A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

Polemik Kurikulum 2013 Dan Kondisi Guru Saat Ini - Tribun Timur
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 30 Agustus 2014
Tribun Timur
Home » Opini

Polemik Kurikulum 2013 Dan Kondisi Guru Saat Ini

Rabu, 10 April 2013 21:41 WITA
Polemik Kurikulum 2013 Dan Kondisi Guru Saat Ini
Kurikulum 2013 masih menjadi polemik. kritik mengenai kelayakan kurikulum 2013 terus dilakukan baik dikalangan akademisi, intelektual maupun masyarakat. Hal ini menegaskan bahwa kurikulum 2013 memiliki segelintir masalah yang cukup mengkhawatirkan. Beberapa masalah yang masih dipersoalkan diantaranya masalah pengurangan dan peleburan mata pelajaran serta penambahan jam pelajaran.
Dalam pengurangan dan peleburan mata pelajaran, IPA dan IPS dihapus dan dilebur ke dalam bahasa Indonesia. Namun pertanyaannya kemudian, apa landasan keilmuan dalam melakukan peleburan tersebut? Sampai saat ini tak jelas mengapa IPA dan IPS dihapus dan dilebur kedalam bahasa indonesia. Karena ketidak jelasan itu maka wajar saja ketika banyak yang mempertanyakannya. Penambahan jam belajarpun sebenarnya cukup bermasalah. Karena apabila jam pelajaran ditambah, maka akan semakin membebani murid. Belum lagi PR yang mesti diselesaikan oleh murid dirumah. Jadi antara belajar disekolah dengan waktu yang panjang ditambah dengan PR yang harus diselesaikan murid semakin mempersempit waktu senggang mereka untuk bermain dan beristirahat.
Disamping permasalahan tersebut, menurut sebagian pengkritik, kurikulum 2013 dalam pembuatannya terlalu tergesah-gesah, hingga menghasilkan struktur kurikulum yang belum memadai untuk diimplementasikan. Belum lagi issu mengenai pembuatan kurikulum 2013 yang terlalu politis menurut para pengkritiknya. Sebab setiap pergantian menteri selalu dirangkaikan dengan pergantian kurikulum. Hal ini jelas mengundang pertanyaan dan kecurigaan masyarakat. Maka wajar saja jika ada anggapan dimasyarakat “ganti menteri ganti kurikulum”.

Kritik diabaikan
kritik yang terlontar  dari berbagai elemen masyarakat seharusnya ditanggapi secara positif oleh Mendikbud dan dijadikan bahan refleksi untuk merevisi kurikulum 2013 agar mencapai standar kurikulum yang sempurna. Namun kelihatannya pihak Mendikbud tak begitu progresif dalam merespon berbagai kritik. Muhammad Nuh selaku kepala Mendikbud bahkan enggan untuk mendengar penolakan terhadap kurikulum 2013, sebab menurut pengakuannya, mereka yang menolak tidak punya sekolahan dan bukan pengelolah sekolahan (Kompas.com/03/04/2013). Bila ditinjau secara kritis, Pernyataan Muhammad Nuh seakan problematik. Dari pernyataannya itu dia justru terlihat membatasi siapa yang berhak untuk berkomentar dan siapa yang tak mesti untuk berkomentar. Padahal masalah kurikulum 2013 adalah masalah bersama sebab hal ini berkaitan dengan masa depan pendidikan kita.  
Muhammad Nuh juga menghimbau pada masyarakat bahwa Bukan waktunya lagi memperdebatkan kurikulum 2013 halal atau haram dan benar atau salah (Kompas.com/28/03/2013). pernyataannya tersebut juga problematik. Pasalnya apakah kurikulum 2013 sudah sangat sempurna? Apakah telah memenuhi standar kelayakan? Apakah sudah dapat menjadi solusi untuk memperbaiki kualitas pendidikan Indonesia?
Mendikbud mestinya harus belajar dari pengalaman. Dalam waktu 10 tahun terakhir saja sudah ada tiga kurikulum: kurikulum berbasis kompetensi, kurikulum tingkat satuan pendidikan, dan untuk tahun ini diberlakukan kurikulum 2013. Namun dalam perjalanan pergantian kurikulum, sistem pendidikan di Indonesia tak mengalami perbaikan yang signifikan. Kurikulum diganti tetap saja ada UN, sistem pembelajaran disekolah masih kolot, terlebih lagi guru tak mengalami perbaikan dari segi kualitas. Maka wajar saja kritik dilontarkan. Karena dikhawatirkan kurikulum 2013 belum mampu memperbaiki mutu pendidikan kita.

