Perspektif

Rest In Paper

ebagian besar mahasiswa melakukan penelitian hanya untuk syarat kelulusan saja. Bahkan ada kampus yang membuka biro jasa resmi penyusunan skripsi.

Rest In Paper
TRIBUN TIMUR/SAKINAH SUDIN
Ketua Yayasan Kalla, Syamril 

Oleh: Syamril
Koordinator Umum Yayasan Kalla

Jusuf Kalla pernah mengatakan "banyak penelitian di Indonesia yang RIP (Rest In Paper)". Apa maksudnya? Mengapa bisa terjadi demikian? Mari kita cermati dunia penelitian di Indonesia.

Di kalangan mahasiswa S1, S2 dan S3 di masa akhir studi harus melakukan penelitian untuk membuat skripsi, tesis dan disertasi. Berbagai macam topik penelitian diangkat yang tujuannya memecahkan masalah yang ada.

Harapannya hasil penelitiannya akan bermanfaat dan diimplementasikan di kehidupan.

Namun kenyataannya tidak seperti itu. Sebagian besar mahasiswa melakukan penelitian hanya untuk syarat kelulusan saja. Sehingga topik yang diangkat pun asal ada.

Ada juga yang plagiat atau dibuatkan orang lain. Bahkan ada kampus yang membuka biro jasa resmi penyusunan skripsi.

Seorang teman bercerita saat masih kuliah di sebuah PTS ditelpon oleh pihak kampus untuk segera ikut ujian. Laporan hasil penelitian sudah jadi dan tinggal dibaca lalu ujian.

Padahal dia tidak pernah membuat penelitian. Setelah melewati drama ujian yang sudah diatur semuanya akhirnya dia pun dinyatakan lulus.

Akibatnya sebagian besar penelitian akhirnya hanya selesai di atas kertas. Kemudian diarsipkan di perpustakaan dan istirahatlah di kertas dengan tenang. Itulah Rest In Paper.

Apa dampak dari kondisi seperti itu? Lulusan yang dihasilkan kualitasnya sangat rendah. Apa yang dipelajarinya di kampus tidak dia kuasai teori dan aplikasinya.

Halaman
12
Editor: Jumadi Mappanganro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help