Jumat, 19 Desember 2014
Tribun Timur

STIE Nobel Bahas Peluang Ekonomi 2014

Jumat, 20 Desember 2013 18:08 WITA

STIE Nobel Bahas Peluang Ekonomi 2014
Mahasiswa STIE Nobel

MAKASSAR,TRIBUN-TIMUR.COM-Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Nobel berupaya membahas masalah prospek perekonomian Sulawesi Selatan dalam sebuah Talkshow bertajuk Economic Outlook Sulawesi Selatan 2014 di Auditorium STIE Nobel, Jumat (20/12/2013).

Kegiatan tersebut menghadirkan tiga narasumber yakni Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulampapua, Causa Imam Karana, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unhas Dr Hamid Paddu, SE, MM serta Ketua HIPMI Sulsel Amirullah Abbas, SE.

Ketua STIE Nobel, Dr Maskur Razak mengatakan kegiatan tersebut telah rutin dilaksanakan di penghujung tahun untuk membahas peluang ekonomi dan bisnis di tahun mendatang.

"Hal ini penting bagi mahasiswa maupun pelaku bisnis untuk melihat peluang yang ada di tahun depan. Tahun 2014 juga para mahasiswa dan pelaku bisnis pun sudah harus menyiapkan diri menghadapi ASEAN Community 2015,"ujarnya.

Pada kesempatan itu, Deputi Kepala Kantor BI Sulampapua, Causa Imam Karana mengungkapkan perekonomian nasional dan global mengalami perlambatan di tahun 2013. Namun demikian, perekonomian di Sulampapua terus mengalami peningkatan.

"Perekonomian Sulawesi Selatan merupakan penyumbang 35,7 persen dari perekonomian di Sulampapua. Meskipun mengalami peningkatan, tingkat kesenjangan sosial masih tinggi,"

Ia memprediksikan tingkat pertumbuhan ekonomi di Sulsel pada tahun 2014 juga akan mengalami perlambatan dibandingkan tahun 2013 ini.

"Jika tahun ini tingkat pertumbuhan ekonomi dalam range tujuh hingga depan persen, BI memprediksi akan mengalami penurunan hanya saja tidak begitu signifikan yaki 6,9 hingga 7,9 persen,"jelasnya.

Sementara itu, Dr Hamid Paddu memprediksi pertumbuhan ekonomi di Sulsel juga bakal mengalami perlambatan. Ia menyebutkan angkat pertumbuhan ekonomi Sulsel kisaran 7,5 hingga 7,6 persen.

"Dalam dua tahun terakhir ekonomi global mengalami perlambatan utamanya terkait kebijakan BI Rate, fiskal amerika yang awalnya Indonesia salah satu tempat investasi paling strategis. Lantas Amerika ingin memperketat liquitas uangnya, jika hal tersebut terjadi akan berpengaruh pada Indonesia yakni kurs dollar terhadap rupiah yang  berdampak pada sektor ril yakni suku bunga perbankan naik,"jelasnya. (*)

Penulis: Anita Kusuma Wardana
Editor: Muh. Taufik

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas