• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Selasa, 30 September 2014
Tribun Timur

Hari Raya Imlek Itu, Nggak Ada, Lho!

Selasa, 5 Februari 2013 10:13 WITA
JAKARTA, TRIBUN-TIMUR.COM--Banyak orang yang belum mengetahui atau salah kaprah tentang arti Imlek. Mereka menyebut Imlek dengan sebutan hari Imlek atau hari raya Imlek.

Padahal, Imlek merupakan sistem penanggalan yang dipercaya oleh umat Budha atau kepercayaan China keturunan. Tahun baru Imlek jatuh bertepatan dengan tanggal 10 Februari 2013 penanggalan masehi.

Seseorang yang menyebut tanggal 10 Februari sebagai hari Imlek berarti salah kaprah terhadap pengertian Imlek. Penyebutan dengan lafal seperti itu sama artinya dengan menyebut hari masehi atau hari hijriah.

Suherman, pengurus Vihara Dharma Bhakti mengungkapkan, salah kaprah yang lain dari kebanyakan orang adalah mengucapan Imlek sebagai hari raya Imlek. Padahal, Imlek sama halnya seperti hijriyah maupun masehi. Persamaan kata tersebut tidak bisa disebut sebagai hari raya umat beragama.

"Makanya masih banyak orang yang salah kaprah. Imlek itu bukan hari raya, tetapi sistem penanggalan. Dari penanggalan Imlek baru deh ada macam-macaam hari raya seperti cap gomeh, hari raya kue bulan, dan lain-lain," kata Suherman.

Tahun ini, masyarakat kepercayaan Konghuchu merayakan tahun baru ke-2.564. Tetapi sebelum penanggalan Imlek, masyarakat Konghuchu juga sudah memiliki penanggalan lain. Jika diperhitungkan, saat ini merupakan tahun baru ke-4.709 penanggalan sebelum Imlek. Biasanya, setiap tahun baru Imlek, umat Budha dan keturunan Konghuchu mendatangi klenteng untuk memberikan penghormatan kepada Buddha Rupang.

Buddha Rupang merupakan dewa-dewa yang tersimpan dalam sebuah patung di Klenteng. Terdapat banyak Buddha Rupang di setiap klenteng besar. Klenteng sendiri berasal dari kata Kwan Im Teng, sebutan lama dari vihara Dharma Bhakti sebelum berubah nama. Klenteng ini berdiri sejak tahun 1650. Klenteng ini merupakan klenteng pertama di Provinsi DKI Jakarta.

Sebelumnya, masyarakat Betawi yang mayoritas tinggal di sekitar Pecinaan kurang paham tentang penyebutan Kwan Im Teng atau paviliun Dewi Kwan Im. Ketika mendengar Kwan Im Teng mereka mendengar sebagai kata Klenteng. Dari situlah asal-usul nama Klenteng di Jakarta.

"Kalau ada yang bilang klenteng diambil dari bunyi lonceng, itu juga salah. Karena asal usul Klenteng dari nama vihara Dharma Bhakti sebelumnya, Kwan Im Teng," kata Herman
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Kompas.com
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
240721 articles 11 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas