Surat Kepada Walikota Makssar
"Sudah Tutup, Dokter Mau Pulang"
Sedikit berlari kecil sambil menggendong anak usia 2 tahun 6 bulan,
"Sudah tutupmi, hari Jumat sampai jam setengah sebelasji, bu". kata seorang petugas loket.
Spontan orang yang antri didepan loket menunjukkan wajah memelas dan minta tolong untuk dilayani.
"Tolong kasiang, bu. baru juga ini pas stengah sebelas. Anakku panas dan muntaber". pinta seorang ibu kepada petugas loket.
"Coba masukmaki sj di dalam ruang tunggu". jawabnya singkat.
Istrikupun cepat-cepat masuk keruang tunggu pasien. Ia menyampaikan maksudnya ke seorang mahasiswi keperawatan yang magang di salasatu puskesmas peraih predikat ISO di Makassar. Istriku terlihat berbincang dan berusaha meyakinkan mahasiswi itu lalu kemudian dia berdiri didepan pintu ruang periksa dokter.
Disaat bersamaan seorang petugas puskesmas keluar dari ruangan dokter sambil
berkata
"Sudah tutup, dokter mau pulang". ujarnya sambil berlalu.
Berharap masih ada sedikit waktu untuk menyempatkan diri memeriksa pasien yang memang terlambat datang beberapa menit. Istriku menengok keruangan dokter. Disamping meja dokter sudah ada ibu bersama anak yang mungkin seumuran anakku, juga bermaksud minta bantuan dokter. Namun jawaban seorang perempuan hampir paruh baya juga tetap sama.
"Kenapa baru datang, sudah siangmi".kata dokternya sambil memainkan handphone yang ada ditangannya.
Mendengar perkataan itu, istriku langsung bergegas berjalan keluar dari ruang tunggu. Tidak mau menunggu gerimis berhenti, istriku merengek dan memaksa menembus rentetan air jalan raya untuk mencari puskesmas ataupun sarana kesehatan lainnya. Tidak peduli yang berstatus milik pemerintah ataupun swasta.
Kak walikota Makassar, seberapa jauh jarak toleransi antara batas jadwal
tugas dengan empati kemanusiaan ?
Pengirim : Arfian Maggading (Tello Baru, Makassar)