TribunTimur/
Home »

Opini

Cyber Speach dan Masa Depan Pendidikan Indonesia

sistem geogle menjadi budaya baru pendidikan saat ini untuk giat melakukan copypaste bahan perkuliahan, sehingga....

Cyber Speach dan Masa Depan  Pendidikan Indonesia
dok.tribun
Cuplikan opini Aswar Annas di Tribun Timur cetak edisi Sabtu, 6 Mei 2017, halaman 15 

Aswar Annas
Aktivis HMI Cabang Gowa Raya

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Untuk menjadi negara yang maju, Indonesia perlu memperhatikan pendidikan unggul. Tidak ada pilihan lain selain melirik variabel pendidikan. Memperhatikan pendidikan Indonesia bukan hanya menyangkut nilai, norma, budaya, skill, karakter, tetapi lebih pada pengendalian moral antara tenaga didik dan anak didik.

Keunggulan pendidikan dapat diukur melalui fakta. Apakah dia memiliki strategi pengembangan atau tidak? Misalnya, cukup banyak tenaga pendidik saat ini tidak memperhatikan kondisi anak didik, lingkungan, sistem kurikulum, dan metodelogi ajaran sebagai pondasi kemajuan pendidikan.

Alhasil kualitas anak didik yang keluar dari pendidikan formal sangat sulit mengembangkan prilaku keteladanan maupun multiterampil. Sinergitas anak didik dan tenaga didik harus menjadi prioritas utama guna menciptakan situasi kondusif dan harmonis dalam memahami eksistensi pendidikan. Rasa keteladanan sosial serta kepatuhan terhadap norma harus merealita tanpa menghadirkan keterbatasan pada integrasi sosial sekelilingnya agar tidak melahirkan pendidikan-ficking.

Secara klausal, sekolah memiliki arti dari bahasa latin Scola atau Scolae (waktu senggang atau waktu luang) memiliki makna secara umum sebuah lokasi dalam merealisasikan diri untuk beraktivitas serta berimprovisasi dengan memahami banyak hal (Mudyahardjo, 2001).
Terkait Indonesia, kemajuan dan terbentuknya budaya pendidikan Indonesia diprakarsai oleh Ki Hadjar Dewantara di Kota Yogyakarta tahun 1922. Beliau membentuk Taman Siswa sebagai wujud refleksi dan keprihatinan melihat kondisi generasi bangsa saat itu.

Sekolah tersebut mengemban konsep primordial di kenal tiga semboyan mendasar pendidikan Indonesia (Patrap Triloka). Pertama, yang didepan memberikan teladan (Iing Ngarsa Sung Tulada), Kedua, yang ditengan membangun kemauan/inisiatif (Ing Madia Mangun Karsa). Ketiga, dari belakang mendukung (Tut Wuri Handayani).

Dari ketiga pedoman tersebut ternyata pendidikan Indonesia sangat identik dengan konsep prikemanusiaan yaitu saling memajukan, menjaga, merawat, dan membesarkan. Namun untuk saat ini pendidikan seolah-olah terpandang sebagai dunia kekakuan, dunia krimilitas, dunia pemerasan (pungli), dunia instanisasi serta dunia yang penuh dengan pertentangan.

Menurut rilis Mendikbud tahun 2017 melalui data International Center For Research On Women (ICRW) angka kekerasan dalam intansi pendidikan baik segi fisik maupun pelecehan seksual berpersentase 85% pelajar Indonesia mengaku pernah mengalami kekerasan disekolah, sebanyak 45% pelajar laki-laki menyebut bahwa guru atau petugas sekolah merupakan pelaku kekerasan, adapun 22% pelajar perempuan menyebutkan bahwa guru dan petugas sekolah merupakan pelaku kekerasan, selain itu 75% pelajar mengakui pernah melakukan kekerasan di sekolah. Serta 50% anak didik mengaku pernah mengalami perundungan atau Bullying di sekolah adapun 40% perundungan tersebut terhadap pelajar perempuan.

Pengaruh Cyber
Dalam era cyber speach, kehadiran teknologi sesuatu hal yang sangat sulit untuk dikesampingkan dan ditolak. Zaman kebebasan sekarang ini teknologi telah menjadi sebuah elemen penting dan sangat berpengaruh di setiap sel-sel kehidupan hingga menjamur pada instansi pendidikan. Pada akhirnya kehadiran teknologi tidak dijadikan sebagai alat yang berkontribusi rill bagi pelaku pendidikan, malah melahirkan sistem kebablasan, kewalahan, dan mematikan nalar kritis tenaga pendidik dan anak didik.

Secara kefaktaan pengaruh teknologi cukup klimaks dan kompleks mempengaruhi dunia pendidikan saat ini. Ditambah lagi kehadiran gadget dalam mempermudah men-search segala bentuk kebutuhan pendidikan telah menjadi jurus ampuh pelaku pendidikan menemukan kebutuhan akademik. Peran teknologi telah menyempurnakan permasalahan pendidikan saat ini, misalnnya. Pertama teknologi telah menciptakan karakter instanisasi diantara anak didik dan tenaga pendidik.

Halaman
12
Editor: AS Kambie
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help