TribunTimur/

UIM Akan Buka Program Studi Bahasa Isyarat

Namun sebelum pembukaan Prodi tersebut UIM akan terlebih dahulu membuka Pusat Studi Bahasa Isyarat

UIM Akan Buka Program Studi Bahasa Isyarat
HANDOVER
Universitas Islam Makassar (UIM) kerjasama dengan Special Olympics Indonesia (SOIna) Sulawesi Selatan gelar Workshop di Auditorium KH Muhyiddin Zain UIM, Selasa (21/3/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Timur Hasrul

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR -Universiras Islam Makassar (UIM) akan membuka Program Studi (Prodi) Bahasa Isyarat sebagai upaya untuk menyediakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas bagi penyandang disabilitas.

Rencana tersebut disampaikan Rektor UIM, Dr Ir A Majdah M Zain MSi setelah menyampaikan materi di hadapan ratusan penyandang disabilitas pada Workshop tentang Disabilitas di Auditorium KH Muhyiddin Zain UIM, Selasa (21/3/2017).

Majdah mengatakan pemerintah tidak cukup dengan hanya menyediakan fasilitas bagi penyandang disabilitas di tempat umum harus ada pendamping yang tahu dan paham berkomunikasi dengan mereka.

Pembukaan Prodi Bahasa Isyarat tersebut bertujuan untuk mendidik orang-orang agar bisa menggunakan Bahasa Isyarat dengan baik sehingga kedepan bisa berkomunikasi dengan baik pula kepada para penyandang disabilitas.

Baca: Selain Orangtua, Majdah Nilai Penyandang Disabilitas Harus Didampingi Relawan

Namun sebelum pembukaan Prodi tersebut UIM akan terlebih dahulu membuka Pusat Studi Bahasa Isyarat di bawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) UIM tahun 2017 ini.

Pembukaan Pusat Kajian Bahasa Insyarat yang nantinya akan dikembangkan sebagai Prodi Bahasa Isyarat, UIM menggandeng Pusat Laboratorium Bahasa Insyarat Indonesia dan Harvard Law School-America.

"Kita ingin membantu para penyandang disabilitas, sehingga kita ingin mendidik orang-orang agar bisa paham dan tahu Bahasa Isyarat agar bisa berkomunikasi dengan mereka," kata Ketua SOIna Sulsel tersebut.

Baca: Penyandang Disabilitas Juga Bisa Bergelar Profesor

"Prodi ini nantinya bukan sarjana (S1) lebih kepada Pendidikan diploma III yang lebih banyak praktek karena lebih mengutamakan implementasi langsung," ungkap Majdah.

Majdah menambahkan dengan diresmikannya undangan-undang tentang disabilitas maka guru-guru juga harus tahu Bahasa Insyarat karena nantinya tidak ada lagi sekolah negeri yang menolak penyandang disabilitas.(*)

Penulis: Hasrul
Editor: Anita Kusuma Wardana
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help