Martinus: Anak Yohanis Sempat Bermimpi Ayahnya Kecelakaan
Empat warga Palopo, yang meninggal saat kecelakaan di Pangkep
Tayang:
Penulis: Sudirman | Editor: Muh. Taufik
PALOPO, TRIBUN-TIMUR.COM- Empat warga Palopo, yang meninggal saat kecelakaan di Pangkep tiba di rumah duka sekitar pukul 20.00 WITA.
Ratusan warga Palopo, telah berdatangan di rumah duka untuk menyaksikan mayat kedua pasangan suami istri tersebut.
Sementara tiga korban kecelakaan yaitu Yohanis Pareken, dan pasangan suami istri Ester Bato, Esranda Lembang, masih tinggal bertetangga di Jl. Gunung Jati Palopo.
Sementara satu korban lainnya Hamka Basir merupakan warga Kabupaten Luwu.
Pasangan suami istri Ester Bato dan Esranda Lembang langsung dimasukkan ke dalam rumah dan dalam satu kamar.
Tetangga korban, Daniel, mengatakan Esranda Lembang, telah lama menderita penyakit gula, namun baru satu minggu dia merasakan penyakit tersebut.
Ia menambahkan sejak minggu lalu Esranda telah masuk ke rumah sakit at medica Palopo, namun tidak ada perubahan sehingga dia minta untuk di rujuk ke Makassar.
"Selain penyakit gula, ia juga menderita penyakit maag" ungkapnya.
Pasangan Ester Bato dan Esranda Lembang memiliki empat orang anak, tiga orang perempuan dan 1 orang laki - laki.
Sementara anaknya Esri yang sementara dirawat di salah satu rumah sakit di Makassar saat ini bekerja di Universitas Cokrominoto Palopo.
Dari pantauan Tribun, saat jenasah tiba di rumah duka, sejumlah keluarganya tidak bisa menahan tangisnya dan sebagian langsung pigsan.
Begitupula di rumah kediaman, Yohanis Pareken, ratusan pelayat juga telah memadati rumah duka.
Kerabat Yohanis Pareken, Martinus, saat ditemui dirumah duka, mengatakan kerabatnya tersebut salah seorang yang ceria dan orangnya sangat baik.
Ia menambahkan namun sebelum ia meninggal beberapa tanda - tanda seperti saat dirinya mengantar tetangganya ke Makassar kemarin malam, anaknya sempat bermimpi jika bapaknya kecelakaan dalam perjalanan, saat itu istrinya langsung menyuruh anaknya untuk membacakan doa kepada ayahnya.
Tak lama kemudian, kabar kecelakaan Yohanis pun masuk lewat handphone.
Selain itu saat rapat bersama seluruh kepala sekolah ia sempat menghayal padahal hal tersebut tidak pernah ia lakukan.
Bahkan pada hari sabtu yang lalu dirinya sempat mengelilingi sekolahnya padahal saat itu hujan deras melanda kota Palopo, namun hujan tersebut tidak pernah ia pedulikan.
Sebelum berangkat ke Makassar, rencananya istrinya Yohanis yang akan berangkat ke Makassar, namun karena dia tidak mengerti bicara dengan dokter maupun jalan ke Makassar sehingga ia meminta suaminya untuk mendampingi tetangganya tersebut.
"Orangnya sangat baik, banyak sekali bantuan kepada guru, bahkan dia adalah orang panutan, baik kalangan Gereja. Maupun di masyarakat" ungkapnya.
Yohanis Pareken, meninggalkan empat orang anak , 1 orang laki - laki dan tiga orang perempuan. (*)
Ratusan warga Palopo, telah berdatangan di rumah duka untuk menyaksikan mayat kedua pasangan suami istri tersebut.
Sementara tiga korban kecelakaan yaitu Yohanis Pareken, dan pasangan suami istri Ester Bato, Esranda Lembang, masih tinggal bertetangga di Jl. Gunung Jati Palopo.
Sementara satu korban lainnya Hamka Basir merupakan warga Kabupaten Luwu.
Pasangan suami istri Ester Bato dan Esranda Lembang langsung dimasukkan ke dalam rumah dan dalam satu kamar.
Tetangga korban, Daniel, mengatakan Esranda Lembang, telah lama menderita penyakit gula, namun baru satu minggu dia merasakan penyakit tersebut.
Ia menambahkan sejak minggu lalu Esranda telah masuk ke rumah sakit at medica Palopo, namun tidak ada perubahan sehingga dia minta untuk di rujuk ke Makassar.
"Selain penyakit gula, ia juga menderita penyakit maag" ungkapnya.
Pasangan Ester Bato dan Esranda Lembang memiliki empat orang anak, tiga orang perempuan dan 1 orang laki - laki.
Sementara anaknya Esri yang sementara dirawat di salah satu rumah sakit di Makassar saat ini bekerja di Universitas Cokrominoto Palopo.
Dari pantauan Tribun, saat jenasah tiba di rumah duka, sejumlah keluarganya tidak bisa menahan tangisnya dan sebagian langsung pigsan.
Begitupula di rumah kediaman, Yohanis Pareken, ratusan pelayat juga telah memadati rumah duka.
Kerabat Yohanis Pareken, Martinus, saat ditemui dirumah duka, mengatakan kerabatnya tersebut salah seorang yang ceria dan orangnya sangat baik.
Ia menambahkan namun sebelum ia meninggal beberapa tanda - tanda seperti saat dirinya mengantar tetangganya ke Makassar kemarin malam, anaknya sempat bermimpi jika bapaknya kecelakaan dalam perjalanan, saat itu istrinya langsung menyuruh anaknya untuk membacakan doa kepada ayahnya.
Tak lama kemudian, kabar kecelakaan Yohanis pun masuk lewat handphone.
Selain itu saat rapat bersama seluruh kepala sekolah ia sempat menghayal padahal hal tersebut tidak pernah ia lakukan.
Bahkan pada hari sabtu yang lalu dirinya sempat mengelilingi sekolahnya padahal saat itu hujan deras melanda kota Palopo, namun hujan tersebut tidak pernah ia pedulikan.
Sebelum berangkat ke Makassar, rencananya istrinya Yohanis yang akan berangkat ke Makassar, namun karena dia tidak mengerti bicara dengan dokter maupun jalan ke Makassar sehingga ia meminta suaminya untuk mendampingi tetangganya tersebut.
"Orangnya sangat baik, banyak sekali bantuan kepada guru, bahkan dia adalah orang panutan, baik kalangan Gereja. Maupun di masyarakat" ungkapnya.
Yohanis Pareken, meninggalkan empat orang anak , 1 orang laki - laki dan tiga orang perempuan. (*)