A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Meminjam Jokowi di Pilwali Makassar - Tribun Timur
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 23 Juli 2014
Tribun Timur
Home » Opini

Meminjam Jokowi di Pilwali Makassar

Selasa, 7 Mei 2013 01:40 WITA
Meminjam Jokowi di Pilwali Makassar
Makassar kini sedang dalam arena pertarungan. Pertarungan kandidat Wali Kota Makassar memperebutkan kursi nomor wahid. Perang udara menjadi pilihan berlaga dengan berbagai alat peraga.
Berbagai ruang publik menjadi pilihan sosialisasi. Tiang listrik, pohon, tembok warga, trotoar, halte, dan lorong-lorong kompleks menjadi ruang bagi kandidat memperkenalkan diri kepada pemilih. Bahkan tong sampah juga menjadi pilihan sosialisasi. Spanduk, poster, umbul-umbul, stiker dan baligho tersebar mengepung Kota Makassar.
Tanpa basa-basi, seluruh kandidat menyapa pemilih Makassar dengan berbagai senyum. Berbagai model senyum pun diperagakan di setiap media sosialisasi kandidat. Tujuannya untuk memperkenalkan diri kepada pemilih.
Alat peraga sosialisasi seakan-akan menjadi mantra sakti bagi kandidat agar dikenal pemilih. Kandidat menjadi sosok imaginer. Menjelma menjadi ikon pahlawan seperti di film Hollywood, diantaranya Superman, dan Spiderman. Hadir setiap saat ketika masyarakat membutuhkan bantuan.
Kisah baligho kandidat mengingatkan kita pada film fiktif yang tidak selaras dengan fakta sosial. Dunia politik berubah wujud menjadi dunia virtual, dan khayalan belaka. Wajar saja, persepsi publik ketika mendengar kata politik, selalu diidentikkan dengan hal negatif dan hasrat berkuasa.
Politik baligho memang menjadi trend politik di tengah kurang pemimpin yang dekat dengan masyarakat. Ramainya panggung politik Makassar oleh orang-orang baru menjadi penyebab menjamurnya spanduk, dan baligho. Apalagi incumbent tak lagi memiliki ruang untuk berkuasa.

Politik Pencitraan
Maraknya sosialisasi kandidat melalui baliho dan spanduk merupakan salah satu model pencitraan politik. Politik pencitraan mulai tumbuh berkembang di Indonesia sejak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berhasil menjadi presiden dengan politik pencitraanya. Belajar dari SBY, Presiden terpilih tahun 2004 ini berhasil merebut hati pemilih di Indonesia melalui politik pencitraan yang di bangun melalui media massa. Mengingat jangkauannya terhadap pemilih sangat luas.
SBY berhasil merebut hati pemilih tanpa bertemu langsung dengan konstituen. Hal inilah yang menjadi pelajaran penting bagi para politisi dalam merebut kursi kekuasaan. Walaupun setelah terpilih, SBY tak bisa menggunakan politik pencitraan untuk memenuhi kebutuhan rakyat Indonesia. Karena memenuhi harapan rakyat bukan sesuatu yang abstrak tapi konkret. Politik pencitraan kini menjadi pilihan banyak orang yang tak memiliki modal sosial untuk menjadi pemimpin. Fenomena ini ini banyak menyasar artis layar kaca.

Pelajaran Jokowi

Sejak terpilihnya Jokowi sebagai Gubernur DKI mengalahkan calon petahana Fauzi Bowo, membuat politik pencitraan kemudian ditinggalkan dan dievaluasi berbagai kalangan. Jokowi berhasil merebut hati pemilih tanpa perlu memasang begitu banyak baligho dan spanduk.
Gaya kampanye Jokowi tak hanya mampu merebut hati pemilih DKI Jakarta saja, tapi seluruh pemilih di nusantara. Terbukti beberapa lembaga survey mengunggulkan Jokowi dalam hasil surveynya sebagai calon presiden alternatif 2014.
Salah satunya, Pol-Tracking Institute menempatkan Jokowi sebagai Capres alternatif  2014. Jokowi mendapatkan nilai tertinggi dari aspek integritas, visioner, leadership skill, gagasan, responsif, pengalaman prestasi, keberanian memutuskan, komunikasi publik, serta penerimaan partai dan publik.  
Populernya Jokowi di pelosok nusantara tidak lepas dari peran media massa. Jokowi berhasil menjadi opinion leader di beberapa media nasional. Elektronik maupun cetak. Selain blusukan yang mejadi ciri khas mantan Walikota Solo dua periode itu, hal yang menjadi kpribadian jokowi sebagai pemimpin juga tak lepas dari penilaian pemilih. Sederhana, polos, dan jujur adalah karakter Jokowi jika tampil di TV.
Karakter pemimpin yang sangat langka saat ini. Bukan hanya pemilih yang berhasil dihipnotis oleh Jokowi. Hampir semua kandidat yang akan bertarung di Pilkada. Kandidat Ramai-ramai menjadikan Jokowi sebagai patron dalam kampanye. Gaya bulusukan Jokowi mendadak menjadi budaya politik bagi para pemburu kuasa.
Keberhasilan Jokowi berada di hati pemilih, bukanlah melalui politik pencitraan. Alat peraga Jokowi saat kampanye di Pilkada DKI tidak begitu banyak dibandingkan calon lainnya. Bahkan iklan Jokowi di TV juga tak sering kita jumpai.
Pilkada DKI mestinya menjadi pelajaran penting bagi kandidat Walikota Makassar. Walupun pemilih makassar berbeda dengan DKI Jakarta, pelajaran pertama yang bisa dipetik adalah sosialisasi melalui alat peraga tak akan mampu membangun kedekatan dengan pemilih. Apalagi memenuhi harapan masyarakat. Dampaknya hanya merusak keindahan kota dan menguras banyak biaya.
Kedua, biaya politik dapat diminimalisir melalui politik gaya Jokowi dalam mendekati pemilih. Politik berbiaya tinggi justru membuat kandidat tersandera oleh pendonor dana kampanye. Selain itu, pilihan Jokowi dalam bersosialisasi dengan pemilih membangun iklim demokrasi yang lebih dekat dengan konstituen.
Ketiga, kepemimpinan Jokowi sebelum terpilih dan setelah terpilih menggambarkan sosok pemimpin yang melayani. Bukan dilayani. Jokowi berhasil menerabas stigma tentang pemimpin yang jauh dengan masyarakat kelas bawah dan tak biasa bekerja dalam kekumuhan hidup masyarakat.
Calon Wali Kota Makassar mestinya banyak belajar kepada Jokowi. Belajar bukan hanya pada metode bisa terpilih dan disenangi oleh pemilih saja. Tapi belajar menjadi pemimpin yang sederhana, polos, jujur, dekat dengan masyarakat, dan melayani masyarakat. Bukan dilayani.
Kita paham Jokowi tidak mungkin akan mencalonkan diri di Pilwali Makassar yang akan di gelar September 2013 nanti. Tapi setidaknya, sosok kandidat yang mendekati pribadi Jokowi ada diantara puluhan kandidat yang ada. Bukan dalam arti blusukan karena ingin mendulang suara untuk menang, tapi blusukan karena memang seharusnya blusukan untuk mendegar dan memenuhi harapan pemilih.
Pemilih Jakarta memang berbeda dari pemilih Makassar. Tapi, kita bisa melihat kesamaan karakter pemilihnya yang sama-sama merupakan pemilih urban. Sama-sama memiliki persoalan kota seperti sampah, macet, banjir, dan kemiskinan. Bedanya, Makassar saat ini tengah menunggu menjadi kota sampah. Sampah dengan beribu wajah.(*)
Editor: syakin
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas