 2010 serta Korea Utara. Ini menjadi berita yang mengejutkan dari para pengguna media sosial terutama Facebook, You Tube dan Twitter yang menganggap media sosial
tersebut menjadi alat hiburan alat komunikasi yang mudah, praktis dancepat. Pengguna media sosial akan merasakan interaksi sosialnya akan semakin sempit.

Padahal kenyataannya, keberadaan media sosial selama ini justru mendekatkan kehidupan maya dan menjauhkan kehidupan sosial
(nyata). Ini merupakan efek ketergantungan terhadap media sosial. Tak hanya para pengguna yang sekadar menggunakan media sosial sebagai hiburan dan alat komunikasi praktis, pengguna yang memanfaatkan media sosial sebagai lahan  bisnis juga akan merasakan efek besar jika media  sosial benar-benar diblokir di Indonesia. Lahan pendapatan para pebisnis online juga berdampak pada pemblokiran media sosial.

Kemudian, para selebriti media sosial juga akan kekurangan pekerjaannya sebagai pihak yang kerap mendapatkan pundi-pundi rupiah melalui endrorsement yang dilakukannya. Tidak berhenti di situ saja, pemblokiran media sosial juga akan berpengaruh terhadap pemasaran dan kampanye politik yang banyak dilakukan para politisi di media sosial. Politisi banyak memberikan kesan baik untuk menanamkan citranya kepada masyarakat melaui media sosial Apa yang dilakukan oleh politisi tersebut terbilang mudah dan murah sehingga tidak memerlukan banyak rogohan kocek yang dalam dalam mengkampanyekan dirinya.

Terlalu banyak perubahan yang telah diberikan media massa terhadap kehidupan masyarakat. Pemblokiran media sosial di Indonesia juga akan berdampak terhadap pemilik media sosial seperti Facebook, Mark Zuckerberg. Bisa saja kerugian dari segi pendapatan karena akses pengguna Facebook yang berkurang.

Sejauh ini, banyak dampak yang telah ditimbulkan media sosial dalam kehidupan masayarakat. Terlebih dengan banyaknya informasi yang kurang benar yang banyak disebar para pengguna media massa sebelum diteliti kebenarannya. Intinya, pemberdayaan masyarakat perlu dilakukan sehingga masyarakat sadar akan literasi media. Membiarkan media sosial makin berkembang pastinya akan menimbulkan banyak dampak pula, sama saja ketika memblokir media sosial akan memberikan dampak pula dalam kehidupan sehari-hari.(*)

Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help