Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Melek Media di Era Media

Media membawa dunia masuk ke dalam rumah kita.

Tayang:
Editor: Aldy
Agak sulit kita menghindar dari terpaan media (media exposure) saat ini. Kalaupun itu terjadi, maka hidup akan terasa sepi dan dianggap ketinggalan informasi. Coba lihat, betapa di sekeliling kita 'dikepung' oleh media informasi dan komunikasi, mulai televisi, radio, surat kabar, sampai televisi kabel. Diantara media-media massa itu, televisi mengalami perkembangan yang sangat pesat. Televisi telah begitu akrab dengan keseharian masyarakat Indonesia. Salah satu kelebihan yang dimiliki media televisi adalah kemampuan audio visual-nya.
Apalagi jika kelak, pada tahun 2015, penyiaran digital di Indonesia benar-benar diberlakukan (sekarang sedang uji coba), maka akan semakin membuka peluang bertambahnya siaran televisi dan radio. Pasalnya, dalam penyiaran digital 1 kanal frekuensi yang saat ini digunakan oleh televisi akan menjadi 8 sampai 12 kanal. Jadi dari 11 kanal televisi nasional, akan menjadi 88 sampai 131 kanal/siaran televisi digital. Belum termasuk media online melalui internet yang berisikan berbagai media online seperti radio dan televisi streaming.
Kalau kita keukeuh menghindari media massa, setidaknya kita akan terlibat dalam pembicaraan publik atau kelompok maupun pribadi di sosial media seperti facebook, twitter, youtube, path, atau Blackberry Messengger (BBM), yang juga isi pembicaraannya tidak lepas dari isu-isu yang juga dibahas dalam media massa.
Media membawa dunia masuk ke dalam rumah kita. Melalui media, kita belajar tentang berbagai macam bentuk kehidupan, senang dan  susah,  persahabatan dan permusuhan, kaya dan miskin, cinta dan kebencian, kebahagiaan  dan penderitan, kebenaran dan kelicikan, dll. Kita sangat bergantung pada komunikasi massa untuk mengetahui apa yang sedang terjadi pada lingkungan fisik, sosial, ekonomi, dan politik. Dengan kata lain, hampir semua yang kita ketahui tentang orang, tempat, dan peristiwa yang tidak dapat kita kunjungi justru datang dari media. Kita juga mengandalkan media untuk hiburan dan kesenangan. Inilah yang dimaksud oleh Tyner dan Kolkin, dimana televisi dan film telah menjadi pendongeng generasi kita. Kisah-kisah ini memberitahu kita tentang siapa kita, apa yang kita yakini, dan apa yang kita inginkan.
Kita memang sedang dalam abad media. Oleh karena itu kita perlu melek media, media literacy, sehingga kita dapat menggunakan media secara baik dan benar. Dalam kaitan tersebut kita dituntut bukan hanya perlu mengenal dan mengetahui karakter dan latar belakang sebuah informasi mengapa dimuat di media, akan tetapi juga mampu membuat media dan membagi informasi guna menebar kebaikan di bumi ini. Media literacy merupakan upaya penting untuk mengetahui lebih detil 'rupa' media massa yang sesungguhnya.
Menurut Tallim, media literacy juga dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menyaring dan menganalisis pesan yang diinformasikan, menghibur, dan menjual kepada kita setiap hari. Secara lebih dalam, media literacy adalah kemampuan untuk membawa keterampilan berpikir kritis untuk menghadapi semua dampak dari paparan media, video, musik, dan web/internet.
Melek media adalah kemampuan mengurai konten media sehingga seseorang bisa memilah mana konten yang sifatnya memberikan informasi, menghibur, dan merupakan kemampuan insting untuk mengejar apa yang ada di belakang produksi media, apa motifnya, uangnya, nilai-nilai dan pemiliknya, dan kemampuan insting untuk mengetahui bagaimana faktor-faktor ini mempengaruhi konten media (Jane Tallim, 2011).

Menurut Elizabeth Thoman (2011), terdapat 3 tahapan dalam melek media. Tahap pertama adalah tahap dimana kita cukup dituntut untuk menyadari pentingnya kita menata 'asupan' media kita, yakni bagaimana kita memilih dan mengurangi waktu yang kita luangkan untuk menonton televisi, video, bermain game, nonton film, dan melihat berbagai media cetak lainnya.
Tahap kedua adalah belajar melihat kritis, seperti belajar menganalisa dan menanyakan apa yang terkandung dalam suatu kerangka media, bagaimana itu dikonstruksi, dan apa yang kemungkinan tertinggal/tidak tercakup. Keterampilan melihat kritis ini sebaiknya dipelajari di dalam kelas atau kegiatan interaktif lainnya dalam kelompok, termasuk mempelajarinya melalui kegiatan menciptakan media sendiri.
Tahap ketiga adalah mengeskplorasi secara lebih dalam isu-isu di belakang frame suatu media. Kita berada pada tahapan mengetahui siapa yang memproduksi media, apa maksudnya, apa manfaatnya bagi kita, siapa yang diuntungkan, dan siapa yang dirugikan. Tahap analisis sosial, politik, dan ekonomi ini melihat bagaimana setiap orang dalam masyarakat memaknai media dan bagaimana media massa mengatur arah ekonomi global masyarakat. Hasil eksplorasi ini kadang-kadang menuntut perlunya upaya-upaya advokasi media untuk membenahi kebijakan-kebijakan publik dan praktek praktek bisnis.
Media literacy terutama perlu dikembangkan bagi generasi muda. Sebagai pemuda harapan bangsa, kita harus mampu secara cerdas memberi 'asupan informasi' kepada diri kita. Kalau yang diterima adalah informasi yang berkualitas, tentu akan berdampak positif bagi perkembangan pemikiran dan sikap serta tingkah laku kita. Demikian pula sebaliknya. Jangan sampai generasi kita 'dicekoki' oleh informasi yang tidak bermutu dan menerima begitu saja apa yang ditampilkan di media massa.
Dalam hal ini, media massa memiliki kemampuan untuk membangun pencitraan dalam benak generasi muda serta turut serta dalam membentuk pendapat mereka, termasuk melakukan kegiatan positif serta menjauhi kegiatan yang merusak, seperti tawuran, balapan liar, geng motor, dan sebagainya. Media literacy, pada gilirannya, dapat menjadi langkah antisipatif bagi generasi muda dalam menghadapi konflik serta menentukan langkah mereka yang lebih bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Ada pameo, "You Are What You Browse" dan "You Are What You Read And Watch". Kamu adalah apa yang kamu browsing di internet serta apa yang kamu tonton dan baca. Semoga kita tergolong orang yang berkualitas karena mengkonsumsi informasi yang berkualitas.(*)

Oleh;
Hidayat Nahwi Rasul
Director CICS: Centre for Information and Cultural Studies

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved