TribunTimur/

Rio Haryanto Tidak Dianggap oleh Pebalap-pebalap Formula 1?

Dalam makan malam itu hampir semua pebalap F1 berkumpul dan saling akrab satu sama lain

Rio Haryanto Tidak Dianggap oleh Pebalap-pebalap Formula 1?
TRIBUNNEWS.COM
RIO HARYANTO 

Namun, sangat disayangkan, sebab Fox Sports telah melecehkan Rio Haryanto.

Terlihat secara kasat mata, bahwa Bendera Indonesia tidak ada di samping Rio.

Sebaliknya, rekan satu tim Rio di Manor Racing, yakni Pascal Wherlein, asal Jerman, oleh Fox Sports disematkan Bendera Jerman di sampingnya.

Duh, Fox Sports benar-benar keterlaluan; menganak-tirikan Rio Haryanto di ajang F1 musim ini.

Rio Haryanto Ungkap Strategi Timnya

Rio menulis sejarah di Formula 1, yakni mencapai garis finish untuk pertama kalinya di dunia balapan paling bergengsi.

Hal tersebut terjadi saat pembalap asal Surakarta ini melakoni balapan di Grand Prix Bahrain, Minggu (3/4/2016) malam.

Saat itu Rio bersama mobilnya MRT05 melahap 57 lap dengan tuntas, dan masuk pit stop sebanyak tiga kali, sama seperti pembalap yang lain.

"Sangat senang bisa melihat bendera finis berkibar.

Sangat baik bisa memiliki balapan ini di bawah kemudi saya yang mana akan jadi pengalaman berharga untuk saya dan juga tim.

Hasil ini akan memberi kami data untuk menganalisanya dan membangun mobil di masa depan," ucap Rio dikutip thecheckeredflag, seusai balapan tersebut.

Rio menjelaskan ada strategi berbeda yang timnya terapkan dalam balapan di Bahrain.

Salah satunya strategi memilih ban yang kemudian diikuti oleh pembalap yang lain.

"Kami memulai balapan dengan sangat baik di mana kami berada di antara Sauber dan Renault.

Tapi kami bisa menerapkan strategi berbeda. Kami juga menderita masalah degradasi ban yang sangat menghambat penampilan kami," imbuhnya.

Sekadar diketahui, ban yang ia terapkan dalam balapan ini adalah bertipe soft. Lalu, di pertengahan balapan dia mengganti dengan medium.

Strategi ini ternyata bisa mengantarnya ke garis finish.

Selain itu, strategi ini dapat membuatnya menggeber kecepatan mobilnya hingga menjadi yang tercepat di lap kelima.

Selanjutnya, Rio bertolak ke Tiongkok guna untuk melakoni seri balap ketiga pada 17 April mendatang.

"Shanghai adalah trek yang sudah saya kenal dengan baik. Saya berharap bisa membuat langkah maju di sana," katanya.

Ini Amalannya yang Jarang Diketahui

Sebagian besar mengenal Rio sebagai jagoan di lintasan balap saja.

Tak banyak yang tahu kehidupan pribadi lelaki ganteng ini termasuk aktivitas sosial dan keagamaannya.

Jiwa sosial Rio ternyata terbilang tinggi. Terbukti pria kelahiran Surakarta, 22 Januari 1993 ini memiliki sebuah Pondok Pesantren (Ponpes) dan panti asuhan yang terletak di Solo, Jawa Tengah.

"Sejak 2003, kakekku punya lahan di Solo. Awalnya membangun masjid, kemudian ada ide untuk mendirikan pondok pesantren dan panti asuhan," tutur Rio saat menjadi bintang tamu di salah satu stasiun televisi swasta, Jumat 12 Febuari 2016.

Dalam pondok pesantren itu, Rio mengatakan banyak kegiatan yang dapat bermanfaat untuk anak-anak yang tinggal di sana.

"Di sana ada fasilitas yang bisa dimanfaatkan anak-anak mulai dari Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar. Kami berusaha membantu agar potensi mereka bisa terasah. Ada kegiatan qasidah juga untuk remajanya, latihan setiap hari," ungkap Rio.

Putra pasangan Indah Pennywati dan Sinyo Haryanto ini berharap generasi muda berani untuk bercita-cita.

