Sabtu, 20 Desember 2014
Tribun Timur

Ansor-PKB Wajibkan Kader Nonton

Selasa, 7 Mei 2013 02:38 WITA

Ansor-PKB Wajibkan Kader Nonton
Sejumlah kader muda NU Sulsel menampilkan gambar film Sang Kyai di foto profil BlackBerry Messenger (BBM).
MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM - Kader Nahdlatul Ulama (NU) tak sabar lagi menunggu pemutaran Film Sang Kyai. Produser sudah melansir, film yang mengisahkan pendiri NU KH Hasyim Asy’ari ini tayang perdana  20 Mei. Masih 15 hari. Tapi, kader NU sudah sibuk pesan karcis.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sulsel Azhar Arsyad dan Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor Sulsel M Tonang Cawidu, serta Ketua Ikatan Sarjana NU (ISNU) Sulsel KM Mahmud Suyuti sudah menyiapkan sejumlah agenda strategis menyambut pemutaran “film suci” itu.

“Seluruh kader PKB wajib nonton film ini. Bukan karena lagi musim pencalegan, tapi karena memang film itu sangat berguna untuk meningkatkan kesadaran kader PKB dalam membangun bangsa dan negara sesuai yang digariskan Hadratusysyaikh Hasyim Asya’ary,” jelas Azhar di sela-sela sosialisasi di Malili, Luwu Timur, Sabtu (4/5).
Persiapan menyambut film kolosal itu juga dibicarakan sejumlah kader muda NU di sela-sela takziyah atas berpulangnya ke rahmatullah salah seorang putri tokoh NU, Andi Saidah binti Hamzah Badawi di Jl Salemba, Makassar, tadi malam.

“GP Ansor sudah membentuk panitia yang bertugas mencari karcis sebanyak-banyaknya. Kami juga akan membicarakan teknis nonton bareng berkali-kali dengan pengelola bioskop,” ujar Tonang.
Menurut Tonang, Sang Kyai sudah lama dinanti warga nahdliyyin. Dia memastikan animo masyarakat menonton Sang Kyai tak akan kalah dengan Sang Pencerah yang mengisahkan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Film ini tayang perdana, September 2010.

Gema Sang Kyai sudah menggaung di Makassar sejak beberapa hari lalu. Sejumlah kader muda NU Sulsel menampilkan gambar film itu di foto profil BlackBerry Messenger (BBM).

Ajak SBY
Ketua Umum DPP PKB H Abdul Muhaimin Iskandar juga sudah menyerukan kewajiban bagi warga nadhliyyin dan segenap elemen bangsa untuk menonton Sang Kyai dalam rangka memupuk semangat nasionalisme.

“Wajib hukumnya nonton film ini dan saya akan mendorong, menggerakan warga nadhliyyin khusus nya serta komponen bangsa untuk menonton film ini, demi Indonesia demi Mbah Hasyim,” kata Muhaimin di sela pertemuannya dengan Produser Rapi Film, Gope Samtani, yang memproduski Sang Kyai di kantor Kementian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Jum’at (3/3).

Menurutnya, Sang Kyai yang mengisahkan Kyai Hasyim Asy’ary bukanlah sembarang film. Muhaimin mengaku akan mengundang Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) berserta ibu Ani untuk menyaksikan pemutaran perdana Sang Kyai. “Insya Allah Pak SBY mau menyaksikan bersama, tinggal menunggu waktu yang tepat saja,” jelas Muhaimin.

Kesan Pemeran
Gope selaku produser mengaku sangat puas dengan hasil film kolosal yang baru kali pertama dibuatnya “Ini baru kali pertama Rapi Film membuat film kolosal, memang sangat-sangat over budget, melibatkan lebih dari 3000 orang figuran, namun, saya sangat puas dengan hasilnya, ada kebanggan tersendiri,” kata Gope.

Garapan Sang Kyai menurutnya adalah sebuah tantangan yang luar biasa, apalagi film ini mengkonstuksi tokoh sejarah, pendiri NU, pahlawan NKRI, Kiai Hasyim Asy’ary. “Saya khawatir tokoh yang kami perankan tidak sesuai, namun setelah diputar di PBNU trailernya, semua tepok tangan, hati saya lega, PBNU sendiri puas, tokoh kami betul-betul sempurna difilmkan, ” katanya mengisahkan.

Artis Cristine Hakim yang memerankan Nyai Kapu dalam pertemuan itupun tak lepas mengungkapkan kebanggaannya ikut terlibat dalam pembuatan film tersebut. Baginya KH Hasyim Asy’ary layak disematkan lebih dari hanya seorang pahlawan nasional.

“Lebih dari itu, seandainya beliau menghendaki Indonesia menjadi agama tentu bisa, tapi di situlah, subhanallah KH Hasyim tidak demikian, perjuangannya tidak sempit, beliau faham Indonesia adalah miniaturnya dunia, dengan keragaman budaya,” katanya.
Tribunnews menampilkan pengalaman sejumlah pemeran dalam Sang Kyai, akhir 2012 lalu.

Aktor muda Adipati Dolken mengaku melakukan persiapan khusus sebelum menjalani peran sebagai tokoh `Harun' dalam film itu.
"Beberapa bulan sebelum proses syuting, saya melalukan meditasi di beberapa daerah di Jawa Timur. Meditasi saya lakukan di pantai, bersantai di sana sambil mempelajari naskah," ujarnya ditemui di  sela-sela syuting film Sang Kyai, di Gedung Juang, Solo.

Harun sebenarnya adalah sosok fiktif rekaan sang Sutradara Rako Prijanto. "Harun itu anak pesantren yang bengal. Sifatnya sangat beda dengan tokoh Mbah Hasyim (KH Hasyim Asy'ari). Di pondok pesantren, dia sering melakukan pelanggaran, salah satunya sering ketemu sama tokoh remaja perempuan bernama Sari, hingga akhirnya kami dinikahkan," jelas Adipati.

Biaya Produksi
Sang Kyai diproduksi dengan nilai Rp 10 miliar. Angka ini merupakan rekor terbesar yang pernah dikeluarkan rumah produksi Rapi Film untuk film.

Biaya produksi bisa mencapai sebesar itu karena proses pembuatan film ini cukup kompleks. Produser film 'Sang Kyai,' Sunil Samtani, setting film ini dibuat antara tahun 1942-1947. Ini  artinya memang perlu dilakukan desain tempat serta pengadaan segala macam properti yang dibutuhkan untuk menghadirkan suasana masa itu.

Selain itu, kata Sunil, karena proses pengambilan gambar tidak hanya dilakukan di satu lokasi, melainkan sampai lima kota yang berbeda. Kediri, Gondang Klaten, Rutan Ambarawa (Kabupaten Semarang), dan Solo.

Film yang diprediksi bakal meledak di tahun 2013 digarap oleh sutradara berpengalaman, Rako Prijanto. Sebelumnya, Rako juga sukses menggarap film Ungu Violet, D'Bijis, dan Merah Itu Cinta.(as kambie)
Penulis: AS Kambie
Editor: AS Kambie

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas