Komnas Perempuan Rilis 15 Kekerasan Seksual

Lima belas kekerasa seksual tersebut dikatakan terjadi bukan hanya dari orang asing, melainkan dapat terjadi dari orang di sekeliling kita

Komnas Perempuan Rilis 15 Kekerasan Seksual
HASRUL RUSDI
Lembaga Bantuan Hukum (LBH) APIK Makassar menggandeng Universitas Muslim Indonesia (UMI) dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional (IWD) di Auditorium Al Jibra Kampus 2 UMI, Jl Perintis Kemerdekaan, Jumat (11/3/2016). 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Hasrul

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR -Lembaga Bantuan Hukum (LBH) APIK Makassar menggandeng Universitas Muslim Indonesia (UMI) dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional (IWD) di Auditorium Al Jibra Kampus 2 UMI, Jl Perintis Kemerdekaan, Jumat (11/3/2016).

Peringatan Hari Perempuan ini digelar dalam bentuk Diskusi Musikal dengan tema Kekerasan Seksual Bukan Kewajaran Sahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.

Diskusi ini dihadiri puluhan mahasiswa dengan tiga narasumber yaitu Prof Dr Hambali Thalib SH MH, Badan Pemberdayaan Perempuan Makassar, Andi Amalia Malik SH dan Direktur LBH APIK Makassar Rosmiati Sain.

Prof Hambali sebagai narasumber pertama mengatakan bahwa kekerasan seksual bisa terjadi kapan dan dimana saja dengan berbagai modus.

Menurut Prof Hambali, Kekerasan Seksual harusnya mendapat perhatian dari pemerintah untuk melindungi perempuan sebagai warga negara Indonesia.

"Pemerintah seharunsya segera mengesahkan RUU penghapusan kekerasan seksual untuk memberikan rasa aman bagi kaum perempuan" jelasnya.

Sementara itu, Rosmiati, menegaskan bahwa kekerasan seksual bukanlah sebuah kewajaran sehingga harus mendapat perhatian serius dari pemerintah salah satunya sahkan RUU penghapusan kekerasan seksual.

Pada kesempatan ini, Rosmiati, memaparkan 15 jenis kekerasan seksual yang ditemukan Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan).

Lima belas kekerasan seksual tersebut antara lain perkosaan, intimidasi seksual, pelecehan seksual, ekspolitasi seksual, perdagangan perempuan, prostitusi paksa, perbudakan seksual, pemaksaan perkawinan, pemaksaan kehamilan, pemaksaan aborsi, pemaksaan kontrasepsi dan sterilisasi, penyiksaan seksual, penghukuman tidak manusiawi dan bernuansa seksual, praktek tradisibernuansa seksual dan kontrol seksual atas nama moralitas dan agama.

Lima belas kekerasa seksual tersebut dikatakan terjadi bukan hanya dari orang asing, melainkan dapat terjadi dari orang di sekeliling kita yang terkadang kita tidak menduganya.

"Kekerasan seksual ini terkadang datang dari orang terdekat kita, nah yang dibutkan sekarang adalah perlindungan dari pemerintah" jelasnya.

Selain itu perempuan harus membentengi diri dengan meningkatkan kewaspadaan dan kepercayaan diri.(*)

Penulis: Hasrul
Editor: Anita Kusuma Wardana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved