A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Debat yang Diperdebatkan - Tribun Timur
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Minggu, 20 April 2014
Tribun Timur
Home » Opini

Debat yang Diperdebatkan

Rabu, 16 Januari 2013 21:38 WITA
Debat yang Diperdebatkan
Belum usai mendebati acara debat pertama calon pemilihan gubernur Sulawesi-Selatan, kali ini KPU dan kepolisian daerah Sulawesi-Selatan kembali mengusik nilai demokrasi di Sulawesi-Selatan. Dengan dalih keamanan KPU Sulawesi-Selatan melalui rapat pleno Minggu 13 Januari 2013 membatalkan Debat II Cagub Sulsel yang sedianya berlangsung 18 Januari 2013. Namun pembatalan ini justru kian menarik untuk jadi bahan perdebatan. Memang sudah takdir, debat ini akan diperdebatkan.  
Pada pekan lalu, rakyat  Sulawesi-Selatan telah menyaksikan  tiga calon gubernur menyampaikan gagasan yang tertuang dalam format debat calon gubernur Sulsel periode 2003-2018. Acara yang dihelat oleh Komisi Pemilihan Umum Sulawesi-Selatan selaku regulator debat disiarkan oleh statiun televisi Metro Tivi. Harapan masyarakat dalam debat ini tentunya hendak mendapatkan pertukaran ide dan gagasan yang muncul dari tiga kandidat, Ilham Arief Sirajuddin -Asiz Kahar Muzakkar, Syahrul Yasien Limpo - Agus Arifin Nu'mang dan Andi Rudianto Asapa - Andi Nawiri Pasinringi. Namun yang terjadi kemudian adalah, debat ini justru menimbulkan perdebatan yang cukup panjang baik sebelum debat maupun pasca debat itu sendiri.
Sebelum debat  yang berlangsung di gedung Celebes Convention Centre (CCC) suasana perdebatan sudah mulai hangat diperbincangkan, baik melalui warung kopi, media massa hingga pengamat dan bahkan kepolisian sekalipun.
Perdebatan diawali ketika pengelolah hotel di Makassar yang  tak satupun bersedia menjadi tuan rumah debat dengan dalih full booked dan menghawatirkan kondisi keamanan. Perdebatan selanjutnya menyangkut soal apakah live atau tidak live? Dan apakah berlangsung malam atau siang hari?. Berbagai argumentasi muncul terutama dari pihak keamanan yang tidak menghendaki acara ini berlangsung pada malam hari dengan dalih rawan konflik dan kesulitan  kesulitan mengendalikan situasi keamanan jika terjadi bentrok antar dua pendukung. Tarik ulur pun berlangsung karena pihak statiun penyelanggara yang mendapatkan hak ekslusive untuk live menghendaki acara ini berlangsung pada malam hari, seperti debat yang selama ini berlangsung di Indonesia.
Memilih live pada malam hari, amat menguntungkan media maupun masyarakat karena mereka memiliki waktu luang dan santai untuk menyaksikan adu visi-misi ketiga calon. Tapi sayang sekali, acara berlangsung siang hari dan siaran tunda.  Letak kelemahan jika menggelar recording, tapping adalah, aura acara debat itu tidak akan terlihat dan sangat monoton.
Para kandidat pun merasa santai karena sudah mengetahui jika acara tersebut bukan siaran langsung. Sangat berbeda jika event ini live. Presenter akan terlihat serius, bahkan ketegangan akan terlihat dari para calon sehingga mereka sangat berhati-hati.  Selain itu ketiga kandidat tentunya lebih serius di mana  akan terpancar melalui gerakan tubuh, mimik, olah vocal. Intinya akan terlihat alami dalam penyampaian gagasan visi misi dan akan nampak siapa yang siap untuk berdebat. Dan acara debat yang pertama ini, kita tidak menyaksikan dramatik  debat karena para  pemirsa telah mengetahui hasilnya.

Saya sebagai penulis yang juga reporter/cameraman salah satu televisi swasta di tanah air ikut pula menyaksikan debat ini secara langsung di gedung Celebes Convention Centre. Ketika memasuki ruangan debat sudah terkesan monoton termasuk para tamu yang hadir karena pihak panitia mengundang simpatisan kandidat untuk hadir dalam acara ini. Padahal,  KPU sebaiknya melarang  para kandidat membawa simpatisannya hingga ke dalam ruangan tersebut.
Mereka yang hadir seharusnya para pengamat, perwakilan tokoh masyarakat, perwakilan mahasiswa, tokoh agama dan berbagai kelompok elemen masyarakat. Debat itu juga harus diam, hening dan tak mendengar suara riuh atau tepuk tangan agar suasana dalam ruangan terkesan ekslusive dan adu gagasan. Sehingga ketiga calon dapat konsentrasi untuk menyampaikan argument atau visi yang hendak mereka paparkan.
Suasana debat pertama Calon Gubernur Sulawesi-Selatan tak layak kita kategorikan sebagai acara debat calon karena tak satupun sesi atau pertanyaan yang menimbulkan perdebatan diantara ketiga calon.  
Kelemahan dalam  debat ini karena dibatasi oleh waktu atau durasi yang sangat pendek. Satu segmen maksimal enam hingga tujuh menit di mana  masing-masing kandidat diberi waktu dua menit untuk menyampaikan gagasan atau pertanyaan yang diajukan oleh moderator atau host.  
Sehingga total durasi dalam satu segment untuk tiga kandidat adalah enam menit plus satu menit durasi untuk moderator atau presenter. Jika membandingkan saat ketiga calon gubernur menyampaian visi misi yang digelar oleh DPRD Sulawesi-Selatan, maka saya dapat memastikan bahwa debat pertama tidak memuaskan baik dari segi penyampaian program maupun  visi secara detil, ketimbang saat penyampaian visi-misi.
Sudah sejatinya debat calon gubernur Sulawesi-Selatan menjadi barometer bagi provinsi lain bahkan termasuk debat calon presiden RI.
Karena provinsi ini selalu menjadi lokomotif demokrasi bagi tanah air.  Seharusnya KPU atau penyelanggara debat  dapat mencontoi  debat calon presiden Amerika Serikat saat berlangsung di Ritchie Center, University of Denver AS digelar layaknya sebuah pesta rakyat. Pihak Universitas of Denver mempersiapkan diri sejak lama untuk menggelar hajatan besar di negeri Paman Sam tersebut.
Gedung Ritchie Center, fasilitas olahraga di kampus tersebut disulap menjadi arena debat prestesius calon pemimpin rakyat US lima tahun ke depan. Pihak kampus dan penyelanggara menyediakan fasilitas media center yang canggih untuk membantu tugas-tugas para jurnalis. 600 Jurnalis meliput event bersejarah tersebut, ribuan sukarelawan dari kalangan akademika kampus dan warga sekitar dikerahkan guna menyokong event ini.
Tetapi jangankan konsep debat, persiapan debat calon gubernur Sulsel lima tahun ke depan saja terkesan ceremoni. Baik kualitas, metode, konsep dan persiapan debat serta ceremony debat tak terlihat sama sekali.
Pembatalan yang diperdebatkan
Sejatinya Jum'at 18 Januari 201 debat kedua Calon Gubernur Sulawesi-Selatan akan berlangsung. Namun fatwa KPU bagaikan guntur di siang bolong. KPU melalui rapat pleno bersama kepolisian membatalkan debat tersebut. Beragam pendapat muncul bahwa keputusan ini menjadi preseden buruk bagi perkembangan demokrasi di Sulawesi-Selatan.
Alasan situasi keamanan pun masih dapat kita perdebatkan. Bentrokan yang berakhir saling serang antar posko adalah akses dari  demokrasi di daerah ini. Penyebabnya bukan karena debat pertama yang berlangsung di gedung Celebes Convention Centre.
Sebagai closing tulisan ini, Sulawesi-Selatan adalah kampung kita sendiri. Pertontonkanlah demokrasi yang sehat, bukan kekerasan. ***

Oleh;
Ano Suparno
Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia
Editor: Aldy
Sumber: Tribun Timur
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
216572 articles 11 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
© 2014 TRIBUNnews.com All Right Reserved About Us Privacy Policy Help Terms of Use Redaksi Info iklan Contact Us Lowongan
Atas