TribunTimur/
Home »

Gowa

VIDEO ON DEMAND

Begini Nasib Sesepuh Gunung Bawakaraeng 3 Pekan Usai Lebaran Idul Fitri

Selain Tata Mandong, para komunitas pendaki juga mengenal mendiang Tata Rasyid.

Namun baru dievakuasi komunitas pecinta alam dan warga 3 Juli 2017. "Waktu di Puskemas Tinggi Moncong sempat membaik, tapi kini semakin lemas," ujarnya.

Selain Tata Mandong, para komunitas pendaki juga mengenal mendiang Tata Rasyid. Awal Maret 2017 lalu,  warga Dusun Lembanna di lereng Gunung Bawakaraeng,  Gowa, Sulawesi Selatan ini, meninggal dunia  Senin (13/3/20170 malam.

Tata Rasyid ( pakai ikat kepala) berfoto bersama para pendaki di Pos 9 Gunung Bawakaraeng.
Tata Rasyid ( pakai ikat kepala) berfoto bersama para pendaki di Pos 9 Gunung Bawakaraeng. (TRIBUN TIMUR/WA ODE NURMIN)

Baca: Tata Rasyid, Bapak dan Guru Bagi Semua Pendaki Sulsel

Jika Tata Mandong dikenal sebagai Juru Kunci Bawakaraeng, makapenjaga Gunung Bawakareng itu telah tiada. Tata dijuluki sebagai 'Bapak Penolong' oleh para pendaki yang kerap mampir di rumahnya. Usia Tata diperkirakan sekitar 70-an tahun. Dia merupakan

Empat dekade terakhir, Tata Mandong amat mashur di komunitas pecinta alam.
jasa dan kebaikannya membantu para penyitas muda untuk menempuh dan memilih jalur pendakian dari "Lembah "peristirahatan pendaki" Ramma ke puncak Bawakaraeng dan Lompobattang, selalu jadi cerita dan dikenang para pendaki.

Seorang pendaki dan penulis blog traveler, Muhammad Dagri Nizar, menggambarkan, Tata Mandong tinggal 'menyendiri' di sebuah rumah yang laiknya pos ronda.
"Kalau pos ronda ada lampunya di malam hari, rumah Tata Mandong ini hanya pelita minya, dan cahaya bulan,".

Tata Mandong
Tata Mandong (courtesy; mongabay.co.id)

Tata sudah bermukim di Lembah berdanau ini sejak awal dekade 1980-an. Banyak warga yang mempercainya menjadi penjaga ternak sapi.
Di dekade 1990-an, dia pernah menjadi buruh kontrak otoritas kehutanan pemerintah daerah untuk menanam bibit pohon hutan, di sekitar lembah, dan pegunungan.
Saat longsor di Lengkese, kaki gunung Bawakaraeng di timur, bersama warga lain, dia digaji Rp150 ribu sebulan untuk menyisir tebing dan lembah menanam bibit.

Pria asal pedalaman Jeneponto ini, sejatinya tak sendiri. Dia memiliki istri, Haniah dan seorang anak, Fatimah.

Namun, sejak akhir tahun 1980-an, istri dan putri semata wayangnya memilih tinggal dan menetap di Malino, sekitar 3 jam perjalanan kaki dari Ramma.

Penulis: Waode Nurmin
Editor: Thamzil Thahir
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help