Menemukan Indonesia yang Hilang
Pemahaman tentang jati diri bangsa di era reformasi ini seakan hilang seiring dengan pudarnya rasa nasionalisme
Dalam karya Kishore Mahbubani “Bisakah Orang Asia Berfikir (Can Asians Think?)”, menguraikan bahwa, bangsa Indonesia saat ini mengalami keterpurukan disegala bidang yakni; secara politik, tidak stabil karena terjadinya korupsi di berbagai lembaga pemerintahan dan penyelewengan oleh orang-orang yang justru mengembang amanah rakyat. Secara ekonomi, tidak sejahtera karena tingkat kemiskinan yang masih tinggi. Secara sosio kultural khususnya pendidikan masih tertinggal karena mutu pendidikan masih rendah. Untuk itu, Indonesia jika ingin bersaing di era globalisasi yang terbuka dan serba teknologi harus bangkit melawan keterpurukan tersebut dan meningkatkan kualitas manusianya.
Pudarnya Nasionalisme
Pemahaman tentang jati diri bangsa di era reformasi ini seakan hilang seiring dengan pudarnya rasa nasionalisme yang ditandai timbulnya etnosentrisme yang lebih mengedepankan kesukuan daripada persatuan bangsa. Kemudian cepatnya arus globalisasi berimbas pada buruknya moral bangsa yang terkontaminasi dengan budaya barat. Selain itu, kita harus menyaksikan pula aksi kekerasan, tindak kriminal, tawuran antarpelajar dan antar mahasiswa dan terjadinya krisis kepercayaan terhadap lembaga penegak hukum. Kesemuanya itu merupakan pengkhianatan atas nama kebersamaan, persatuan dan kesatuan bangsa.Memudarnya rasa nasionalisme masyarakat Indonesia khususnya para pemuda terhadap bangsa akan mengancam bahkan menghancurkan bangsa sendiri. Hal ini disebabkan melemahnya ketahanan nasional sehingga dengan mudah dimasuki dan ditembus oleh bangsa luar. Kalau dimasa penjajahan masyarakat kita dijajah secara fisik, tetapi di era sekarang ini kita dijajah secara mental dan ideologi. Derasnya budaya dan paham dari luar yang masuk di negara kita, sehingga dengan mudah diterima tanpa ada filteralisasi yang menyebabkan terjadinya akulturasi, bahkan berdampak pada hilangnya kebudayaan dan kepribadian yang seharusnya menjadi identitas dan jati diri bangsa.
Tertinggalnya negara Indonesia terhadap negara-negara lain membuat kita “tidak bangga” menjadi bangsa Indonesia. Selanjutnya paham liberalisme dan kapitalisme yang menggerogoti bangsa ini ikut memberi andil terhadap kekacauan kehidupan bangsa, dimana masyarakat Indonesia secara individual lebih memikirkan diri sendiri dibandingkan memperhatikan kondisi bangsa, sehinga menimbulkan sifat pesimistis terhadap pemerintahan.
Salah satu faktor penyebab ketertinggalan negara kita dibandingkan dengan negara lain karena masih merajalelanya korupsi yang dilakukan oleh para pemegang kekuasaan, bahkan praktek korupsi kelihatannya sudah menjadi budaya di negara ini. Para elite negara seakan tidak malu lagi melakukan korupsi bahkan mereka “bangga” ketika disebut koruptor karena merasa mampu mengambil uang negara. Disisi lain, kita harus melihat banyaknya masyarakat Indonesia yang menganggur, bahkan tidak sedikit mengadu nasib di negara orang menjadi TKI. Hal tersebut menjadi pemandangan yang cukup miris di negara kita yang kaya dengan sumber daya alam ini.
Peringatan Harkitnas bukan hanya sekadar melakukan upacara seremonial belaka, sebagai wujud penghargaan atas jasa para pahlawan yang berjuang melawan penjajah, tetapi mestinya kita maknai sebagai refleksi di tengah kondisi bangsa kekinian. Selain itu, kita jadikan sebagai alat kontrol untuk mengukur keterlaksanaan dalam mewujudkan pembangunan Indonesia. Olehnya itu, kesadaran untuk bersatu melawan segala bentuk praktek kotor sangatlah dibutuhkan untuk membangun bangsa Indonesia di era globalisasi ini.
Menguatkan Jati diri
Salah satu ancaman terbesar terhadap keutuhan negara selain karena korupsi adalah adanya pengingkaran terhadap pancasila yang merupakan pilar utama negara bersama dengan UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika. Olehnya itu, masyarakat Indonesia harus memelihara dan mempertahankan ketiga pilar tersebut untuk menguatkan jati diri bangsa. Jangan hanya dijadikan sebagai pemanis atau slogan semata, tapi perlu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari baik secara mikro dalam lingkup keluarga, maupun secara makro dalam lingkup berbangsa dan bernegara.Bhinneka Tunggal Ika harus dipahami secara menyeluruh, bahwa negara Indonesia yang kita cintai ini merupakan negara yang unik karena terdiri dari berbagai macam etnik, tapi di ikat dalam ikrar sumpah pemuda dengan konsep satu tanah air yakni Indonesia, satu bangsa yakni bangsa Indonesia dan menjunjung tinggi bahasa persatuan yakni bahasa Indonesia. Singkatnya bahwa, kemajemukan jangan dijadikan sebagai bentuk perpecahan tetapi merupakan rahmat dari Sang Pencipta.
Nasionalisme sangat dibutuhkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara karena merupakan wujud kecintaan dan kehormatan terhadap bangsa sendiri. Olehnya itu, kita sebagai bangsa Indonesia perlu menjaga keutuhan persatuan dan meningkatkan martabat bangsa dimata dunia internasional. Selain itu, juga perlu didukung oleh jiwa patriotisme sebagai wujud kesetiaan bangsa dan negara. Apabila jiwa nasionalisme dan patriotisme tertanam dalam diri bangsa Indonesia, maka akan menjadi negara dengan identitas diri yang kuat.
Untuk menguatkan jati diri bangsa, maka harus dibarengi dengan pemerintahan yang bersih. Menegakkan rasa keadilan tanpa membeda-bedakan. Kemudian menumbuhkan rasa kebanggaan terhadap bangsa dengan menggolarakan nasionalisme dalam diri masyarakat Indonesia serta mewujudkan kesejahteraan rakyat yang merata. Selain itu, perlunya menekan sikap etnosentrisme agar lebih mendahulukan kepentingan bangsa dibandingkan dengan kepentingan etnisitas.
Sebagai penutup, bangsa kita ini adalah bangsa yang sedang mencari jati diri yang hilang karena terpaan arus globalisasi dan pudarnya nasionalisme. Olehnya itu, tugas dan tanggungjawab bersama masyarakat Indonesia untuk membangkitkan nasionalisme agar bangsa Indonesia dapat berdiri dengan kaki sendiri. Mudah-mudahan dengan peringatan Harkitnas ke 105 ini dijadikan sebagai tonggak untuk mengokohkan identitas diri bangsa. Ada pepatah mengatakan; kalau bukan kita siapa lagi?, kalau bukan sekarang kapan lagi?(*).
Oleh;
Bustan