Konferensi Perdamaian Dunia di Kota Geng Motor
Geng motor hanyalah salah satu bentuk konflik sosial yang mewarnai pergaulan hidup kota Makassar
Sebuah kehormatan bagi Makassar dipercaya sebagai tuan rumah konferensi perdamaian dunia (CAPDI) II. Menarik untuk mengkaji alasan dibalik terplihnya Makassar sebagai tuan rumah mengingat masih banyak kota lain di Indonesia. Pertama, faktor Jusuf Kalla (JK). JK adalah ketua dua periode CAPDI, dan Makassar adalah kampung JK. Para pemimpin negara lain mungkin penasaran seperti apa Kota Makassar yang telah mencetak pemimpin perdamaian dunia sekelas JK. Kedua, seperti yang dikatakan JK kepada media, acara ini bersifat informal sehingga tidak perlu diadakan di ibu kota Jakarta. Saya lebih cenderung alasan pertama dibandingkan alasan kedua.
Jusuf Kalla
Bukan cuma di Indonesia bahkan dunia telah mengenal sosok JK sebagai ikon perdamaian dunia. Berbagai konflik dapat diselesaikan dengan damai berkat sentuhan dingin seorang JK. Dari konflik Ambon, Poso, Aceh hingga beberapa waktu lalu PMI dibawah komando JK dapat memasuki daerah muslim Rohingya di Myanmar. Padahal sebelumnya belum ada satupun organisasi kemanusiaan yang dapat menembus wilayah tersebut. Sekali lagi, JK membuktikan kepiawannya. Dunia internasional kembali tercengang.
Maka wajarlah jika Makassar sebagai kampung JK kemudian ditetapkan sebagai tuan rumah konferensi perdamaian dunia. Barangkali ada anggapan dari para delegasi negara lain sebagai kampung seorang juru damai dunia mestilah kota itu penuh rasa aman dan damai. Di kota itu tak akan ada lemparan panah tiba-tiba, pendemo anarkis, atau bahkan tikaman anggota geng motor kepada jurnalis apalagi pelemparan bom Molotov kepada tempat ibadah agama tertentu. Jika ini pertimbangan mereka, sepertinya kita perlu menginstrospeksi diri.
Geng Motor
Geng motor hanyalah salah satu bentuk konflik sosial yang mewarnai pergaulan hidup kota Makassar. Anggota geng motor tidak segan-segan melukai bahkan membunuh. Tak ayal kasus geng motor ikut menyedot perhatian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui akun twitternya per 11 Mei lalu.
Anarkisme geng motor yang beraksi saat malam hari khususnya di Makassar membuat kota ini menjadi tidak aman. Beberapa waktu lalu, kontributor Transtv Biro Makassar dan jurnalis Fajartv terkena tikaman anggota geng motor. Entah apakah kontrbutor Transtv tersebut memang telah menjadi target atau tidak. Namun, yang pasti bahwa ada program berita di Transtv yang intens memberitakan konflik atau kasus negatif di Makassar terutama geng motor. Selain penikama, kasus anarkis lainnya yang tak kalah parahnya adalah pelemparana bom molotov dan pembakaran motor.
Jika kasus ini terus dibiarkan bukan hanya akan mengganggu keamanan tetapi juga ancaman bagi generasi muda Makassar. Tak lain karena pelaku geng motor khususnya geng Mapakoe rata-rata berumur 14-17 tahun. Bahkan ketuanya, Ari Katambo, masih berusia siswa SMA. Remaja seusia sekolah yang kerap kali berkeliaran ketika malam patut menjadi pertanyaan, apakah orang tua mereka tahu kelakuan anak mereka?Demikian pula motor yang digunakan oleh siswa, tentu tak lepas dari izin orang tua.
Ketegasan Aparat
Perilaku anarkis geng motor seyogyanya sudah lama terjadi seperti halnya kasus-kasus anarkisme yang lain. Namun perhatian baru diberikan porsi lebih ketika sudah jatuh korban dan menjadi berita nasional. Ketidaktegasan aparat dalam mengusut pelaku anarkisme ditengarai sebagai penyebab utama. Rata-rata anggota geng motor masih berusia SMA dan belum memiliki SIM. Begitupun dengan pelanggaran fisik motor seperti penggunaan knalpot racing dan kelengkapan alat-alat motor seperti spion. Ke manakah fungsi pengawasan polisi lalu lintas?
Pasca twittan SBY, polisi baru segera bertindak dengan menangkap Ari Katombo di Kendari. Entah atas nama gengsi sebagai sebuah institusi keamanan atau memang karena keseriusan polisi khususnya polda Sulsel menuntaskan kasus ini. Konflik-konflik sosial seperti anarkisme geng motor selama ini memang kurang dilirik dibandingkan penggerebakan judi atau narkoba.
Konferensi Perdamaian
Ditengah berbagai konflik sosial, Makassar mendapat kepercayaan sebagai kota penyelenggara konferensi perdamaian dunia. Konferensi ini memang bukan acara kenegaraan tetapi para delegasi yang hadir adalah para pemimpin atau mantan pemimpin negara dari Asia Pasifik bahkan dari Uni Eropa. Ribuan personil dan bahkan paspamprespun ikut diturunkan untuk mengamankan jalannya konferensi.
Penyelenggaraan ini dengan liputan berbagai media nasional dan internasional adalah kesempatan baik bagi Makassar untuk menunjukkan eksistensinya sebagai kota aman dan ramah. Apalagi Suku Bugis-Makassar yang dikenal sangat memuliakan tamu. Kesempatan ini sekaligus kesempatan untuk menunjukkan Makassar tidak seperti yang kerap diberitakan media.
Sebagai pemimpin negara tentu mereka akan selalu up date dengan informasi terkini termasuk dan terutama pemberitaan media tentang Makassar. Pihak penyelenggara tentu saja mesti memberi asupan informasi yang berkualitas. Beberapa hari sebelum konferensi dihelat, pihak panitia menjaring volunteer sebagai LO (Liaison Officer) yang akan mendampingi tiap delegasi. Para LO berasal dari berbagai institusi terutama dari kalangan mahasiswa yang diseleksi dengan dasar kriteria tertentu. Nantinya mereka akan menjadi Duta Indonesia yang akan menemani dan membantu mengatur agenda para delegasi. Kecermatan mereka dalam memberi asupan informasi yang tepat tentang Makassar sangat penting. Sebab duta bangsa bukan sekedar soal manisnya senyum Indonesia yang dikenal hobi tersenyum tetapi juga kualitas wawasan yang dimilikinya.
Pelajaran
Kita semua berharap poin-poin yang nantinya disepakati dalam konferensi bukan hanya berdampak ke luar dalam skala dunia tetapi juga terutama kepada skala lokal. Jangan sampai kita menjadi penyelenggara konferensi yang ikut membantu perdamaian dunia tetapi konflik di kota sendiri tidak kunjung usai. Jika aparat tak kunjung menyelesaikan kasus geng motor atau tawuran sesama mahasiswa/warga dan kasus lain, barangkali JK harus turut campur tangan. Sungguh aneh, jika di kota ini terlahir juru damai dunia yang ikut andil membantu perdamaian dunia tetapi konflik di kampung sendiri tidak kunjung terselesaikan.
Oleh;
Arifuddin
Mahasiswa Pend. Bhs Inggris UIN Alauddin Makassar