"Keinginan itu bisa menjadi dasar untuk berusaha agar bisa terwujud. Kuncinya disiplin, pantang menyerah dan selalu ingat sang Pencipta dan keluarga," harapnya.

Selain membangun tempat ibadah, Rio ternyata juga menjalankan ibadah dengan baik, salah satunya adalah salat Tahajud.

"Iya Tahajud setiap hari," ucap Rio Haryanto, saat ditanya wartawan apa yang dilakukannya sembari menunggu keputusan Manor terkait siapa pebalap yang dipilih untuk mendampingi Pascal Wehrlein pada musim depan, Kamis (11/2/2016).

Profil Rio

Rio Haryanto lahir di Solo, Jawa Tengah, 22 Januari 1993 (23 tahun).

Sebagai pembalap asal Indonesia pertama yang bisa membalap di level GP2, Rio memiliki basis pendukung yang sangat besar. Rio juga adalah pembalap Indonesia pertama dalam sejarah yang bisa menjajal mobil Formula Satu.

Ia juga disebut sebagai salah satu pembalap muda yang berpotensi menjadi wakil Asia di ajang Formula Satu pada masa depan.

Pada tahun 2011, Rio berpartisipasi di ajang GP3 Series bersama tim Marussia Manor Racing dan di seri Auto GP bersama tim Driot-Arnoux Motorsport (DAMS). Dia mengawali kariernya di balap gokart pada tahun 2002 dengan Juara Nasional Go-kart kelas kadet. Rio bertekad untuk menjadi pembalap F1.

Rio memulai karier balap mobilnya di benua asalnya, bersaing dalam tiga seri yang berbasis di Asia selama 2008: Asian Formula Renault Challenge, Formula Asia 2.0, dan Formula BMW Pacific.

Dia menjadi yang tercepat dalam seri 2.0 FAsia, memenangkan dua balapan untuk merebut peringkat ketiga secara keseluruhan dalam kejuaraan tersebut, di belakang pembalap ekspatriat Eropa Felix Rosenqvist dan Matthias Beche.

Pada tahun 2009 ia kembali berkompetisi dalam berbagai seri, termasuk Australian Drivers Championship dan Asian Formula Renault Challenge.

Fokus utamanya tahun ini, bagaimanapun, adalah kejuaraan Formula BMW Pacific, dimana ia mendominasi dengan 11 kemenangan dari 15 balapan (walaupun lima balapan ini dimenangkan langsung oleh pengemudi undangan yang tidak masuk dalam kejuaraan), membela Team Meritus asal Malaysia.

Ini termasuk empat kemenangan berturut-turut, pole position dan putaran tercepat dalam empat balapan berturut-turut yang diadakan di sirkuit yang menjadi kandangnya, Sentul. Ia juga berkompetisi di sebuah putaran yang setara dengan Formula BMW Eropa sebagai pembalap undangan.

Rio membalap pertama kali di seri ini pada 2012 bersama Carlin GP2 Team. Pada tahun itu juga, Rio juga berkesempatan untuk menjajal mobil F1 milik Marussia F1 Team sebanyak 79 lap ada sebuah uji coba pembalap muda F1 di Sirkuit Silverstone, Inggris.

Hasil itu membawa Rio menjadi orang Indonesia pertama yang memenuhi syarat untuk mendapatkan FIA superlisence yang merupakan syarat yang wajib dimiliki calon pembalap F1.

Pada tahun 2013, Rio memutuskan bergabung dengan Addax Team, namun sayangnya Rio mendapatkan hasil yang buruk dengan hanya mampu mendapat poin pada 4 balapan. Meskipun demikian, ia sempat meraih podium pertamanya dengan menempati peringkat 2 pada sprint race yang berlangsung di Silverstone, Inggris.

Kecewa akan performa mobil dan mekanik, Rio memutuskan pindah ke Caterham untuk musim 2014 setelah mencatatkan hasil yang memuaskan pada tes di Abu Dhabi. Ia berpasangan dengan Alexander Rossi dari Amerika Serikat.

Di musim 2015, dia bergabung dengan tim Campos Racing.[6] Setelah mengambil podium ke 2 di Feature Race dalam seri Bahrain, Rio mengambil kemenangan pertama di GP2 pada Sprint Race keesokan harinya.

Dia meraih kemenangan kedua dalam seri sprint race Austria meskipun sayap depan mobilnya telah rusak.

Editor: Ardy Muchlis
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help