Hari Kartini 2017

Dirikan KSM Lipang Bajeng di Takalar, Satmawati Sulap Sampah Jadi Barang Kerajinan

Hasil olahan sampah tersebut berupa kompos kemudian dijual untuk membayar gaji karyawannya.

Dirikan KSM Lipang Bajeng di Takalar, Satmawati Sulap Sampah Jadi Barang Kerajinan - sampah-takalar_20170419_191206.jpg
Reni Kamaruddin/tribuntakalar.com
Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Lipang Bajeng di Kelurahan Bajeng, Kecamatan Pattalassang, Takalar, Sulsel, menyulap limbah rumah tangga menjadi seusatu yang bernilai ekonomis.
Dirikan KSM Lipang Bajeng di Takalar, Satmawati Sulap Sampah Jadi Barang Kerajinan - sampah-takalar_20170419_191700.jpg
Reni Kamaruddin/tribuntakalar.com
Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Lipang Bajeng di Kelurahan Bajeng, Kecamatan Pattalassang, Takalar, Sulsel, menyulap limbah rumah tangga menjadi seusatu yang bernilai ekonomis.

TRIBUNTAKALAR.COM, PATTALASSANG - Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Lipang Bajeng di Kelurahan Bajeng, Kecamatan Pattalassang, Takalar, Sulsel, menyulap limbah rumah tangga menjadi seusatu yang bernilai ekonomis.

Kelompok ini mulai berdiri sejak Januari 2016 itu diinisiasi seorang perempuan bernama Satmawati.

Bersama sejumlah ibu rumah tangga lainnya, Satmawati mengolah sampah non ekonomis menjadi sampah bernilai ekonomis tinggi.

Sebagai perempuan, Ia tidak ingin tinggal diam menunggu pemberian uang belanja bulanan dari suami.

"Ini tujuan awalnya untuk mendorong ibu rumah tangga memanfaatkan sampah rumahan, yang dilakukan selama beberapa waktu, seiring waktu berjalan kami mendapat bantuan pemerintah pusat," kata Satma kepada TribunTakalar.com, Rabu (19/4/2017).

Baca: Pegawai Disdukcapil Takalar Jadi Saksi Bur-Nojeng di MK

Hasil olahan sampah tersebut berupa kompos kemudian dijual untuk membayar gaji karyawannya.

Meski terbilang baru setahun menjadi Ketua KSM Lipang Bajeng, Satma saat ini sudah memiliki sembilan karyawan.

Pengurus KSM sebanyak tiga orang, pemilah sampah dua orang, penjemput sampah ke rumah warga dua orang, dan penagih iuran setiap bulan dua orang.

Baca: 18 Tahun Geluti Budidaya Sarang Walet di Takalar, Haji Noor Belum Nikmati Untung

Perempuan kelahiran Takalar, 25 Mei 1979 itu berharap dalam momentum peringatan Hari Kartini, perempuan lain tidak hanya identik dengan rutinitas rumah tangga.

Selain mengolah sampah organik, Satmawati juga mulai mengolah sampah non organik untuk dijadikan hiasan dan dijual.(*)

Penulis: Reni Kamaruddin
Editor: Mahyuddin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help