Final Liga Champions
`Upaya Meredam "Suara Kematian"
`Upaya Meredam "Suara Kematian"
BINTANG-BINTANG yang biasanya bertaburan di langit malam, gemerlapnya memudar, karena kehadiran deretan bintang sepakbola yang berlaga di malam 19 Mei 2012 waktu setempat.
Saat itu, di atas rerumputan Stadion Allianz Arena, terjadi perang bharata-yudha antara FC Hollywood -Bayern Müenchen dan The Blues - Chelsea. Lebih separoh dari 62.500 penonton adalah fans setia tuan rumah, di final Liga Champions Eropa 2011/2012. Suara sekitar 17.500 fans Chelsea, tenggelam oleh pekik fans Die Rotten.
Apalagi, setelah tandukan Thomas Muller merobek gawang Petr Cech di menit ke-83; fußball Arena Müenchen meledak oleh sorak-sorai kegirangan mayoritas penonton. Kemenangan sudah di depan mata, bayangan tropi Champions ke-5 memenuhi memori dan pelupuk mata mayoritas penonton.
Terbayang, Bastian Schweinsteiger cs tampil di podium mengangkat tropi. Fans Chelsea tenggelam kian larut dalam duka nestapa, saat laga tersisa 7 menit. Dua menit menjelang pertarungan usai, di bawah teror tuan rumah, Didier Drogba melompat tinggi menyambut tendangan penjuru Juan Mata. Tandukannya menjebol pertahanan kiper Manuer Neuer: 1-1.
Perpanjangan waktu 2x15 juga berakhir adu penalti. Drogba jadi penentu kemenangan Chelsea. The Blues menari-nari kegirangan, pasukan perang Roberto di Mateo menaklukkan panzer Jerman di kandangnya. Fans Müenchen berbelasungkawa. Allianz Arena pun jadi lembah air mata.
Arjen Robben cs tertunduk. Ia meratapi kegagalan. Mereka terjerembab ke jurang kegagalan. Yang ada berubah jadi tiada.
Manusia berada di antara ada dan ketiadaan, ujar Martin Heidegger, filsuf masyhur Jerman. Heidegger seolah hadir di Allianz Arena, sambil meneguhkan tesis-nya bahwa manusia seolah hidup di sebuah tempat yang diapit jurang dalam.
Di antara finalis Liga Champions musim ini, Bayern Müenchen dan Borussia Dortmund, terentang jurang 25 poin kompetisi Bundesliga, apalagi ketika Müenchen meluluh-lantakkan tim terbaik dunia Barcelona dengan 4-0 di Allianz Arena, dan menaklukkan keangkeran Camp Nou dengan melumat El Blaugrana 3-0. Jupp Heynckes, pelatih Bayern, ingin meninggalkan kenangan manis untuk Allianz Arena sebelum perannya digantikan Pep Guardiola.
Setiap orang takut mati, ujar Heidegger, dan dalam keadaan seperti itu orang menyibukkan diri dengan banyak kegiatan dalam rangka membungkamkan "suara kematian" yang menghantui. Heynckes meramu tim-nya untuk meredam "suara kematian" akibat kekalahan tak terduga dari Chelsea di musim lalu.
Namun, "suara kematian" itu mungkin masih akan terus menyengat Heynckes dan Bayern, karena Juergen Klopp, pelatih Die Borussen, menurut tabloid The Mirror UK, terkenal piawai menangkap imajinasi penggemarnya di mana-mana. Bagai kuda perang dari Lembah Ruhr, Borussia Dortmund memasuki "tembok besar" London.
Pasukan perang kavaleri itu telah berada di garda depan padang pertempuran Wembley, London. Jika mereka gugur dalam laga di rerumputan hijau dini hari nanti, Heynckes akan mengakhiri musim ini dengan manis. Namun kuda-kuda perang dari Lembah Ruhr itu takkan menyerah sebelum bertempur, mereka bahkan siap menggilas pasukan Heynckes, sambil memperpanjang "suara kematian" Der Bavarian di medan pertempuran benua biru.***