Banyak Perumahan Baru, Drainase Tak Memadai. Kok Bisa?
Tribun Timur - Rabu, 2 Januari 2013 08:45 WITA

twitter.com
banjir setinggi lutut di rumah warga Komp PU Mallengkeri
Berita Terkait
- FOTO: Menembus Banjir di Boulevard Panakkukang Mas
- Warga Perumnas Antang yang Kebanjiran Tidur di Masjid
- Syahrul Gulung Celana, Saat Pantau Banjir di Sunu
- DPRD Desak Pemkot Makassar Fokus Tangani Banjir
- BMKG: Intensitas Hujan Mulai Turun, Waspada Angin
- Banyak Bangunan Tanpa Amdal Penyebab Banjir Makassar
TRIBUN-TIMUR.COM -- Kawasan Komp PU Mallengkeri 5 tahun lalu masih menjadi daerah serapan air. Banyak tanah kosong, untuk menampung hujan.Sawah-sawahpun masih ada.
Namun berbeda sekali sekarang. Bisnis perumahan menjamur, tanah kosong pun sudah ditimbun dan berubah jadi perumahan.
Berdasarkan pantauan Tribun, sudah sekitar 90 persrn wilayah ini diisi berbagai perumahan baru, dengan mengambil lahan kosong.
Namun, pembangunan perumahan di lokasi ini tidak disertai dengan drainase yang memadai.
Selokan ada, meskipun sedikit.Namun, selokan ini tidak dibangun di depan perumahan baru. Hanya selokan lama, yang dalamnya hanya berkisar 50 cm saja dengan lebar tak sampai satu meter. Ada juga yang hanya selebar sekitar 30 cm dengan dalam 30 cm.
Lebih parahnya, selokan ini buntu. Tidak menuju ke selokan besar di Jl Sultan Alauddin.
Tak hanya itu juga, sebagian selokan yang ada kerap kali tertimbun tanah perumahan.
Akibatnya, banjir besar pun melanda. Setiap tahunnya, seiring dengan makin banyaknya perumahan, tinggi banjir semakin meningkat.
"Tahun lalu hanya semata kaki. Sekarang hingga lutut," ujar dewi, ibu rumah tangga.
Banjir selutut juga melanda kawasan di sekitarnya, seperti di Jl Mamoa dan Jl Sultan Alauddin 2.
Dewi, dan warga setempat lainnya sangat heran dengan terus keluarnya izin pembangunan perumahan, yang tidak dibarengi pembangunan drainase.
"Perumahan dibangun lebih tinggi dari jalan dan rumah warga lain.Sehingga air merendam rumah lama," papar Nur, warga setempat.(*)
Namun berbeda sekali sekarang. Bisnis perumahan menjamur, tanah kosong pun sudah ditimbun dan berubah jadi perumahan.
Berdasarkan pantauan Tribun, sudah sekitar 90 persrn wilayah ini diisi berbagai perumahan baru, dengan mengambil lahan kosong.
Namun, pembangunan perumahan di lokasi ini tidak disertai dengan drainase yang memadai.
Selokan ada, meskipun sedikit.Namun, selokan ini tidak dibangun di depan perumahan baru. Hanya selokan lama, yang dalamnya hanya berkisar 50 cm saja dengan lebar tak sampai satu meter. Ada juga yang hanya selebar sekitar 30 cm dengan dalam 30 cm.
Lebih parahnya, selokan ini buntu. Tidak menuju ke selokan besar di Jl Sultan Alauddin.
Tak hanya itu juga, sebagian selokan yang ada kerap kali tertimbun tanah perumahan.
Akibatnya, banjir besar pun melanda. Setiap tahunnya, seiring dengan makin banyaknya perumahan, tinggi banjir semakin meningkat.
"Tahun lalu hanya semata kaki. Sekarang hingga lutut," ujar dewi, ibu rumah tangga.
Banjir selutut juga melanda kawasan di sekitarnya, seperti di Jl Mamoa dan Jl Sultan Alauddin 2.
Dewi, dan warga setempat lainnya sangat heran dengan terus keluarnya izin pembangunan perumahan, yang tidak dibarengi pembangunan drainase.
"Perumahan dibangun lebih tinggi dari jalan dan rumah warga lain.Sehingga air merendam rumah lama," papar Nur, warga setempat.(*)
Penulis : Rasni
Editor : Ina Maharani
