Cerita Bahrum, 25 Tahun Berburu Lebah Madu di Hutan Bulukumba

Meski sudah PNS, Bahrum tak melupakan aktivitas berburu lebah. Sekali panen ia bisa mendapatkan penghasilan Rp 10 juta.

Cerita Bahrum, 25 Tahun Berburu Lebah Madu di Hutan Bulukumba
TRIBUN TIMUR/SYAMSUL BAHRI
Bahrum (50), warga Desa Salassae, Kecamatan Bulukumpa, Bulukumba,mulai berburu lebah sejak 25 tahun lalu. 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Syamsul Bahri

TRIBUN-TIMUR.COM, BULUKUMBA -Bahrum (50), warga Desa Salassae, Kecamatan Bulukumpa, Bulukumba,mulai berburu lebah sejak 25 tahun lalu.

Pekerjaan ini digelutinya saat masih muda dan sering berpetualangan di hutan. Saat itulah Bahrum banyak menemukan sarang lebah.

Madu yang dia dapatkan, dijual ke sejumlah pejabat di Bulukumba. Sambil berburu madu dia juga sempat sebagai tenaga honorer di kantor Desa Bontomangiring.

Karena sering membawakan madu sejumlah pejabat, namanya pun masuk sebagai tenaga honor yang diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebagai Sekretaris Desa di Bontomangiring.

Meski sudah PNS, Bahrum tak melupakan aktivitas berburu lebah. Sekali panen ia bisa mendapatkan penghasilan Rp 10 juta.

Tahun 2014 lalu, Bahrum bertemu dengan Prof Mappatoba, guru besar Unhas. Dari hasil diskusinya terungkap bahwa sarang lebah memiliki banyak manfaat, salah satunya bisa dibuat obat herbal propolis.

"Alhamudulillah semuanya usaha ini karena kehendak Allah. Segala sesuatu pasti atas izin-Nya. Yang penting manusia berusaha pasti ada jalan halal," kata Bahrum kepada Tribun Bulukumba, Rabu (3/8/2016). (*)

Penulis: Samsul Bahri
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help