Mangkir, Kejari Makassar Layangkan Panggilan Kedua Tersangka Korupsi BrosurDiskominfo

IM merupakan salah satu dari dua tersangka yang ditetapkan Kejaksaan Negeri Makassar. Sebelumnya, penyidik menahan seorang rekanan berinisial J.

Mangkir, Kejari Makassar Layangkan Panggilan Kedua Tersangka Korupsi BrosurDiskominfo
tribun timur/muhammad abdiwan
Tim penyidik satua khusus pemberantasan korupsi Kejaksaan Negeri (Kejari) Makassar menggeledah Kantor Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (25/10/2016). Penggeledahan tersebut terkait kasus dugaan korupsi anggaran pengadaan brosur senilai Rp 2 miliar, yang melibatkan mantan kepala Diskominfo Kota Makassar, Ismunandar. tribun timur/muhammad abdiwan 

 TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Kejaksaan Negeri Makassar kembali melayangkan ulang pemanggilan terhadap tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan brosur di Dinas Komonikasi dan Informasi (Diskominfo) Makassar.

Dia adalah IM selaku mantan Kepala Dinas Kominfo Pemkot Makassar. Im sebelumnya mangkir dari panggilan  penyidik untuk menjalani pemeriksaan dua hari lalu tanpa ada alasan yang jelas.

"Jadi kami sudah layangkan panggilan kedua. Rencanya yang bersangkutan akan kami diperiksa Senin depan,"kata Kepala Seksi Pidana Khusus Kejari Makassar,  Sry Suryanti.

IM merupakan salah satu dari dua tersangka yang ditetapkan Kejaksaan Negeri Makassar. Sebelumnya, penyidik  menahan seorang rekanan berinisial J.

Penahahan J karena  dikhwatirkan akan melarikan diri dan menyembunyikan barang bukti, sehingga  dapat mengganggu proses penyidikan.

Pengusutan pengadaan brosur di Dinas Kominfo berawal adanya laporan yang diterima pihak Kejaksaan.

Proyek yang menghabiskan anggaran senilai Rp 2 Miliar diduga merugikan uang negara senilai Rp 800 juta lebih dari hasil perhitungan sementara tim independen Kejaksaan.

Kerugian itu terjadi lantaran pengadaan  brosur itu tidak berjalan dengan maksimal sesuai dengan perencaan Pemeritah Kota Makassar.

Hasil audit fisik tim ahli Grafika, proyek ini ditemukan ketidak sesuaian dengan perencanaan sebelumnya.

Penulis: Hasan Basri
Editor: Ina Maharani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help