Senin, 24 November 2014
Tribun Timur
Home » Opini

Tahap Kritis Konflik Warga, Deskripsi Perang Brutal Di Kandea

Rabu, 29 Mei 2013 20:30 WITA

Tahap Kritis Konflik Warga, Deskripsi Perang Brutal Di Kandea
dok. tribun
Dosen ILmu Komunikasi Unhas.
Siang itu, warga Kandea 3 tengah asyik menonton acara TV di rumah masing-masing. Sementara warga lainnya, sibuk dengan urusan rutin rumah tangga, sembari menikmati hari libur Waisak. Namun, secara tiba-tiba terdengar hiruk pikuk disertai deru rombongan kendaraan pengantar jenazah yang berasal dari Kandea 6 Bungaejayya. Mobil jenazah dan Angkot bermuatan anak muda yang diiringi konvoi  berkendaraan motor, seketika menyerang  penghuni kandea 3.
Perang antar anak lorong pun pecah. Kali ini, perang tidak hanya menggunakan batu, tetapi menggunakan busur (besi yang sudah ditajamkan layaknya anak panah). Bahkan, dari kelompok Kandea Bungaejayya nampaknya telah mempersiapkan diri dengan membawa peralatan perang berupa Senapan Angin, Jerigen berisi bensin, dan sejumlah Bom Molotov (botol berisi bensin dan bersumbu api).
Mobil jenazah melanjutkan perjalanan. Sementara itu, sebagian pengantar dari anak muda Kandea 6 Bungaejayya  memilih tinggal. Mereka melanjutkan perang. Bunyi ledakan Mercon bersahut-sahutan menandakan perang antar lorong sudah berkecamuk. Seolah bunyi Mercon itu, sebagai penyemangat, sekaligus membuyarkan ketakutan mereka dari bunyi letusan senjata aparat.
Kebetulan, saya menyaksikan langsung kejadian tersebut, bersama warga lainnya yang ikut menonton. Namun, yang membuat saya malu campur geram, adalah ketika menyaksikan aparat kepolisian yang sedang menenteng senjata berlaras panjang dipukul mundur oleh kelompok penyerang dari anak muda Kandea Bungaejayya. Aparat kepolisian itu, lari terbirit-birit membelakangi gerombolan anak muda yang mengejarnya dengan bersenjatakan batu dan busur panah.
Di tempat aman, saya pun menyaksikan dari kejauhan tangan sang polisi berdarah. Mungkin terkena busur panah, atau peluru Senapan Angin. Dalam hati, saya bergumam, kenapa ia tidak menggunakan senjatanya guna melumpuhkan siperusuh? Kita tentu bisa memaklumi, bahwa dalam kondisi seperti itu, jika aparat kepolisian tersebut bertindak tegas dan profesional dengan menembak bagian yang melumpuhkan, tanpa bermaksud membunuh, masyarakat tentu tidak menyalahkan aparat tersebut.
Sungguh kasihan aparat kepolisian itu, karena telah menjadi tontonan  memalukan bagi masyarakat yang menyaksikannya. Sementara itu, gerombolan anak muda yang sedang berperang tersebut, seolah tambah yakin dan percaya diri serta merasa di atas angin untuk terus menerus meningkatkan serangannya.

