Pesawat Mendarat Darurat di Bali Gara-gara Domba Kentut dan "BAB"

Di ketinggain jelajah 32.000 kaki, dan di posisi 400 mil laut sebelah selatan Denpasar

Pesawat Mendarat Darurat di Bali Gara-gara Domba Kentut dan
SINGAPORE AIRLINES
Pesawat Boeing 747-400 Cargo milik Singapore Airlines. 

TRIBUN-TIMUR.COM - Insiden yang unik dialami oleh Singapore Airlines di akhir Oktober lalu.

Sebuah pesawat kargo B747-400 milik maskapai itu terpaksa mendarat di luar rencana karena sebab yang tak pernah diduga sebelumnya.

Dikutip Nextren dari The Aviation Herald, Rabu (4/11/2015) pada Selasa (27/10/2015) lalu, sebuah pesawat kargo B747-400 Singapore Airlines dengan registrasi 9V-SFI dan nomor penerbangan SQ-7108, terbang dari Sydney (Australia) menuju Kuala Lumpur (Malaysia).

Pesawat tersebut diawaki oleh empat orang kru dan mengangkut kargo binatang ternak, yaitu domba sebanyak 2.186 ekor.

Di ketinggain jelajah 32.000 kaki, dan di posisi 400 mil laut sebelah selatan Denpasar (Indonesia), kru pesawat mendapati indikator asap di kokpit menyala, memberitahu bahwa ada asap di kabin kargo pesawat.

Kru kemudian mengambil tindakan darurat dengan menurunkan ketinggian jelajah ke 25.000 kaki, lalu mengalihkan pendaratan ke bandara terdekat, yaitu di bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali.

Pesawat kargo 747 itu pun mendarat dengan selamat 45 menit kemudian.

Namun, tim emergency darat di Bandara Internasional Ngurah Rai yang memeriksa pesawat tidak menemukan adanya asap, baik di luar maupun di dalam kabin.

Tidak ada bekas api, panas, atau asap.

Usut punya usut, indikator asap itu menyala akibat gas yang dikeluarkan oleh kentut domba, serta kotoran yang dikeluarkan.

Mengetahui tidak ada asap atau api yang berbahaya, SQ7108 melanjutkan perjalanan setelah 2,5 jam berada di darat, dan sampai di Kuala Lumpur 2,5 jam kemudian.

Bandara Internasional Ngurah Rai saat ini sedang ditutup menyusul dampak abu vulkanik dari letusan anak Gunung Rinjani.

Penutupan dijadwalkan berlangsung hingga besok pagi, tanggal 5 Oktober, waktu setempat.(*)

Editor: Edi Sumardi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved