AGH Haritsah itu Benteng Pesantren di Sulsel
"Hari ini tanggal 20 Mei, hari kebangkitan nasional, sejam yg lalu, guru kami berpulang ke Rahmat Allah, Ilahi Rabbi Innalillahi wainna ilahi raji'un.
Tayang:
Penulis: Abdul Azis | Editor: Thamzil Thahir
MAKASSAR, TRIBUN - Dr Ahmad Baso, komisioner Hak Azasi Manusia (HAM) 2007-2012 menyatakan keduakaan yang mendalam atas meninggalnya Anre Gurutta Haji M Haritsah AS, di Makassar, Senin (20/5/2013).
Melalui akun facebooknya, santri angkatan pertama Pondok Pesantren An Nahdlah UP Layang Makassar ini, menyebut Kiai Haritsah sebagai "gurunda".
"Hari ini tanggal 20 Mei, hari kebangkitan nasional, sejam yg lalu, guru kami berpulang ke Rahmat Allah, Ilahi Rabbi..... Innalillahi wainna ilahi raji'un... Kami para santri beliau merasa kehilangan.. "
Ahmad Baso yang kini tengah merampungkan ensiklopedi Pesantren Studies 14 Jilid, di Jakarta ini, memuji kapasitas keilmuan gurunya.
"Ilmunya seorang ulama hebat, ulama nasionalis dan pendekar Aswaja, benteng NU dan banteng-nya pesantren di Sulawesi Selatan," tulisnya.
Dia mengatakan, sebagai santri dia akan mewarisi.... dan akan melanjutkan. perjuangan menjaga pesantren sebagai pencetak ulama dan intelektual Muslim.
"Ada ribuan santri dan alumni beliau... Semua akan melanjutkan dedikasi dan perjuangan beliau... Pesantren beliau harus terus dilanjutkan... Keluarga beliaulah yg berhak melanjutkan amanah mengurus pondok... kami para santri dan alumni akan mengawal agar pesantren tetap hidup dan tidak jatuh ke tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.... Kata pepatah, satu hilang, dua terbilang; mati satu tumbuh seribu. Cita-cita anregurutta untuk kemajuan Indonesia, Aswaja, NU dan pesantren tetap akan abadi, dan akan terus mengilhami generasi kalangan pesantren berikutnya.
Ya Allah terimalah guru kami sebagai hamba-Mu yang terpilih, dekatkanlah di sisi-Mu, dan lindungilah beliau bersama hamba-hamba-Mu yg Engkau cintai bersama-sama para Nabi dan Rasul-Mu.... Amin Ya Rabbal'alamin..... Al-Fatihah....
Selamat jalan Gurunda... suatu saat kita akan bertemu lagi di depan pintu keridaan Allah subhanahu wataala...dan di dekat telaga al-haudl di bawah naungan syafaat junjungan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam...... Kami akan terus mengingat dan mendoakan keselamatan Gurunda...."