Perspektif

Harga Pahlawan di Uang Kertas

Bukan di November ini saja, apalagi hanya di sepertiga bulan, kepahlawanan harus diperingati.

Harga Pahlawan di Uang Kertas

Oleh: Ostaf al Mustafa (mantan anggota Aliansi Mahasiswa Pro De)

TRIBUN-TIMUR.COM -Bukan di November ini saja, apalagi hanya di sepertiga bulan, kepahlawanan harus diperingati. Para pahlawan yang bagian mukanya terdapat pada uang kertas, ada yang berjuang sepanjang tahun untuk melawan penjajah dari korporasi asing.

Orang-orang berseragam hanya tampil heroik di upacara bendera dengan pengibaran Sang Saka Merah Putih pada penanggalan sepuluh. Peringatan yang hanya berlangsung satu atau dua jam saja, dengan keringat yang berdebum dari beberapa pori.

Bendera tertinggi yang pernah berkibar di Makassar, bukan di lapangan upacara. tapi di atas truk. Ketika itu mahasiswa ke jalan menyuarakan asap terkelam negeri ini melalui ban ban yang terbakar.

Para mahasiswa itulah  yang lebih tahu, betapa nilai nominal gambar pahlawan itu tak sesuai lagi dengan intrinsik pada uang itu. Begitu penaikan harga BBM, maka para pahlawan itu makin berkurang nilainya di tengah pusaran barang dan jasa.

Harga BBM belum berubah di tampilan SPBU, namun cabe sudah lebih mahal dari rasa terpedasnya. “Saya pikir kita semua dapat melakukan hal-hal heroik. Pahlawan itu bukan kata benda, tapi kata kerja.” Ujar Robert Downey, Jr, pemeran Iron Man. Sekarang mahasiswa itu melakukan ‘kata kerja’ di jalanan menjadi ‘manusia besi’ melawan rezim berbau bensin.

Demonstran  terkeras pada aksi BBM, berasal dari universitas yang berdekatan dengan SPBU. Makin jauh dari SPBU, maka semakin enggan melangkahkan kaki sedikitpun ke aspal-aspal panas.

Kala demonstran memercikkan darah sendiri demi sebuah etos menekan pederitaan rakyat, justru mereka diserang dan dikeroyok oleh tampang-tampang khianat dari warga keparat.

Untuk kekeparatan warga itu semoga inflasi menghukum berat mereka dengan penderitaan ekonomi. Bukannya berterima kasih mengirim segelas air untuk rasa haus yang mendidih di kerongkongan. Para bedeban itu justru menyerang kampus dengan segala ritus kekerasan bersama aparat berseragam.

Di November ini atau bulan kapanpun, bila ada yang meminati pahlawan bertopeng, maka lihatlah mahasiswa yang berpeluh di jalanan.

Setiap hari muka mereka berganti-ganti untuk membela masyarakat yang sebentar lagi menderita bersama ilusi kartu-kartu sakti itu. Di uang kertas, pahlawan punya batas harga, tapi tindakan para mahasiswa tak ternilai oleh angka-angka rupiah.

Lalu berapa harga diri orang-orang yangmenistakan para mahasiswa itu? Mungkin hanya sebesar nominal koin yang bergambar kakatua raja. (*)

Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help