Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Jangan Gunakan Simbol Agama untuk Berantas Teroris!

Sejumlah tokoh islam yang tergabung dalam berbagai Organisasi Masyarakat (Ormas) Islam

Tayang:
Editor: Edi Sumardi
JAKARTA, TRIBUN-TIMUR.COM - Sejumlah tokoh Islam yang tergabung dalam berbagai Organisasi Masyarakat (Ormas) Islam seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), Persis, Dewan Dakwah, Muhammadiyah, Nahdathul Ulama (NU) dan lainnya menemui Kapolri Jendral Polisi Timur Pradopo.

Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin menjelaskan, kedatangannya untuk melaporkan adanya penemuan bukti video yang mengandung gambar tentang pemberantasan teroris.

"Kami tidak tahu di mana dan kapan, tetapi sangat jelas mengindikasikan pelanggaran HAM berat. Oleh karena itu kami minta ditindaklanjuti," ungkap Din di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (27/2/2013).

Terkait hal tersebut, menurut Din, Kapolri Jendral Polisi Timur Pradopo memberi respon posistif. Terutama untuk melakukan penindakan hukum kepada oknum-oknum Polri, baik Densus 88 Anteror Polri maupun Brimob.

"Kami minta kepada Kapolri agar Densus 88 dalam melaksanakan tugas jangan melanggar HAM dan jangan menyentuh lambang-lambang, serta simbol-simbol agama. Sebab kalau ini terjadi, justru akan kontra produktif. Umat islam yang mayoritas sangat menentang terorisme juga akan tersentuh hatinya. Begitu pula kalangan ulama, kyai, mubalig, dan sebagainya," terang Din Syamsuddin.

Untuk itu, dalam pertemuan tersebut para tokoh islam mengusulkan agar Polri melakukan peninjauan kembali, reposisi, reformasi tentang lembaga Densus 88.

"Ke depan mari bersama-sama, MUI dan ormas islam jelas berpihak kepada suatu sikap yang antiterorisme. Terorisme tidak ada dalam dasar agama, oleh karena itu menjadi musuh bersama. Tapi Penangannya jangan sampai kemudian menyinggung lambang-lambang agama," ucapnya.

Terkait video yang dilaporkan kepada Kapolri tersebut, wakil ketua MUI ini pun mengatakan sebenarnya tidak tahu lokasi dan siapa orang yang dilakukan penyiksaan secara melanggar HAM tersebut.

"Tidak tahu (teroris dimana). Kami dikirimi oleh orang yang tidak kita kenal. Kapan dan dimana tidak jelas," ucapnya.(*)

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved