TribunTimur/

Kalau Mimpi Bertemu Lailatul Qadar, Ini Indikasinya

Indikasi yang dimiliki dalam hadits ini karena langsung dibenarkan oleh Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Kalau Mimpi Bertemu Lailatul Qadar, Ini Indikasinya
satuislam.org
ilustrasi: Planet-planet 

MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM- Adakah kemungkinan seseorang bermimpi bertemu lailatul qadar?

Menurut Pimpinan Pesantren Darush Sholihin, Muh Abduh Tuasikal, mimpi demikian dibenarkan jika ada indikasi kuat dan tidak bertentangan dengan syari’at Islam.

Ada hadits yang disebutkan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani dalam Bulughul Marom no. 704,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – أَنَّ رِجَالاً مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – أُرُوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْمَنَامِ فِى السَّبْعِ الأَوَاخِرِ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِى السَّبْعِ الأَوَاخِرِ ، فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِى السَّبْعِ الأَوَاخِرِ »

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa ada seorang dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamdiperlihatkan lailatul qadar dalam mimpi ketika tujuh hari terakhir (dari bulan Ramadhan). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Aku tahu bahwa kalian melihat lailatul qadar pada tujuh hari terakhir Ramadhan. Siapa yang sungguh-sungguh dalam mencarinya, maka carilah di tujuh hari terakhir dari bulan Ramadhan.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 2015 dan Muslim no. 1165).

Beberapa faedah dari hadits di atas:

1- Hadits tersebut menunjukkan dalil bolehnya beramal dengan hasil mimpi orang shaleh yang menunjukkan indikasi tertentu dan tidak bertentangan dengan syari’at.

Indikasi yang dimiliki dalam hadits ini karena langsung dibenarkan oleh Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa bisa saja seseorang Allah tampakkan padanya keberadaan malam lailatul qadar ketika ia mimpi atau sadarkan diri.

Boleh jadi ia melihat cahaya atau ada yang mengatakan padanya bahwa malam tersebut adalah malam lailatul qadar, atau semacam itu. Lihat Majmu’ Al Fatawa, 25: 286.

2- Lailatul qadar terjadi pada bulan Ramadhan. Siapa yang ingin mencarinya, maka carilah di tujuh hari terakhir dari bulan Ramadhan.

Namun yang dituntut adalah mencarinya pada sepuluh hari terakhir, bukan hanya di tujuh hari terakhir. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169). Yang dimaksud dalam hadits ini adalah semangat dan bersungguh-sungguhlah mencari lailatul qadar pada sepuluh hari tersebut. Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 53.

Sedangkan hadits yang dikaji saat ini bisa dikompromikan dengan hadits terakhir yang disebutkan di atas, yaitu kita katakan bahwa lailatul qadar terjadi pada sepuluh hari terakhir, namun yang lebih mungkin adalah di tujuh hari yang tersisa. (Muh Abduh Tuasikal/rumaysho.com)

Editor: Ilham Mangenre
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help