Pungli Sewa Lods Pasar Pabaengbaeng

Pembangunan dan Sewa Lods Pasar Pabaengbaeng Tanpa Sepengetahuan PD Pasar

Penangkapan itu saat tim OTT Polda mendapatkan laporan dari beberapa pedagang yang mencurigasi adanya penjualan los dengan mark up.

Pembangunan dan Sewa Lods Pasar Pabaengbaeng Tanpa Sepengetahuan PD Pasar
TRIBUN TIMUR/HASAN BASRI
persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Makassar dalam kasus dugaan pungutan liar (Pungli) pembayaran sewa lods pasar Pabaeng-baeng, Selasa (28/02/2017) sore. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Sidang Kepala Pasar Pabaeng-baeng, Laisa A Mangong atas kasus dugaan pungutan liar (Pungli) pembayaran sewa lods pasar Pabaengbaeng digelar di Pengadilan Makassar dengan agenda mendengarkan keterangan saksi, Selasa (28/02/2017) sore.

Di hadapan hakim, saksi pegawai bagian perencanaan PD Pasar Raya Makassar, Yunita, mengatakan pembangunan lods di Pasar Pabaengbaeng tidak sesuai dengan prosedur.

Pasalnya, pembangunan dilaksanakan tanpa rekomendasi yang dikeluarkan oleh Dirut PD Pasar , bahkan sudah ada dipersewakan kepada pedagang dengan harga sebesar Rp 45 juta.

"Saya sempat bertanya kepada kepala pasar kenapa sudah ada pembangunan, sementara belum selesai proses administrasi dan perintah. Tapi kepala pasar saat itu hanya pusing tidak ada jawaban," kata Yunita.

Proses pembangunan lods diakui begitu cepat selesai, sebab saat mereka melakukan survey dilapangan dan pengukuran tanggal 22 Juli 2016 belum ada pembangunan.

Survey lokasi dilaksanakan bersama dengan Kepala Sub Bagian serta enam Staf PD Pasar Raya Makassar. Namun pada saat 25 Oktober nampak sudah ada pembangunan.

Selain Yunita, dalam persidangan juga menghadirkan seorang saksi dari Direktur Operasional PD Pasar Raya Makassar, Rahim Bustam.

Laisa disangkakan melakukan tindak pidana pungli berawal saat yang bersangkutan ditangkap dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) Rabu (27/10/2016) malam bulan lalu.

Penangkapan itu saat tim OTT Polda mendapatkan laporan dari beberapa pedagang yang mencurigasi adanya penjualan los dengan mark up.

Penyidik menemukan adanya penjualan los tidak sesuai karena pihak pasar mengadakan 30 unit los di pasar Pabaeng-baeng Timur dengan harga jual los Rp 2,250 Juta. Namun dijual oleh tersangka sebesar Rp 20 juta dan Rp 30 Juta.

Tersangka diakui penyidik sudah menyetor uang hasil penjualan los yang sudah laku sebanyak sembilan los  kePD Pasar. Tapi saat diselidiki, penyetoran itu tidak ada.

Selain itu, hasil penyelidikan menguat bahwa dari infrastruktur bangunan los juga dipakai rangka baja murah yang tentunya tidak sesuai dengan harga jual per unitnya Rp 20 hingga Rp 30 juta.(*)

Penulis: Hasan Basri
Editor: Ina Maharani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved