Perspektif

La Tang

Pagi-pagi, gerombolan massa berteriak memaki, merusak, menjarah, membakar pertokoan milik kaum Tionghoa serentak terjadi di Kota Makassar.

La Tang
dok. tribun
Direktur Eksekutif Lembaga Advokasi & Pendidikan Anak Rakyat (LAPAR) Sulsel

Oleh: Abdul Karim
Direktur Eksekutif LAPAR Sulsel

AMUKA massa pada hari itu adalah bencana. Pagi-pagi, gerombolan massa berteriak memaki, merusak, menjarah, membakar pertokoan milik kaum Tionghoa serentak terjadi di Kota Makassar. Asap hitam mengepul merayap naik ke langit seketika. Hari itu, pertengahan September 1997, kota ini seperti kiamat.

Keberingasan massa dipicu oleh pembunuhan seorang anak 'pribumi' oleh lelaki dewasa Tionghoa tak waras sehari sebelumnya. Tindakan tak waras lantas dibalas dengan perilaku di luar batas kewarasan. Kiamatlah sudah. Di tengah 'kiamat' anti etnik seperti itu, identitas punya arti penting.

Tersebutlah La Tang, seorang mahasiswa di kota ini. Ia pribumi asli. Keturunan Bugis. Lahir dan dibesarkan oleh kedua orangtuanya (yang juga Bugis) di kampung halamannya. Dalam kultur Bugis, penggunaan kata  'La' pada sebuah nama umumnya bagi anak lelaki. Bagi orang tuanya, 'La Tang' kurang lebih berarti; mendengar kata dan patuh. Kulitnya kebetulan persis warna kulit langsat. Matanya sedikit sipit. Rambutnya lurus. Sehingga perangainya (maaf) sepintas persis pemuda Tionghoa.

Perangai yang demikian semakin 'menipu' bagi orang yang pertama kali mengenalnya. Sebab namanya pun (maaf) mirip nama seorang Tionghoa. Di kampusnya, saat ospek, La Tang seringkali diminta seniornya untuk menyanyikan lagu Mandarin.

Saat pengganyangan Tionghoa 15 September 1997 itu, La Tang pun berpartisipasi atas seruan solidaritas pribumi yang diteriakkan seniornya. Ia meninggalkan ruang kuliah, bergabung dengan rekannya di tengah jalan membakar ban mobil bekas.

Tetapi malang menghampirinya, saat warga berbaur dengan kelompok mahasiswa yang mulai anarkis; melempari batu ruko-ruko milik Tionghoa, menjarah, dan membakarnya. La Tang keluar dari barisan itu. Ia sadar, tindakan brutal itu tidak benar.

Di bawah pohon ia berdiri sambil mengusir dahaga. Baru seteguk air mineral masuk di tenggorokannya, tiba-tiba sekelompok warga menyerangnya dengan lemparan batu. La Tang lari terbirit-birit. Tetapi batu tak kuasa ia hindari. Kepalanya berdarah. Ia terus berlari. Malangnya, ia malah ditangkap oleh sekelompok warga lainnya. Beberapa tendangan mendarat di tubuhnya.

Kepala La Tang terus mengeluarkan darah. Seseorang berteriak menenangkan massa yang bringas itu. La Tang lalu ditanya; "siapa namamu?". Singkat ia jawab; "La Tang". Mendengar jawaban itu, tendangan dari massa kembali menempel di punggungnya.

"Mana KTP-mu?" Dirogohnya dompetnya, KTP nya lalu diserahkan pada lelaki yang menenangkan massa tadi. Lelaki ini hampir tak percaya setelah melihat KTP La Tang. "Kamu Islam, kamu Bugis?" tanya lelaki itu. La Tang membenarkannya dengan sumpah. Lelaki itu lalu berseru; "Bubar, bubar, anak ini pribumi asli, bubar semua".

Daya rusak kerusuhan dan pengganyangan itu menurut sejumlah sumber sekitar 1.417 rumah/toko rusak dibakar, kerugian mencapai Rp. 17,5 Milyar. Dan di situ, La Tang adalah sebuah adegan memilukan. Bukan saja karena ia dilukai dan ditendang, tetapi tak kalah pilunya sebab kebringasan warga mencerminkan lemahnya visi keragaman warga ditengah aneka keragaman. Tata nilai kemanusiaan hilang seketika, berganti menjadi "kiamat kota" pada hari naas itu.(*)

Editor: Jumadi Mappanganro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved