TribunTimur/

Tata Mandong, Mengabdikan Diri di Tengah Hutan Bawakaraeng

10 tahun sudah sosoknya mendiami rumah yang berdiri ditengah hutan Gunung Bawakaraeng, Gowa.

Tata Mandong, Mengabdikan Diri di Tengah Hutan Bawakaraeng
tribun/Umming
Tata Mandong

MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM -10 tahun sudah sosoknya mendiami rumah yang berdiri ditengah hutan Gunung Bawakaraeng, Gowa.

Hidup sendiri menjadi pilihan Tata Mandong sejak 2003 lalu. Dikelilingi gunung dan hutan tidak membuat lelaki tua kelahiran 1937 ini untuk keluar dari salah satu lokasi wisata bagi para pendaki di Sulsel tersebut.

Saat ditemui tribun-timur.com di Lembah Ramma, Gunung Bawakaraeng, Senin (28/10/2013) hanya kata 'tidak' yang keluar dari mulut keriputnya tanpa gigi ketika ditanya sepi atau tidak dirinya sendiri ditengah hutan.

Pria tua ini memilih untuk mengabadikan sisa hidupnya menjaga Gunung Bawakaraeng. Permintaan dari Dinas Kehutanan Gowa juga menjadi salah satu alasannya. Bahkan dia dijuluki sebagai pemegang kunci Gunung Bawakaraeng.

Sebelum menetap di Gunung Bawakaraeng, Tata Mandong tinggal berpindah-pindah menjaga hutan. Setiap lokasi hutan di Gowa yang dianggap tidak aman, dia dipanggil untuk menjaganya.

Sejak longsor Gunung Bawakaraeng yang terjadi 2004 lalu, Tata pun resmi mendiami rumah papan panggung yang berdiri sejalur titik longsor gunung. Dari kediamannya yang sederhana itu titik longsor memang terlihat. Beruntung Tata selamat dari kejadian itu. Sebab aliran longsor menuju kearah selatan dari rumahnya.

Tinggal ditengah hutan Tata hanya mengharapkan bantuan dari pendaki yang datang berkemah di Lembah Ramma. Beras, rokok dan makanan lain yang diberikan untuk menyambung hidupnya. Disamping rumah tidak laik itu, Tata memelihara ikan mas. Dulu banyak warga luar Sulsel yang datang berkunjung untuk membeli. Dan dari situ pulalah uang bisa dia dapatkan.

Terkadang untuk belanja keperluannya, dia harus keluar hutan menuju pasar Malino yang ada dibawah gunung. Jaraknya pun membutuhkan perjalanan berjam-jam. Tapi tidak sedikit Tata menerima bantuan logistik dari pendaki.

Bantuan seperti uang pun selalu disuplai dari pihak Dinas Kehutanan. Bukan hanya Gowa namun Kabupaten lain juga seperti Bantaeng dan Bulukumba memberikan bantuan dan keperluan lainnya.

Hidup sebatangkara ditengah hutan bukan berarti dia tidak memliki keluarga. Tata asli Gowa. Punya keluarga yang tinggal di Malino dan Makassar. Tapi tanpa istri dan anak. Setiap lebaran Tata turun gunung bersilaturahmi. Kadangkala juga keluarganya yang mendatangi rumahnya.

Rumah pondok yang hanya berisikan peralatan makan bersatu dengan ruang tidur. Jarang dibersihkan. Kandang ayam juga ikut dimasukkan didalam rumah. Alas tidurnya menggunakan tikar anyaman. Pakaian dan bantal berserakan begitu saja.

Didinding tampak bendera-bendera dari komunitas pecinta alam yang datang. Mereka sengaja meninggalkan bendera itu sebagai tanda kalau mereka pernah berada di Lembah Ramma. Foto-foto Tata dengan KPA lain juga ikut dipajang. Tidak ada listrik hanya penerangan dari belek-belek lampu.

Dipenghujung senjanya, tidak banyak keinginan yang terpikirkan. Hanya bisa menjaga Gunung Bawakaraeng dari kerusakan dan bencana alam yang mungkin saja diakibatkan dari tingkah laku manusia membuat dirinya untuk tetap berdiam ditengah hutan dan dikelilingi gunung.(*)

Penulis: Waode Nurmin
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help