TribunTimur/

Nenek di Pangkep Ini Sebatangkara di Gubuk Tak Layak, Hidup Dari Belas Kasih Tetangga

Sepeninggal suaminya diapun berpindah-pindah dan mendirikan gubuk dari gamacca berukuran 2x2 meter.

Nenek di Pangkep Ini Sebatangkara di Gubuk Tak Layak, Hidup Dari Belas Kasih Tetangga
munjiyah/tribunpangkep.com
Nenek Pati (80), sebatangkara di gubuknya. 

TRIBUNPANGKEP.COM, MA'RANG - Nenek Pati (80), tinggal di Kelurahan Marang, Kecamatan Marang, Kabupaten Pangkep, Sulsel, butuh uluran tangan dermawan.

Hidup sebatangkara di gubuk tuanya, dia sendirian.

Kedinginan dan sering kelaparan.

Suami dan anak semata wayangnya meninggal puluhan tahun lalu.

Sepeninggal suaminya, diapun berpindah-pindah dan mendirikan gubuk dari gamacca berukuran 2x2 meter.

Di dalam rumahnya hanya ada perabot seadanya, panci yang sudah menghitam.

Kasur lusuh yang dekil hingga jemuran pakaian yang tergantung sembarangan.

Semua aktivitas Pati dilakukan di gubuk tersebut termasuk melaksanakan salat 5 waktu, makan hingga mandi dikerjakan sendiri.

Wajah renta Pati begitu jelas. 

Guratan kesedihan terpancar dari raut wajahnya yang hitam legam.

Tiap hari Pati hanya mengandalkan tetangga yang berbaik hati memberinya beras.

"Tetangga saya ada yang baik biasa kasika beras. Tapi selama saya ada di Pangkep warga disini belumpa pernah dikasi bantuan raskin sama pemerintah. Mungkin karena tidak terdataka'," kata Pati menahan tangis.

Selain butuh raskin dan bahan pangan yang cukup. Nenek renta tersebut juga membutuhkan bantuan rumah.

"Kalau hujan biasa basahka, jadi saya biasa numpang di rumah tetangga. Mau diapa nak saya berharap pemerintah Pangkep bisa lirik keadaan saya,"ujarnya.

Nenek renta ini juga butuh uluran tangan para dermawan yang ada di Sulawesi Selatan.

Penulis: Munjiyah Dirga Ghazali
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help