Kualitas Diabaikan
Kritik yang selama ini hadir untuk menggugat kurikulum 2013 sepertinya tak akan menghentikan langkah Mendikbud untuk segera mengimplementasikan kurikulum 2013 pada juli nanti. Seakan-akan kurikulum 2013 menjadi solusi carut marutnya pendidikan kita. Namun harus disadari bahwa Sukses dan tidaknya implementasi kurikulum 2013 dilapangan, tergantung kualitas guru. karena kurikulum 2013 tidak akan berguna ketika guru tak memiliki kualitas yang mumpuni dalam mengimplementasikannya.
Namun Fakta yang terlihat saat ini, Mendikbud belum melakukan tindakan yang progresif untuk meningkatkan mutu dan kualitas guru agar mereka dapat mengaplikasikan tuntutan kurikulum 2013. Selama ini mendikbud hanya hanya sibuk mengutak-aktik mata pelajaran dan beban belajar peserta didik didalam kurikulum 2013, Sedangkan kualitas guru seakan tak menjadi perhatian yang serius. Padahal kualitas guru juga menjadi permasalahan serius dalam pendidikan kita.  
Berkaitan dengan peningkatan kualitas guru, Mendikbud mungkin akan berdalih bahwa pihaknya tetap melakukan pelatihan guru guna mempersiapkan bekal bagi mereka dalam mengimplementasikan kurikulum 2013. Pelatihan guru memang sudah direncanakan oleh Mendikbud. Bila melihat manuskrip kurikulum 2013, pelatihan untuk guru dilaksanakan mulai 2013 sampai 2015. Namun bila pada saat pelatihan, guru hanya sekedar diberi pemahaman tentang kurikulum 2013 beserta panduan implementasinya saja, maka hal ini mesti dikoreksi. Sebab, masalah prinsipil guru saat ini ialah keterampilan mengajar dan perilaku mereka.
Dalam hal mengajar, kebanyakan guru tak cekatan dan kreatif baik dalam penguasaan pengetahuan maupun metode pembelajaran. Maka tak heran ketika guru cenderung konservatif dan jumud dalam mengajar. Metode pembelajarannya hanya ceramah dan diskusi melulu. Jadi sesempurna apapun kurikulum 2013 ketika guru sebagai subjek yang mengimplementasikan tak terampil dalam mengajar maka sulit untuk mengembangkan domain kognitif dan psikomotorik murid.
Begitupun dalam hal perilaku, kebanyakan guru masih saja melakukan tindakan represif terhadap murid-muridnya. Kadang dalam mengatur murid-murid yang bawel dan liar selalu menggunakan kekerasan. Artinya, mana mungkin guru dapat mengaktualisasikan domain afektif murid bila gurunya saja tidak tuntas dalam perilaku? Guru bukan hanya pendidik yang hanya melakukan internalisasi pengetahuan dan skill pada murid, lebih dari itu, guru adalah teladan yang seharusnya memberi contoh yang baik pada murid.
Perihal seperti ini mestinya menjadi bahan pendiskusian oleh Mendikbud dan jajarannya. Sebab, Bila guru tak secepatnya dituntaskan dari segi kualitas mengajar dan prilakunya, maka bisa jadi penerapan kurikulum 2013 berpotensi gagal seperti kurikulum – kurikulum yang lalu. Otomatis yang paling dirugikan adalah murid.
Kita juga patut bertanya, mengapa peningkatan kualitas guru baru dilakukan pada saat kurikulum 2013 mulai diterapkan? Hal ini juga mengindikasikan bahwa Mendikbud melakukan peningkatan kualitas guru  hanya pada momentum tertentu saja. Padahal bila Mendikbud betul-betul serius dalam memajukan mutu pendidikan kita, maka sedari awal kualitas guru sudah harus ditata dan dikembangkan. Dan peningkatan kualitas guru bukanlah kegiatan yang bergantung pada momentum tertentu, tapi kegiatan yang seharusnya dilakukan secara teus menerus.
Mendikbud harusnya berpikir bijak. Kalau toh kurikulum 2013 ingin di implementasikan, ada baiknya Mendikbud melakukan peningkatan kualitas guru terlebih dahulu sampai betul-betul teruji kualitasnya. Karena buat apa menerapkan kurikulum tetika guru masih belum siap dari segi kualitas? Jangan hanya menganggap guru sebatas pesuruh yang mengikuti petunjuk demi terlaksananya kurikulum 2013, lebih dari itu, guru adalah sosok dengan keterampilan mengajar bertanggung jawab merekayasa nalar dan kepribadian murid.(*)

Oleh;
Muhajir
Ketua Umum Korp pengader HMI-MPO cabang makassar dan Mahasiswa Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP UNM
Editor: Aldy
Sumber: Tribun Timur
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
307932 articles 11 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas