A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

Ini Ulasan Prof Qasim Soal PDS "Bergabung" di PAN - Tribun Timur
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 23 Agustus 2014
Tribun Timur

Ini Ulasan Prof Qasim Soal PDS "Bergabung" di PAN

Selasa, 12 Februari 2013 20:48 WITA
MAKASSAR,TRIBUN-TIMUR.COM-Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar Prof Qasim Mathar menanggapi kabar rencana Partai Damai Sejahtera (PDS) bergabung di Partai Amanat Nasional (PAN) dalam rangka Pemilu 2014.

Berikut petikan ulasan Prof Qasim kepada Tribun Timur, via blackberry messengernya, Selasa (12/2):

Pada awalnya saat dideklarasikan di Jakarta, PAN adalah Parpol terbuka bersifat nasional. Memang demikian awalnya karena para pendirinya dan MARA (Majelis Amanat Rakyat), tempat berkumpulnya Amien Rais dan para tokoh reformasi 1998 waktu itu adalah tokoh-tokoh dari berbagai kalangan agama dan etnis.

Pengurus PAN Sulsel yang juga dideklarasikan mencermikan keragaman tersebut. Hal itu masih bisa dilihat pada staf ketua yang di antaranya ada nama Litha Brand, Leonard Hehanusa, dari pemuka umat Kristen, selain pemuka Islam.

Sayang sekali, setelah konferensi PAN Sulsel yang pertama, sifat sebagai partai terbuka (inklusif) itu dikaburkan oleh semangat ekslusifisme yg menggrogotinya.

Awalnya, eksklusifisme itu muncul dari semangat orang-orang Muhammadiyah yang merasa PAN adalah partai mereka (mungkin karena PAN didirikan oleh pendiri utamanya Amien Rais yang mantan Ketua PP Muhammadiyah).

Kemudian, eksklusifisme berikut dalam bentuk nepotisme. Keluarga KH Djamaluddin Amin yang waktu itu sebagai Ketua PAN Sulsel, mulai dan banyak berperan.

Kini, PAN Sulsel masih dipimpin oleh putranya Ashabul Kahfi. Saat pemilukada Bantaeng, tampaknya PAN memaksakan putra Pak Djamaluddin lainnya, untuk menjadi calon wakil bupati, yang kalah oleh pasangan bupati sekarang.

Hadi Jamal, putra pak Kiyai lainnya (mantan legislator PAN di pusat) sebelum diterungku karena kasus hukum, sangat besar perannya di PAN Sulsel.

Corak nepotisme PAN dibumbui pula dengan corak kolusif. Indira Cunda Thita, putri Gubernur Sulsel, bisa menyalib banyak sekali aktifis PAN yg sdh lama berkeringat di partai, untuk duduk sebagai legislator PAN di Senayan.

Jadi, kalau sekarang PAN mau berkoalisi dengan PDS itu bukan karena PAN bercorak terbuka, tapi lebih karena ia kini sangat pragmatis-avonturistik.

Atau, PAN kini merasa semakin kurang diminati. Karena itu, juga keliru kalau dikatakan PAN berbasis Muslim. Sebab, yang faktual PAN berbasis orang-orang Muhammadiyah tertentu.

Ya, tertentu, krn amat banyak pemuka/tokoh/ustaz Muhammadiyah tidak di PAN, melainkan di Golkar, PDIP, PKS, dan lain-lain. Nah, terserah pada PDS untuk mau berkoalisi dengan PAN.

Yang penting, PDS paham betul latar sejarah PAN, khususnya PAN Sulsel. Namun, di politik semua bisa terjadi, bisa juga kemudian bubar. Bukankah di politik yang abadi hanya kepentingan! (*)
Penulis: Ilham
Editor: Muh. Taufik
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
247932 articles 11 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas