A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

Konsep Kesejahteraan Dalam Islam - Tribun Timur
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 3 September 2014
Tribun Timur
Home » Opini

Konsep Kesejahteraan Dalam Islam

Jumat, 14 Desember 2012 21:23 WITA
Konsep Kesejahteraan Dalam Islam
Materialistme mengajarkan bahwa  kesejahteraan diukur dari pemilikan barang-barang mewah. Semakin banyak barang mewah yang dimiliki maka tingkat kesejahteraannya semakin tinggi pula, begitu pun sebaliknya.

Mesti diakui bahwa saat ini sangat sedikit tulisan yang mampu menyingkap tabir dari banyak realitas dan sejarah keilmuan yang selama ini banyak berakar dan terinspirasi dari dunia Islam. Bahkan dengan sengaja realitas itu dikubur dan dikaburkan oleh hingar bingar keilmuwan belahan dunia lain berbasis keserakahan. Kekuatan politik pangkal musababnya. Keduanya sungguh memiliki beda nyata. Perkembangan ilmu di dunia islam jelas berangkat dari spritualitas paripurna yang kemudian merangsang tafakur, tasyakur dan khidmat pemikiran bagi kemashlahatan ummat manusia, bukan keserakahan untuk menjinakkan dunia.
Pada masa kejayaan Islam kedudukan agama memiliki kedudukan yang sangat fital. Pada saat itu agama bukan hanya sekedar dogma. Islam disebarkan dengan rasionalitas dan teladan. Para sejarahwan sepakat menyebut paling sedikit 700 tahun di masa lalu sebagi the golden age (abad keemasan islam), di saat yang sama Eropa berkubang dalam kegelapan (the dark age).
               
Ilmuan Islam

Kemajuan Islam tidak terlepas dari peran serta ilmuan Islam, termasuk para ekonom muslim. Peran para ilmuwan muslim tersebut terinspirasi oleh pesan wahyu Al Quran untuk pendayagunaan akal. Inilah mutiara yang hilang dewasa ini dan sebagai akibatnya Dunia Islam tertinggal dan kehilangan daya saing. Motivasi keilmuwan lebih banyak diisi oleh keinginan memiliki materi sebanyak mungkin (materialisme).
Materialistme mengajarkan bahwa  kesejahteraan diukur dari pemilikan barang-barang mewah. Semakin banyak barang mewah yang dimiliki maka tingkat kesejahteraannya semakin tinggi pula, begitu pun sebaliknya. Logika masyarakat sekarang tentang kesejahteraan terkontruksi dengan pemikiran materialisme. Dimana sangat tidak masuk akal dalam arti lain sangat susah untuk diterima oleh akal jika mengatakan bahwa orang yang tinggal di gubug sederhana jauh lebih sejahtera dibanding dengan orang yang tinggal di apartemen mewah, atau menganggap gila jika ada yang mengatakan bahwa  orang yang hanya memiliki sepeda butut jauh lebih sejahtera dibanding dengan orang yang memiliki BMW limitted edition.
Adanya perubahan struktur sosial masyarakat saat ini tidak dapat dipisahkan dari sistem ekonomi yang dianut. Sistem ekonomi kapitalis yang memuja materi sebagai indikator kesejahteraan (economisentris). Atas dasar kalkulasi-kalkulasi ekonomi yang ada dalam benak dan pikiran yang kemudian membangun relasi-relasi sosial ekonomi masyarakat. Inilah yang membentuk penerimaan individu terhadap masyarakat. Orang akan lebih dihargai jika memiliki ekonomi yang bagus.
Sisi-sisi buruk pembangunan ekonomi, secara sosial yang diakibatkan oleh ketimpangan distribusi pendapatan, dimana golongan kaya semakin kaya dan golongan miskin semakin memiriskan. Relasi-relasi sosial semakin menurun, lebih menghargai individu yang memiliki atau bagus secara ekonomi dibanding individu yang memiliki kualitas sosial dan moral yang bagus. Hal ini terbukti ketika saat ini masyarakat ternyata lebih menghargai individu  yang punya banyak uang walau seorang koruptor dibanding orang alim atau baik hati tapi miskin.
          
Konsep Kesejahteraan
Membincang ekonomi tidak akan pernah lepas dari konsep kesejahteraan (welfare). Bahkan menurut asumsi kaum developmentaris menganggap bahwa tujuan akhir dari pembangunan ekonomi adalah menciptakan kesejahteraan. Salah satu kelebihan dari konsep kesejahteraan adalah karena memiliki prinsip, serta mengalami evolusi konsep untuk terus memperbaiki pemahaman, karena pada hakikatnya akan selalu ada konsep-konsep yang lebih baik.
Kualitas hidup (Quality of life ) jika selama ini sangat kental nuansa ekonomi (economisentris), sekarang ini telah mengalami pergeseran dimana konsep kesejahteraan lebih konprehensif dengan memasukan konsep-konsep lain seperti pembangunan yang memperhatikan aspek sosial dan aspek pelestarian lingkungan.
Apalah arti sejahtera dalam bidang ekonomi tapi memiliki interaksi sosial yang buruk, pun apalah arti pertumbuhan ekonomi yang tinggi jika mesti merusak lingkungan. Olehnya itu konsep kesejahteraan yang dikembangkan dewasa ini adalah bagaimana menciptakan masyarakat yang terjamin secara financial, mapan secara sosial dan tetap menjaga kelestarian lingkungan.
Ternyata Islam juga memiliki konsep kesejahteraan yang jauh lebih bagus dibanding konsep-konsep ekonomi barat. Konsepnya pun telah diterapkan dengan baik, mulai dari zaman Rasulullah Saw, sampai para Khalifah penggantinya. Kesejahteraan dalam pandangan Islam bukan hanya dinilai dengan ukuran material saja; tetapi juga dinilai dengan ukuran non-material; seperti, terpenuhinya kebutuhan spiritual, terpeliharanya nilai-nilai moral, dan terwujudnya keharmonisan sosial.
Dalam pandangan Islam, masyarakat dikatakan sejahtera bila terpenuhi dua kriteria: Pertama, terpenuhinya kebutuhan pokok setiap individu rakyat; baik pangan, sandang, papan, pendidikan, maupun kesehatannya. Kedua, terjaga dan terlidunginya agama, harta, jiwa, akal, dan kehormatan manusia. Dengan demikian, kesejahteraan tidak hanya buah sistem ekonomi semata; melainkan juga buah sistem hukum, sistem politik, sistem budaya, dan sistem sosial.***

Oleh;
Ilyas Alimuddin
Mahasiswa Program Pasca Sarjana Ekonomi Perencanaan & Pembangunan Unhas
Editor: Aldy
Sumber: Tribun Timur
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
177892 articles 11 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas