Maulid Telur dan Pisang

Selanjutnya pohon pisang yang padanya ditancapkan telur saat maulid juga memiliki makna filosofi.

Maulid Telur dan Pisang
Maulid dalam bahasa Arab adalah isim zaman wa makan (kata yang menunjukkan arti waktu sekaligus tempat), berasal dari kata walada, yang berarti lahir, sehingga kata maulid (masa kelahiran) setara dengan milad (waktu dilahirkan). Milad Muhammadiyah, diartikan sebagai peringatan waktu dilahirkannya Muhammadiyah pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H/18 November 1912, dan Maulid diartikan sebagai peringatan masa kelahiran Nabi Muhammad SAW, pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun Hijriah, atau saat ini bertepatan dengan bulan Januari 2014. Peringatan Maulid sebagai bagian dari tradisi keagamaan dapat dilihat dari dua segi, yakni segi historis dan sosial kebudayaan. Pada segi historis, adalah untuk mengingat sejarah Nabi saw yang dapat menimbulkan rasa al-mahabbah (kecintaan mendalam) kepadanya. Dipahami bahwa Nabi saw sangat mementingkan nilai kesejarahan sebuah kejadian, sehingga sejarah lahirnya yang bertepatan pada hari senin, menyebabkannya untuk berpuasa setiap hari senin itu. Sebagaimana halnya Nabi saw menganjurkan umatnya untuk berpuasa tiap 10 bulan Muharram (hari asyura) untuk memeringati sejarah kemenangan Nabi Musa as atas Raja Fir’aun. Karena itu, jika peringatan maulid dalam rangka mengingat kembali sejarah kehidupan Nabi saw, mengingat kepribadiannya yang agung, mengingat misinya yang universal dan abadi sebagai rahmatan lil alamin. Dalam perspektif sejarah, ulama saleh, fuqaha dan ahli hadis yang pertama kali merayakan sekaligus mengusulkan Maulid Muzhaffar Abu As’id al-Kukburi bin Zainuddin Ali bin Buktikin (w. 530 H), dan saat itu ulama masyhur sekaligus penguasa Haramain, Salahuddin al-Ayyubi (w. 590), menginstruksikan kepada semua pemerintah di wilayah kekuasaannya agar menjadikan maulid sebagai tradisi keislaman yang harus dihidupkan untuk mempertebal kecintaan umat kepada nabi mereka, sehingga maulid sebagai peringatan kelahiran Nabi SAW tersebut, mentradisi dalam dunia Islam termasuk di Indonesia dan bahkan pada kebanyakan orang mentradisikan pula hari kelahirannya yang disebut dengan hari ulang tahun secara meriah, lengkap suguhan makanan enak dan lezat, kue dipotong dan dimakan, lilin dihidupkan dan ditiup, kemudian bernyayi berjamaah, selamat ulang tahun, kami ucapkan, panjang umurnya, serta mulia. Tradisi memperingati hari ulang tahun esensinya sama memperingati maulid, namun pelaksanaanya berbeda bedasarkan tradisi Islam yang penganan makanannya variatif seperti telur yang dihiasi dan diwarnai, lalu ditusuk bambu dan ditancapkan ke pohon pisang, menjadilah pohon pisang berbuah telur yang dipajang saat maulid, dan hadirin bernyanyi berjamaah dengan syair Salawat Diba yang berisi tentang sejarah hidup Nabi Muhammad saw sebagai sebagai tanda pengungkapan rasa cinta mereka kepada Nabi. Dalam sebuah hadis disebutkan, siapa yang mencintaiku, maka dia bersamaku kelak di Syurga (HR.al-Turmuzi). Kenapa pada setiap maulid ada telur dan pohon pisang?, telur yang sudah direbus dan diwarnai ditaruh diember plastik atau bakul kemudian ditutup daun pisang sebagiannya lagi ditancapkan di pohon pisang. Inilah tradisi masyarakat sebagai bagian dari segi sosial kebudayaan yang pada hakikatnya mengandung makna filosofi keislaman dan memiliki dalil baik dari Al-Quran maupun hadis Nabi. QS Ali Imran/3:27 menyebutkan, Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup, dapat dimisalkan dengan mengeluarkan anak ayam dari telur, dan telur dari ayam. Dengan ayat dan misal telur ini, mengingatkan bahwa semua hidup itu ada awal dan akhir. Dilihat dari bentuknya, telur terdiri atas tiga fase sebagai bagian hidup. Fase kulit yang dimaknai sebagai lahir, fase putih telur sebagai hidup, dan fase terakhir yaitu kuning telur sebagai akhir kehidupan. Mengenai manfaatnya, Imam Baihaqi dalam kitabnya Syu’abul Iman (juz I;h.87) menyebutkan sebuah riwayat yang diklaim sebagai hadis marfu’ (disandarkan kepada Nabi saw) bahwa jika seseorang merasa lemas dan tidak bertenaga, maka diperintahkannya memakan telur. Di sini dipahami bahwa telur termasuk obat kuat, dan memang meupakan sumber protein terbaik, putih telur menghaluskan dan memutihkan kulit, sedangkan kuning telur sebagai salah satu sumber vitamin B-kompleks membantu perkembangan otak. Demikianlah telur, harganya murah namun khasiat sangat besar. Telur yang dijadikan penganan saat maulid memiliki makna filosofis, telur lambang kelahiran dan dengan bentuknya yang bulat bermakna dunia tempat dilahirkan manusia dan tempat kehidupan mereka, kulit telur disimbolkan Iman, putih telur disimbolkan Islam, dan kuning telur disimbolkan Ihsan seperti halnya bahwa putih telur melambangkan kesucian dan keagungan, kuning telur melambangkan keemasan, warna lain seperti merah dan biru yang dihiasi pada kulit telur saat maulid sebagai lambang kegembiraan. Jadi telur yang ditusuk saat maulid melambangkan bahwa Iman, Islam, dan Ihsan harus disatukan dan ditegakkan ke atas berdasar kalimat Allah swt. Ini diikarenakan telur yang ditusuk bambu melambangkan adanya kelurusan, kekuatan, keteguhan layaknya pohon bambu yang tumbuh menjulang tinggi. Demikianlah maulid diharapkan memberikan makna kepada umat Islam untuk selalu teguh, lurus dan menjulang tinggi meneladani Nabi saw sebagai manusia mulia dan luhur. Selanjutnya pohon pisang yang padanya ditancapkan telur saat maulid juga memiliki makna filosofi. Allah berfirman, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak… perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah, dan (perhatikan pula) kematangannya. Sesungguhnya, pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. (QS. al-An'am/6: 99). Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Tuhanmu telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik,… perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu mengingatnya. (QS. Ibrahim/14: 24-25). Al-Qur’an kemudian menyebutkan bahwa pisang sebagai salah satu buah-buahan surga, berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon-pohon pisang yang bersusun-susun buahnya, (QS. al-Waqi'ah/56: 28-29). Demikian firman Allah yang menggambarkan bahwa pohon pisang dan buah pisang harus dijadikan ibrah dan karena memiliki khasiat dan kegunaan yang banyak. Buah pisang menyehatkan usus dengan menghilangkan sembelit, selanjutnya daun pisang digunakan sebagai wadah pengalas dan penutup atau pembungkus makanan saat mauled bagaikan payung. Daun pisang sudah digunakan dan mengering, atau tangkai daun yang sudah kering dapat pula dimanfaatkan manusia sebagai bahan bakar disimbolkan sebagai pemicu bagi bahan bakar kayu yang lebih kuat. Ini dimaknakan sebagai pemberi semangat bagi manusia untuk menjalani kehidupan seperti yang dialami oleh Nabi SAW yang diperingati maulidnya ini. Selanjutnya batang pisang yang penuh