CITIZEN REPORTER
Wallacea Gelar Dialog Kampung
Laporan: Herawan Syamsuddin
Penulis: CitizenReporter | Editor: Ina Maharani
Laporan: Herawan Syamsuddin
TRIBUN-TIMUR.COM -- Bertempat di Wisma Puri Rimba, Kelurahan Battang Barat, Wara Barat, Kota Palopo ( 18 / 6 ) Perkumpulan Wallacea ( Wahana Lingkungan Lestari Celebes Area ) bekerja sama dengan Kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alama ( BKSDA ) wilayah I Palopo menggelar dialog kampung terkait dengan pengelolaan dan pemanfaatan kawasan hutan di wilayah Battang Barat, Mungkajang, Padang lambe dan Latuppa sekaligus membahas isu review UU No 41 tentang Kehutanan. Hadir dalam kesempatan tersebut al; Kabid BKSDA Ir.Bello Linthin, MM, Kabid. Kehutanan Pemkot Palopo, Drs.Rustam Kawaru, camat Wara Barat, A Waru Bintang S,Ip, Lurah Battang Barat, A.Muh.Asnawi Sari, S.Ip, Tomakaka Peta, para aktivis dan peccinta alam serta sejumlah tokoh masyarakat dari battang barat, padang lambe, latuppa dan mungkajang.
Pada pertemuan yang digelar selama 2 ( dua ) hari tersebut, dibahas tentang penguatan semangat kesepahaman dalam menjaga eksistensi masyarakat yang tinggal dan bermukim di kawasan hutan, dimana selama ini warga yang bermukin di kawasan hutan merasa terancam akan direlokasi dari kawasan hutan. Zaenal, salah seorang tokoh masyarakat Battang Barat dalam pertemuan tersebut mengharapkan kepada jajaran BKSDA agar memberi kesempatan kepada masyarakat yang bermukin dikawasann hutan untuk tetap tinggal didalam kawasan hutan dan melakukan kegiatan pengelolaan dan pemanfaaatan hutan secara proporsional. " masyarakat di battang barat, sudah komitmen untuk menjaga hutan sehingga insya Allah tidak akan merusak ekosistem didalamnya, oleh karena itu kami sangat tidak sepakat jika warga di kawasan hutan battang barat yang sudah puluhan tahun beranak pinak secara serta merta mau diusir, dimana lagi kami mau mengadu dan menempu hidup jika diusir " ucap pak Zainal yang akrba disapa pak wiwi.
Pak wiwi menambahkan bahwa selama ini masyarakat setempat dihantui oleh isu pengusiran atau relokasi warga battang barat dari kawasan hutan, padahal jika warga dipindahkan maka sangat mengganggu kelangsungan dan penghidupan mereka yang sudah mulai nyaman.
menanggapi keinginan masyarakat tersebut, Kabid BKSDA Ir.Bello Linthin, MM, menegaskan bahwa isu ppengusiran warga sama sekali tidak benar, justru BKSDA ingin membangun pola pemberdayaan terhadap masyarakat di kawasan hutan misalnya dengan memberi bantuan budidaya lebah madu, sehingga masyarakat kawasan hutan tidak lagi terfokus pada mata pencaharian yang menggantungkan diri pada hasil hutan semata. Kita tidak ingin masyarakat hutan melakukan kegiatan pembukaan lahan yang dapat merusak ekosistem hutan.
Sementera itu, Kabdi Kehutanan Pemkot Palopo, Drs.Rustam Kawaru yang tampil berbicara pada Dialog tersebut mengingatkan kepada warga yang berada dikawasan hutan untuk tidak melakukan kegitan perambahan hutan, dan juga pembakaran lahan tanpa melakukana koordinasi dengan pihak terkait, karena sangat membahayakan bagi keselamatan semua pihak.
Dialog yang dibuka secara resmi oleh Camat Wara Barat, A.Waru Bintang S.Ip tersebut dilaksanakan dua hari berturut. Camat Wara Barat dalam sambutannya saat membuka kegiatan dialog kampung tersebut mengungkapkan agar pengelolaan kawasan hutan kiranya dapat dilakukan dengan tetap memperhatikan sisi humanistik dan juga tetap berorientasi pada peningkatan kualitas eksosistem hutan, " eksosistem dalam hutan termasuk wara yang bermukim didalamnya tetap harus dijaga, Kalau binatang didalam hutan dapat dilindungi, masa manusia didalamnya mau disingkirkan, jadi saya berharap ada win-win solustion terhadap masalaha yang berkembang selama ini terkait dengan masalaha pengelolaan dan pemanfaatan kawasan hutan " ungkap mantan Lurah Tamarundung.
Warga yang hadir sempat kecewa dan menyesalkan ketidak hadiran anggota DPRD Kota Palopo yang membidangi masalah kehutanan tidak hadir pada pertemuan penting tersebut " kami tidak akan memperhitungkan lagi anggota dewan yang tidak memperhatikan nasib kami selaku warga kawasan hutan " ungkap salah seorang tokoh pemuda yang enggan disebut namanya.