TribunTimur/
Home »

Opini

Pilpres Perancis: Antara Kiri Tengah dan Ekstrim Kanan (1)

Ideologinya yang sangat Xenophobia, Islamophobia, antiimigran, antiglobalisasi, anti-Uni Eropa dan anti-semitis menyebabkab ia disebut ekstrim kanan..

Pilpres Perancis: Antara Kiri Tengah dan Ekstrim Kanan (1)
dok.tribun
Opini Sawedi Muhammad di Tribun Cetak Edisi, Kamis (4/5/2017) halaman 18 

Oleh
Sawedi Muhammad
Dosen Sosiologi, Fisip Unhas

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Pilpres Perancis putaran pertama tanggal 22 April 2017 telah menghasilkan dua kandidat yang akan bertarung di putaran kedua tanggal 7 Mei mendatang. Dari sebelas kandidat yang bertarung di putaran pertama, tak satu pun yang mendapatkan suara di atas 50%.

Adalah Emmanuèl Macron (En Marchè) dengan pemilih 23,9% dan Mariè Le Pen (Front National) dengan 21,5%. Pemilihan presiden kali ini menjadi sangat bersejarah karena dua hal. Pertama, kedua kandidat mengalahkan calon presiden dari partai Sosialis dan partai Republikan yang telah mendominasi pemerintahan selama beberapa dekade. Kedua, jika Macron (39 tahun) yang terpilih maka ia akan menjadi presiden Perancis termuda dalam sejarah. Apabila Le Peng (48 tahun) yang menang, maka ia akan tercatat sebagai presiden perempuan pertama dalam sejarah Perancis. Siapakah figur Emmanuel Macron dan Mariè Le Pen yang menaklukkan kandidat sayap kiri dan kanan tengah itu? Ideologi apa yang diusung keduanya?

Macron (En Marchè)
Bagi penulis politik March Endeweld, Macron membuat banyak orang terkesima. Perancis adalah negara yang sistem politiknya dikuasai oleh politisi tua yang kaya raya (gerontocratic-plutocrazy). Kehadiran Macron yang baru berumur 39 tahun dan memiliki peluang besar untuk menjadi presiden, sungguh sesuatu yang tak dapat dipercaya. Pernyaataan tersebut bukannya tanpa alasan.

Macron baru mengenal dunia politik setelah presiden Hollande mendapuknya sebagai menteri perekonomian tahun 2014. Mantan bankir di perusahaan Rotschild ini kemudian melihat peluang untuk mencalonkan diri sebagai presiden di akhir 2016 lewat gerakan yang dinamainya “En March” atau “Ayo Bergerak”. Meski baru beberapa tahun mengenal politik, alumni sekolah bergengsi Lycee Henri IV dan the Ecole Nationale d’Administration ini tampil sangat meyakinkan. Alaine Mine, penasihat politiknya mengatakan, “Hanya dalam beberapa bulan ia tumbuh dari anak-anak menjadi remaja, kemudian menjadi dewasa”. Mine menambahkan bahwa “Macron ibarat seekor kucing.

Meski ia dibuang keluar jendela, ia akan mampu berdiri dengan kedua kakinya”. Macron adalah sosok yang tidak biasa. Ia menikahi mantan guru teaternya, Brigitte Trognèux yang 25 tahun lebih tua darinya. Ia jatuh cinta dengan gurunya saat masih berusia 15 tahun dan menikahinya di tahun 2007 saat Trognèux berusia 54 tahun dan Macron 29 tahun. Penulis biografinya Anne Furla mengatakan, “Macron ingin menunjukkan bahwa jika ia mampu menaklukkan seorang wanita yang usianya 25 tahun lebih tua darinya dengan tiga anak, di sebuah propinsi kecil; meski dihina dan dicerca, ia akan menaklukkan Perancis dengan cara yang sama”.