dengan serat-serat panjang itu dimanfaatkan manusia menjadi tali-temali yang dipintal, dan sebagian lagi ada digunakan sebagai pita-pita untuk bahan anyaman menjadi benda-benda pakai seperti tas, dompet, sarung bantal kursi dan lain-lain. Batang pisang yang sudah lapuk sebagai penyubur tanah pertanian. Ini semua menggambarkan agar melalui maulid, manusia mampu menjadirikan dirinya bermanfaat untuk sesamanya dan untuk makhluk lain. Pohon pisang tidak mau mati sebelum melahirkan tunas-tunasnya, artinya pohon pisang memberikan gambaran yang baik mengenai alih generasi, begitu pula jika dikontekstualkan ke dalam pergantian kepemimpinan (suksesi) maka pohon pisang telah mengajarkan kepada manusia agar menyiapkan kaderisasi sebagai bentuk regenerasi. Lebih mendalam lagi, tentang buah pisang yang masih berada di pohonnya, setanda buah pisang itu jika diperhatikan ternyata bergantung pada ares yang berada di dalam pohon pisang. Jadi ares tersebut identik dengan isi pohon pisang. Filosofi Pisang Secara filosofi dari kacamata tafsir spiritual bahwa ares mengisyaratkan sebagai Arsy (singgasana Allah swt) yang identik dengan hati atau kalbu seorang Muslim yang bening. Dalam makrifah tasawuf, hati orang mukmin yang bening bisa merupakan Arsy-Nya sebab di alam semesta ini tidak ada yang mampu menampung Allah kecuali “bersemayam” dibersihnya hati seorang Mukmin, yang sebagian dikabarkan dalam hadi Qudsi bahwa Allah berfirman, Bumi dan langit-Ku tidak ada yang mampu menampung Aku, tapi hati hamba-Ku yang berimanlah yang menampung-Ku. Dari sini dipahami bahwa ares yang bisa menghasilkan buah pisang tempatnya di dalam pohon pisang. Berarti untuk mendapatkan ares, maka harus membuka pohon pisangnya, melepas satu per satu kulit pada pohon pisang yang membungkus ares. Begitu pula dengan hati/kalbu manusia yang bening harus diupayakan menjadi bersih dan terbebas dari kotoran penyakit-penyakit hati atau sifat-sifat buruk dan hati/kalbu seperti itulah yang menjadi tajalli-Nya, Allah atau tempat bersemayam-Nya.“Hati itu bagaikan Arsy (singgasana-Nya) dan dada adalah kursinya hal itu menunjukkan pula bahwa yang dimaksud hati adalah sesuatu dibalik daging sanubari. Selain itu pohon pisang juga mempunyai daun yang bisa dipakai sebagai payung atau perlindungan dari guyuran air hujan dan terik panas matahari, yang dapat melindungi dan mengayomi seperti diisyaratkan dari daun pisang tadi. Demikianlah makna filosofis dari pisang dan pohon pisang tetapi terkadang tidak mampu dipahami makna dibalik semua itu, termasuk makna filosofis dan simbolisasi telur yang dijadikan penganan saat peringatan maulid sebagai momen yang sangat dapat dan tepat menimbulkan kecintaan terhadap Nabi SAW, yang karena itu dapat dipastikan bahwa maulid bukan bid’ah melainkan amalan sunnah yang harus ditradisikan terus menerus. Seseorang yang jika tidak memperingati maulid, apalagi membid’ahkan, boleh jadi karena yang bersangkutan tidak mampu menangkap makna filosofis dari maulid tersebut sekaligus menunjukkan ketidakcintaannya kepada Nabi SAW, dan sebagai keingkarannya terhadap ijma (konsensus) ulama saleh terdahulu yang telah mencetuskan dan menginstruksikan perayaan maulid, sementara Nabi SAW sendiri mewajibkan agar umatnya mengikuti ijma ulama. Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq.(*) Oleh; Mahmud Suyuti Dosen Hadis dan Kepala Laboratorium Hadis UIM Makassar
Editor: Aldy
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved