Rakyat Takalar Berjuang Sendiri Lawan Penambang Asing, Mereka Dilanda Abrasi, Jeneponto Pun Kena
Para nelayan Galesong tak bersenjata laiknya angkatan bersenjata, mereka hanya berarmada perahu tradisional.
TRIBUN-TIMUR.COM- Kini rakyat Kabupaten Takalar Sulawesi Selatan harus berjuang sendiri melawan penambang pasir asing, kapal penambang perusahaan raksasa Boskalis Belanda.
Operasi kapal negeri oranye itu membuat nelayan terganggu mencari ikan.
Tak hanya itu, pantai Takalar dilanda abrasi tak bertepian, rumah mereka pun terancam sirna.
Baca juga: Abrasi Pantai, 4 Rumah Warga Galesong Terancam Rubuh
![Sedikitnya empat rumah di pesisir pantai di Dusun Kanaeng, Desa Bontokanang, Kecamatan Galesong Selatan, Takalar, terancam roboh karena abrasi, Selasa (27/12/2016). [Reni Kamaruddin/Tribuntakalar.com]](http://cdn2.tstatic.net/makassar/foto/bank/images/abrasi-takalar_20161227_155006.jpg)
Kabupaten tetangga Takalar, Jeneponto juga ketiban celakanya.
Baca: Warga Desa Bontoujung Jeneponto Diresahkan Abrasi Pantai
![Abrasi pantai Desa Bonto Ujung, Kecamatan Tarowang, Kabuoatrn Jeneponto, Rabu (26/10/2016).[Muslimin Emba/tribunjeneponto.com]](http://cdn2.tstatic.net/makassar/foto/bank/images/abrasi-pantai_20161026_133401.jpg)
Untuk kesekian kali, Selasa (9/5/2017), nelayan di perairan Galesong Takalar bersatu mengepung dan mengusir paksa kapal tersebut.
Bak performa perang melawan kolonial tempo dulu, bambu runcing vs tank.
Para nelayan Galesong tak bersenjata laiknya angkatan bersenjata, mereka hanya berarmada perahu tradisional.
Mereka mengepung dan menggeledah kapal sebelum akhirnya kapten kapal bersedia meninggalkan lokasi guna menghindari amukan para nelayan.
Aksi penyerangan KM Bulan yang tengah melakukan penambangan pasir di Perairan Gelesong oleh puluhan nelayan Desa Bontomarannu, Kecamatan Galesong Selatan, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, ini terjadi pada pukul 09.00 Wita.

Para nelayan mengaku kesal dengan aksi penambangan pasir secara ilegal lantaran khawatir terjadi abrasi di lepas pantai serta mengganggu aktivitas pencarian ikan nelayan setempat.

"Pastinya akan terjadi abrasi dan kami juga terganggu mencari ikan," kata Dunial Maulana, kepala Desa Bontomarannu.
Sebelumnya, para nelayan berkumpul di lepas Pantai Galesong untuk menyerang KM Bulan yang berjarak satu jam perjalanan laut dari lepas pantai.

Dengan menggunakan empat perahu tradisional, para nelayan langsung mengepung dan menduduki KM Bulan. Tak hanya itu, para nelayan juga menggeledah kapal guna mencari kapten kapal.