Ideologi Center-Left
Macron dikenal publik dengan slogan “We” yang meniru gaya kampanye Obama tahun 1998, “Yes We Can”. Macron dengan lantang menyebut ideologinya sebagai bukan kiri dan bukan kanan (neither right nor left). Ia berkeyakinan bahwa terdapat sayap sosial demokrat di partai sosialis tetapi lebih percaya terhadap kekuatan pasar. Menurut Alain Mine, Macron adalah seorang “Blairist”, ia adalah pengikut Tony Blaire.

Bagi Macron, politik di Perancis hari ini bukanlah pertarungan antara ideologi kiri dan kanan, tetapi antara proteksionisme dan globalisasi. Selama kampanye, Macron menekankan pentingnya kualitas sumber daya manusia agar dapat berkompetisi di pasar global, memperkuat kerjasama dengan Uni Eropa dan mempererat integrasi diantara negara- di benua Eropa.

Macron juga berjanji untuk mengalokasikan 50 milyar euro untuk investasi publik agar menyerap tenaga kerja, serta prioritas untuk mengembangkan energi terbarukan. Ia juga bertekad untuk memangkas 120 ribu pekerja di sektor publik dan mengurangi defisit anggaran, memotong pajak korporasi dari 33% menjadi 25% dan memberi keleluasaan bagi pengusaha untuk negosiasi 35 jam kerja dalam seminggu.

Marinè Le Pen (France First)
Bagi publik Perancis, Le Pen adalah figur yang kontroversil. Tidak seperti Macron yang independen, ia adalah ketua partai Front National (FN) yang dijabatnya sejak januari 2011. Ketua partai diwarisi dari ayahnya Jane-Marie Le Pen yang sekaligus sebagai pendiri FN. Dari ayahnyalah ia mewarisi politik rasisme dan fasisme.

Ideologinya yang sangat Xenophobia, Islamophobia, antiimigran, antiglobalisasi, anti-Uni Eropa dan anti-semitis menyebabkab ia disebut ekstrim kanan. Karenanya, FN adalah partai ultra-nationalist, Populisme Xenophobia atau nationalist ethnocentrism. Tidak seperti Macron yang pro globalisasi dan integrasi dengan Uni Eropa, platform FN adalah anti-globalisasi (proteksionisme) dan menghendaki agar Perancis keluar dari Uni Eropa (Frexit). Pada tahun 2010, sebelum menjabat sebagai ketua FN, Le Pen pernah menyatakan bahwa Muslim yang sholat di jalanan sama dengan barisan tentara Nazi saat okupasi. Ia juga menjanjikan untuk menghentikan seluruh program imigrasi legal.
Sebagai politisi kawakan, pengacara yang terlatih, Le Pen terpilih sebagai anggota Parlemen Uni Eropa tahun 2004, mewakili wilayah Barat dan Utara Perancis. Pada tahun 2015, Majalah Times memilihnya sebagai salah satu dari 100 orang paling berpengaruh di dunia.

Populisme Xenophobia
Menurut Bertrand Garbinti dan Jonathan Goupille-Lebret, Perancis telah memasuki batas akhir dari mitos egalitarianisme. Antara tahun 1983-2015, rata-rata pendapatan 1% orang terkaya meningkat 100%, dibandingkan dengan 25% dari seluruh penduduk (kurang dari 1%/tahun). Orang terkaya 1% juga menghisap 21% dari total pertumbuhan, dibandingkan dengan 20% untuk 50% populasi termiskin. Thomas Piketty, ekonom ternama Perancis menyatakan bahwa ketimpangan ini adalah masalah yang sangat mendesak.

Menurutnya, globalisasi harus direorientasi secara mendasar. Tantangan terbesarnya adalah meningkatnya kesenjangan dan semakin memburuknya pemanasan global. Solusinya menurut Piketty adalah pembangunan yang adil dan berkelanjutan. Senada dengan Piketty, The Guardian, November 2016 menegaskan bahwa sudah saatnya merubah diskursus politik tentang globalisasi.(*)
Paris, 2 Mei 2017.

Editor: AS Kambie
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help