Semakin Brutal
Karena aparat dianggap tidak berdaya, sementara warga masyarakat di masing-masing kelompok justru mendukung peperangan tersebut, maka perang pun semakin menjadi-jadi. Korban di kedua belah pihak tidak terelakkan. Entah berapa yang cedera terkena batu, busur panah, dan oleh peluru Senapan Angin. Namun, mereka tak perduli, seolah tak takut mati.
Perang semakin berkecamuk, sementara aparat kepolisian setempat semakin kewalahan. Bahkan ada diantaranya yang seolah sudah putus asa, dan memilih menonton bersama warga lainnya. Saya pun bergumam dalam hati; lantas apa bedanya aparat yang digaji oleh negara tersebut, dengan warga biasa lainnya?
Serangan Warga Kandea Bungaejayya semakin gencar, terlebih ketika bala bantuan mereka berdatangan entah dari mana. Seolah ada yang mengkordinir. Mereka pun serentak menyerbu pemukiman Kandea 3.
Akhirnya, Tak terelakkan lagi, sebuah rumah dibakar dengan lemparan bom Molotov. Bahkan, dua rumah di sekitarnya yang ditinggal penghuninya karena ketakutan, didobrak paksa, oleh kelompok penyerang. Isi rumah diobrak abrik. Televisi, kulkas dan perabot lainnya, diangkat paksa keluar, kemudian dihempaskan ke tengah kanal.
Warga Kandea 3 terdesak dan kewalahan. Mereka harus saling bantu memadamkan api agar tidak menjalar ke rumah lainnya. Sementara  itu, pemuda lainnya tetap melakukan perlawanan agar kelompok penyerang tidak semakin merapat. Tujuannya, mencegah kelompok penyerang agar tidak mendapat jangkauan lemparan Bom Molotov untuk   membakar rumah lainnya.
Perlawanan anak muda Kandea 3 menghalau kelompok penyerang tersebut, mendapat suport semangat dari warga, khususnya kaum ibu-ibu. Mereka menilai, anak muda mereka sebagai hero (pahlawan) yang mempertahankan kampung tempat tinggal mereka.
Tak lama berselang, Satuan Mobil Pemadam Kebakaran tiba dan langsung bertindak. Namun, akhirnya semprotan air mereka terhenti. Rupanya, kelompok penyerang menerror awak Pemadam dengan lontaran busur panah dan batu. Untung saja, upaya keras masyarakat memadamkan rumah yang terbakar, berhasil bersamaan bantuan semprotan pemadam pada kesempatan pertama.
Pascaterbakarnya rumah warga di Kandea 3, tersebar issu bahwa bakal ada serangan balasan membakar rumah. Sangat boleh jadi, Issu laten ini, sewaktu-waktu termanifestasi. Selama pelaku pembakar dan pendobrak yang mengobrak abrik isi rumah warga tidak tertangkap dan terhukum, demi memenuhi rasa keadilan si korban, maka selama itu pula terror aksi balas dendam tetap menjadi bahaya laten.

Stadium Kritis
Selama ini, setiap terjadi konflik warga di Makassar khususnya di titik rawan konflik seperti di Rappoconi, Jl Dangko/Abd Kadir dan Kandea,  belum sampai pada tahap membakar rumah warga. Barulah kali ini terjadi aksi pembakaran rumah di konflik warga Kandea. Ini tentu menjadi fenomena anomali pada stadium kritis, yang sifatnya serius untuk dicermati lebih jauh.
Biasanya, aksi pembakaran rumah warga pada peristiwa konflik, umumnya terjadi pada konflik yang bernuansa Suku, Agama, dan Ras seperti di Ambon dan Poso. Namun, apa yang terjadi di Kandea bukanlah konflik Agama, Suku atau Ras. Mereka lebur dalam kesamaan identitas sebagai warga yang mendekati ciri Slum Area (pemukiman kumuh).
Pemukiman di Warga Kandea memang padat penduduk. Tidak ada ruang publik sebagai tempat mengekspresikan kepenatan dan keterhimpitan dari beban hidup. Sarana ibadah minim. Kalau toh ada, tidak didayagunakan secara maksimal untuk fungsi sosial kemasyarakatan.
Pembinaan secara struktural seremonial, tanpa  disertai pendekatan fungsional dalam lokus informal, terbukti tidak efektif meredam gejolak emosi konflik yang sewaktu-waktu meledak. Buktinya, konflik kembali terjadi, tidak lebih 2 pekan setelah digelar acara perdamaian warga Kandea dan Bungaejayya. Bahkan, acara perdamaian dihadiri Walikota Ilham Arief Sirajuddin, sembari makan bareng daging sapi yang entah berapa ekor dipotong oleh Pak Camat setempat.
Wallahua'lam Bishshawab.(*)

Oleh;
Aswar Hasan
Dosen Ilmu Komunikasi Fisip Unhas
Editor: Aldy
Sumber: Tribun Timur

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas