A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Madrasah dan Dilema Kurikulum 2013 - Tribun Timur
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 18 April 2014
Tribun Timur
Home » Opini

Madrasah dan Dilema Kurikulum 2013

Jumat, 5 April 2013 20:54 WITA
KURIKULUM sejatinya tidak memberatkan, tetapi meringankan siswa memahami pelajaran. Perdebatan kurikulum di ranah publik hanya akan melahirkan kebingungan di kalangan siswa serta orang tua. Tak perlu risau dengan kurikulum 2013 sebab yang berubah hanya struktur dan prosedur implementasi atau metode penerapannya.
Prokontra seputar inovasi kurikulum 2013 melahirkan pertanyaan klasik, “Adakah aturan di negeri kita bebas dari prokontra?” Data pastinya mungkin belum tersedia. Namun, hampir semuanya menuai prokontra yang tidak mungkin dihindari di alam demokrasi. Ruang kritik dan saran bagi kebijakan terbuka lebar. Dan kritik, sejatinya menjadi kekuatan dalam upaya penyempurnaan dan pematangan konsep serta prosedur implementasi kebijakan.
Perubahan kurikulum 2006 ke 2013 untuk sekolah umum, kejuruan, dan madrasah itu hanya satu dari sekian banyak kebijakan pemerintah yang panen kritik. Tugas desk Kurikulum dan Evaluasi Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Sulsel terkait kurikulum 2013 diakui tidak mudah. Di samping kewajiban melakukan penyiapan bahan pelaksanaan pelayanan, desk ini juga melakukan bimbingan teknis, dan pembinaan di bidang kurikulum dan evaluasi pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Kemdikbud menjelaskan bahwa pada tingkat SD/MI jumlah mapel berkurang dari 10 menjadi 6 yaitu Kelompok A meliputi Bahasa Indonesia, PPKn, Pendidikan Agama, Matematika. Kelompok B meliputi muatan lokal Penjaskes dan Seni Budaya dan Prakarya. Bahasa Inggris tidak lagi menjadi pelajaran wajib di SD/MI dan jam belajar bertambah dari 26 jam menjadi 30 jam per minggu.
Di tingkat SMP/MTs, jumlah mata pelajaran dari 12 menjadi 10 dengan Kelompok A meliputi Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, PPKn, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, dan Bahasa Inggris. Kelompok B meliputi tiga muatan lokal, yakni Seni Budaya, Penjaskes, dan Prakarya. Jumlah jam belajar bertambah empat jam dari 32 jam menjadi 38 jam per minggu.
Struktur kurikulum SMA/MA mengalami perubahan dengan adanya mata pelajaran wajib dan mata pelajaran pilihan. Kurikulum SMK menambah jenis bidang keahlian atau produktif dan mengurangi mata pelajaran adaptif dan normatif. Jumlah mata pelajaran juga berkurang dan jumlah jam belajar bertambah satu jam per minggu.
Mendikbud menjelaskan bahwa kurikulum 2013 lebih bersifat tematik integratif yang berarti bahwa ada mata pelajaran yang akan terkait satu sama lain dan bukan dihilangkan. Mengenai proses pembelajaran, siswa akan diarahkan lebih aktif sehingga dan asumsi ini digunakan untuk menambah jam belajar dan perubahan proses penilaian.
Ada pernyataan yang menarik untuk dicermati dari seorang pensiunan pengawas Kemenag di Makassar yang dikenal berdedikasi tinggi, Halim Abbas, “Meski kurikulum madrasah berubah setiap hari, rukun islam tetap lima dan rukun iman tetap enam.” Mungkin akan setara jika dikatakan grammar Bahasa Inggris dan nahwu Bahasa Arab juga tidak berubah. Karakteristik puisi dan sastra Indonesia sepanjang abad XXI yang dipelajari siswa juga tetap akan seperti itu. Yang mungkin akan mengalami perubahan konten, hanya pembelajaran sains dan ilmu-ilmu sosial yang memang dikenal dinamis. Dan itu, akan terus berubah sekalipun kurikulum tidak berubah.
Artinya, tidak ada hal mendasar yang berubah dalam kurikulum. Konten cenderung akan statis dan apa yang digambarkan sebagai penghilangan, lebih tepat dinyatakan sebagai pengintegrasian. Yang berubah hanya pada prosedur implementasi atau metode penerapannya yang bersifat teknis. Dengan asumsi ini, jelaslah bahwa kebijakan perubahan kurikulum madrasah dari KTSP 2006 ke Kurikulum 2013 tidak akan terlalu sulit diimplementasikan oleh guru-guru di madrasah di Raudlatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA) dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK).
Kecenderungan Multitafsir
Sesuai arahan Kemenag Prov Sulsel di beberapa kesempatan, pelaksana teknis kurikulum di Kemenag perlu meyakinkan guru-guru madrasah bahwa pada kurikulum baru nantinya, guru tak lagi dibebani dengan kewajiban membuat silabus pengajaran untuk siswa setiap tahun seperti yang terjadi pada KTSP. Hal ini memang menjadi beban tersendiri bagi guru dengan kemampuan beragam terutama di awal tahun pembelajaran. Silabus dan bahan ajar dibuat oleh pemerintah, sedangkan guru hanya mempersiapkan RPP dan media pembelajarannya.
Memang Kurikulum 2006 yang lazim disebut KTSP juga tidak buruk sekalipun diakui tidak sempurna. Setidaknya, kelemahan yang paling terasa dalam pelaksanaan KTSP selama lebih kurang 6,5 tahun terletak pada perbedaan penafsiran guru-guru dalam proses implementasinya. Dipahami bahwa aturan pelaksanaan KTSP 2006 seperti yang dimandatkan oleh BSNP ibarat blackbox atau “kotak hitam” pesawat (mengutip O’Sullivan) yang masih butuh penjelasan rinci jika kesalahpahaman penafsiran yang menjadi biang masalahnya.
Dari beberapa media cetak maupun online, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan bahwa pemerintah akan mengambil alih pembuatan silabus pada kurikulum baru nanti. Pasalnya, eksekusi KTSP di lapangan selama ini kedodoran karena kemampuan guru yang beragam dalam mendesain kurikulum dan silabus. "Variasi sekolah dan guru itu luar biasa. Ada yang bisa membuat silabus, ada juga yang tidak. Jadi, kalau guru diwajibkan bikin silabus, ya remek," kata Mohammad Nuh (Kompas, Jumat 22/12/2012).
Beliau juga menambahkan bahwa pengawasan dan kontrol pendidikan dengan kurikulum yang berjalan saat ini juga sulit dilakukan mengingat masing-masing sekolah berwenang membuat silabus dan menjalankan proses pembelajaran sesuai dengan cara yang diketahuinya. Persepsi masing-masing guru, masing-masing sekolah jelas akan berbeda.
Masalah rupanya tidak hanya sebatas itu. Masalah lain yang dianggap cukup signifikan dan berdampak pada siswa adalah bermunculannya Lembar Kerja Siswa (LKS) dengan konten yang tidak sesuai. Bahan-bahan ajar ini tentu telah dievaluasi oleh tim dengan menggunakan berbagai sampel bahan ajar sebelum kemudian diputuskan untuk kembali mengambil alih pembuatan buku ajar. Hal ini terjadi karena kemampuan guru dalam membuat latihan-latihan sebagai follow-up dari core material untuk murid masih sangat terbatas sehingga penggunaan LKS dijadikan sebagai keputusan pemilihan bahan latihan. Dan hal itu, sepenuhnya kebijakan sekolah.
Bahan Ajar
Mengenai bahan ajar yang akan didesain oleh pemerintah, hal itu juga mengundang pro kontra khususnya di kalangan guru. Ada yang beranggapan bahwa dengan buku seragam akan menurunkan kreativitas guru mendesain materi secara kontekstual. Namun, pertanyaannya adalah, seberapa banyak guru yang benar-benar kreatif dalam mendesain bahan ajar selama KTSP dilaksanakan? Ternyata, hasil evaluasi menunjukkan bahwa kemampuan guru masih sangat terbatas dan beragam. Faktanya, mari bertanya pada diri kita sendiri seberapa banyak bahan ajar yang telah kita desain selama 6 tahun berlangsungnya KTSP?
Di sisi lain, orang tua mengeluhkan biaya besar yang konon harus mengeluarkan antara Rp450.000 hingga Rp800.000 untuk memenuhi kebutuhan buku anak-anak mereka setiap semester. Belum lagi yang memiliki lebih dari seorang anak usia sekolah. Sayangnya, buku-buku yang dibeli tidak lagi digunakan oleh adik-adiknya pada periode selanjutnya.
Hal itu terjadi karena adanya kecenderungan siswa hanya akan menggunakan buku yang digunakan oleh guru mereka dalam bidang studi masing-masing. Meskipun banyak buku lain yang lebih murah, tetapi kalau guru tidak menggunakan buku tersebut dalam pembelajaran, siswa juga tidak akan menggunakan buku itu. Keluhan inilah yang kemudian ditindaklanjuti dengan oleh pemerintah dengan mengalokasikan dana terbesar pada pengadaan buku untuk siswa dan guru sehingga nanti mereka tidak lagi membeli buku ajar.
Selain soal konten, silabus, dan bahan ajar, waktu belajar juga mengalami penyesuaian. Di SD/MI akan dilakukan pengurangan mata pelajaran dan berarti penghapusan substansi pelajaran. Intinya, ada mekanisme baru yang dirumuskan menyesuaikan kondisi dan kebutuhan siswa. Pelajaran IPA dan IPS, misalnya, akan menjadi konten dalam pembelajaran Bahasa Indonesia yang istilahnya tematik.
Sejalan dengan hal itu, jumlah jam belajar siswa atau lamanya siswa di kelas akan ditambah. Mekanisme perubahan jam pelajaran sudah disiapkan mekanismenya dan selanjutnya akan disosialisasikan kepada semua stakeholder pendidikan di negeri ini. Terutama tentunya kepada pihak yang terkait langsung dengan hal ini, yaitu sekolah, guru-guru, siswa, dan orang tua.
Kekhawatiran Sosialisasi
Yang juga banyak diributkan di media adalah kekhawatiran guru pada dua aspek, yaitu sosialisasi untuk pemahaman implementasi kurikulum dan kelanjutan sertifikasi guru. Sosialisasi implementasi kurikulum memang tidak mungkin dilaksanakan secara serentak kepada seluruh guru di tanah air dalam waktu singkat. Logikanya, jika semua guru dikirim untuk mengikuti sosialisasi Kurikulum 2013, lalu siapa yang akan mengajar di sekolah?
Oleh karena itu, mekanisme sosialisasi sudah dipikirkan oleh pemerintah dan penerapannya dilakukan dengan model koordinasi dan keterwakilan. Mereka yang dipilih inilah nantinya akan kembali membagi kerangka kerja dan model implementasi yang harus dilakukan oleh guru di sekolah masing-masing. Jangan lupa bahwa tahap pertama implementasi Kurikulum 2013 hanya untuk kelas I, IV, VII, dan X. Semua ada tahapannya, dan berilah waktu kepada pemerintah mengatur hal itu.
Untuk mendukung efektivitas dan efisiensi pelaksanaan kurikulum pendidikan dasar dan menengah pada tahun pelajaran 2013-2014, jajaran Kemdikbud/Kemenag melalui perangkatnya memberikan bantuan implementasi kurikulum untuk semua satuan pendidikan. Bimbingan Teknis (Bimtek) merupakan salah satu bentuk bantuan pelaksanaan kurikulum yang diharapkan mampu meningkatkan pemahaman, penguasaan, dan kemampuan guru dan kepala sekolah dari latar belakang hingga sistem penilaian serta aplikasinya dalam implementasi kurikulum secara nasional.
Soal tunjangan sertifikasi guru, tidak mungkin guru akan dikorbankan dengan lahirnya kurikulum 2013. Meskipun pengurangan jumlah jam pelajaran ataupun integrasi mata pelajaran tertentu dilakukan, guru-guru yang telah mengantongi sertifikat pendidik diyakinkan tetap akan menerima tunjangan sertifikasi jika memenuhi semua syarat yang telah ditentukan. Mekanismenya terkait perubahan kurikulum masih dalam penggodokan dan diharapkan rampung bersamaan dengan penerapan kurikulum di akhir Juni 2013 mendatang.
Selaku Kepala Seksi Kurikulum dan Evaluasi di Kemenag Prov Sulsel, penulis mengimbau kepada guru-guru madrasah dan masyarakat agar segera menyudahi pro kontra kurikulum 2013. Pakar pendidikan dan kurikulum telah merumuskannya dengan berbagai pertimbangan yang matang. Bagi guru, yang terpenting dilakukan saat ini adalah membenahi kelemahan diri masing-masing agar tetap menjadi figur profesional yang dihargai masyarakat. Jangan lupa, masih terbuka ruang kritik dan evaluasi dalam implementasi Kurikulum 2013.(*)

Oleh;
Dr H Wahyuddin Hakim MHum.
Kepala Seksi Kurikulum dan Evaluasi, Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Sulsel
Editor: Aldy
Sumber: Tribun Timur
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
302861 articles 11 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
© 2014 TRIBUNnews.com All Right Reserved About Us Privacy Policy Help Terms of Use Redaksi Info iklan Contact Us Lowongan
Atas