TribunTimur/
Home »

Opini

Opini: "Islam, Yes - Partai+ormas Islam, No!"

Cak Nur datang menegaskan bahwa Islam tidak identik dengan partai Islam! Berpolitik dan berpartai bukan-Islam, bukan dosa.

Opini:
dok.tribun
Opini M Qasim Mathar di Tribun Timur cetak edisi Kamis, 11 Mei 2017, halaman 18 

M Qasim Mathar
Guru Besar UIN Alauddin

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Judul  di atas adalah pernyataan yang disampaikan oleh Cak Nur (Nurcholish Madjid, almarhum), dalam pidatonya di Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jakarta, pada tahun 1970, saat ia menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI). Bagi Cak Nur, Islam sebagai wahyu dari Allah diletakkan di atas yang lainnya.

Sebagai wahyu Allah, Islam adalah kebenaran mutlak. Adapun partai, ia bukan wahyu. Partai adalah buatan manusia, tak terkecuali partai Islam. Karenanya, tak layak menyejajarkan Islam dengan partai Islam.

Sebagai kebenaran mutlak, Islam bisa dipahami dengan memahami Alquran, sebagai bentuk tertulis dari wahyu Islam. Dalam masa kerasulannya, Nabi Muhammad menjelaskan wahyu Islam yang ia terima. Penjelasan Nabi itu, bisa berupa ucapan, perbuatan, dan sikap. Ucapan, perbuatan, dan sikap Nabi dalam rangka menjelaskan Islam, disebut dengan hadis. Biasa juga disebut sunnah.

Dengan membaca dan memahami Al Quran, dan juga hadis atau sunnah, serta sejarah Islam dan sebagainya, orang Muslim memahami dan mempraktikkan Islam.

Tentu saja pemahaman dan praktik keislaman itu bisa berbeda antara orang Muslim yang satu dengan orang Muslim lainnya. Tingkat perbedaan itu disebabkan oleh perbedaan ilmu pengetahuan/pendidikan, lingkungan hidup, waktu dan tempat, dan sebagainya.

Sebagai wahyu, Al Quran mengandung kebenaran yang bertingkat-tingkat. Semakin baik kualitas seseorang, maka semakin tinggi tingkat kebenaran (petunjuk) Islam yang bisa diraih dari Alquran.

Ringkasnya, Islam membawa kebenaran mutlak. Sebagai kebenaran mutlak, Islam memiliki petunjuk yang berlapis dan bertingkat. Ilmu pengetahuan seseorang menjadi sangat penting guna menyusuri petunjuk Islam yang berlapis dan bertingkat itu.

Partai Islam menjadikan Islam sebagai asas partai dan perjuangan. Tujuannya juga biasa disebut "untuk meninggikan kalimat Allah". Partai Islam, pada masa Cak Nur, juga menyiratkan keinginan untuk menegakkan syariat Islam menurut versi pemahaman partai Islam.

Karena perjuangan partai Islam yang demikian, terutama pada masa Orde Lama, yang berakhir pada 1966, sampai masa Cak Nur menyampaikan pernyataannya tersebut di atas, yakni di awal masa Orde Baru, partai Islam dipandang identik dengan Islam.

Halaman
12
Editor: AS Kambie
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help