• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 25 April 2014
Tribun Timur

Wah, Polisi Brunei Ternyata Pungli Juga

Rabu, 14 Agustus 2013 21:27 WITA
Wah, Polisi Brunei Ternyata Pungli Juga
Wartawan Tribun Pontianak, Andi Asmad
Inilah Pos Polisi Sungai Tujuh, Brunei Darussalam, tempat di mana terjadi praktik pungli dengan tawaran mau susah atau senang 
Lapoan Wartawan Tribun Pontianak, Andi Asmadi

BRUNEI Darussalam masuk kategori negara maju, dengan pendapatan per kapita 42.200 dolar AS, tertinggi kedua di Asia Tenggara setelah Singapura (57.283 dolar AS). Tapi, siapa sangka, pungutan liar alias pungli masih saja terjadi di negara petro dollar ini, dan dilakukan oleh aparat kepolisiannya.

Seperti pantauan Tribun, pungli itu dilakukan oleh aparat kepolisian yang bertugas di Sungai Tujuh, perbatasan Malaysia-Brunei.

Sejatinya, pelintas batas dari Indonesia, yang hendak masuk ke Brunei melalui Malaysia, akan menjalani pemeriksaan oleh aparat Imigrasi dan Bea Cukai setempat. Di Imigrasi Brunei, paspor akan di-cop, sembari ditanya-tanya apa tujuan masuk ke Brunei. Setelah beres, barang-barang bawaan akan diperiksa oleh aparat Bea Cukai.

Faktanya, menjelang masuk ke kawasan perbatasan, sopir bus akan memberitahu penumpang untuk menyiapkan satu dolar Brunei, yang kemudian akan dikumpulkan dan diserahkan ke aparat kepolisian Brunei yang bertugas di Pos Polisi Sungai Tujuh.

"Payah kalau tidak ada pelicin. Bisa dipersulit, pemeriksaan bisa dua sampai tiga jam," kata sopir bus. "Ada-ada saja yang akan ditanyakan, sampai ke hal-hal kecil, termasuk mencocokkan nama di manifest dengan paspor, bisa berjam-jam," tambahnya.

Ketika bus melewati Imigrasi Malaysia, prosesnya tidak berbelit-belit. Penumpang turun untuk men-cop paspor, lalu naik bus lagi hingga memasuki kawasan Brunei. Begitu masuk, bus akan melewati Pos Polisi Sungai Tujuh, bangunan pemanen yang diresmikan pada 2 Februari 1999. Di depan pos polisi inilah, bus akan berhenti dan sopir meminta semua penumpang turun (kecuali yang sakit) untuk melapor.

Di depan pos, duduk seorang aparat kepolisian Brunei. Ia meminta daftar penumpang ke sopir, lalu berbicara sebentar. Terdengar kalimat yang terlontar adalah "mau senang atau susah". Sang sopir kemudian mengulang kalimat tersebut ke para penumpang, "Mau senang atau susah, mau cepat atau lambat".

Sang sopir lalu masuk ke dalam pos polisi, sedangkan penumpang menunggu di luar. Hanya dua menit, ia keluar dan meminta penumpang kembali ke bus. Tak perlu pemeriksaan.

Hal yang sama terjadi pada penumpang bus lain yang datang belakangan. Setelah sang sopir masuk dan melapor, semua penumpangnya kembali ke bus, tanpa perlu diperiksa lagi.

"Hanya bus serta travel angkutan umum yang diperlakukan seperti ini," kata sang sopir. Memang terlihat, kendaraan pribadi bebas melintas di depan Pos Polisi Sungai Tujuh tanpa perlu berhenti atau melapor. "Ini sudah terjadi setahun lebih," jelas sopir bus.

Hari itu, jumlah penumpang bus milik BUMN ini sekitar 40 orang. Jadi, ada sekitar 38 dolar yang dikutip, dua penumpang tidak dimintai karena warga Brunei. Dalam kurun waktu sejam itu saja, ada bus lain yang juga melintas dengan tujuan yang sama. Ada DAMRI, SJS, EVA, dan beberapa perusahaan bus lainnya. Belum lagi mobil travel, kebanyakan menggunakan Toyota Innova, yang juga membawa penumpang belasan.

Kalau dalam sehari ada 1.000 warga dari Indonesia yang masuk ke Brunei melalui jalur darat, berarti ada sekitar 1.000 dolar Brunei yang jadi pungli oleh aparat kepolisian di Sungai Tujuh. Apakah seluruhnya masuk ke kantong polisi Brunei atau sebagian diambil oleh sopir bus? Wallahu'alam.

Praktik yang sama terjadi ketika penumpang angkutan umum hendak meninggakan Brunei menuju Indonesa dan harus melewati pos polisi yang sama. Bus akan berhenti dan sebelumnya sopir telah meminta satu dolar Brunei untuk setoran ke polisi yang bertugas di situ.

Wartawan Tribun Pontianak yang kembali melalui pos tersebut saat hendak meninggalkan Brunei, menceritakan, kali ini penumpang diminta turun semua dan masuk ke dalam pos polisi. Di dalam sudah ada petugas yang memegang daftar penumpang. Ia hanya membaca nama-nama dan mempersilakan kembali ke bus. Jadi, tak ada pemeriksaan apapun selain formalitas tadi.

Seorang penumpang mempertanyakan kepada sang sopir mengenai praktik pungli yang dilakukan aparat kepolisian Brunei. "Susah, Pak. Kalau tidak diberi, benar-benar dipersulit kita," jelas sang sopir. Ia mengatakan, ini juga salah "orang kita" sebelum-sebelumnya yang mau memberi setoran agar pemeriksaan bisa cepat. "Akhirnya sampai sekarang semua bus dan angkutan umum lain harus nyetor kalau melewati pos polisi ini," ujarnya.

Penumpang lain mempertanyakan apakah memang menjadi prosedur standar setiap bus angkutan umum yang melewati Imigrasi Brunei harus diperiksa oleh aparat kepolisian setempat. Sedangkan kendaraan pribadi tak diperiksa. "Ketika kita lewat Imigrasi Malaysia, kan tidak ada pemeriksaan. Hanya di Pos Polisi Sungai Tujuh Brunei yang seperti ini," ujarnya.

Sebagai informasi tambahan, bus dari Pontianak dengan tujuan Brunei berangkat pukul 07.00 WIB dan tiba keesokan hari di Bandar Seri Begawan pukul 10.00 waktu setempat . DAMRI misalnya, berangkat sekali sehari. Total ada empat bus yang dioperasikan untuk rute ini, sebagian masih gres. Dari Brunei, bus berangkat setiap pukul 15.00 waktu setempat dan tiba di Pontianak sekitar ukul 15.00 WIB keesokan harinya. Selain DAMRI, bus lain yang juga melayani rute yang sama adalah SJS, EVA, dan beberapa lainnya.

Bus dari Pontianak pertama kali melalui Pos Pemeriksaan Lintas Batas Entikong di Kabupaten Sanggau. Tak ada pemeriksaan berbelit-belit, cukup cop paspor. Penumpang kemudian berjalan kaki masuk ke wilayah Malaysia di Tebedu. Di sini, pemeriksaan juga tidak berbelit, cukup cop paspor. Aparat Bea Cukai Malaysia juga hanya memeriksa barang bawaan secara global, tidak sampai membongkar koper atas tas.

Bus selanjutnya melakukan perjalanan di wilayah Malaysia, mulai dari Serian hingga ke Miri. Selepas Miri, bus akan memasuki kawasan Sungai Tujuh. Inilah perbatasan antara Malaysia dan Brunei. Di kawasan inilah terdapat Pos Polisi Sungai Tujuh Brunei, yang setiap penumpang harus membayar satu dolar Brunei untuk setoran kepada aparat polisi yang bertugas di pos itu

Editor: Ina Maharani
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
438702 articles 11 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
© 2014 TRIBUNnews.com All Right Reserved About Us Privacy Policy Help Terms of Use Redaksi Info iklan Contact Us Lowongan
Atas