Jurnalis Tribun Berduka
Kesan Sahabat Adin
Kesan Sahabat Adin, jurnalis tribun berduka
Sepeninggal Adin, ucapan duka seakan tak berhenti diterima oleh wartawan Tribun lainnya. Sejumlah rekan almarhum yang meninggalkan seorang istri ini, bahkan mengirim tulisan kesan pertemuan terakhirnya dengan Adin. Antara lain
Dedi Alamsyah Mannaroi, Asrar Marlang, dan Arief Situju.
Berikut petikan tulisan Dedi, Asrar, dan Arief yang dikirim ke wartawan Tribun.
Sekitar 5 bulan saya sempat ketemu dgn adin ngopi tengah malam di warkop
Om Ben.Ga biasax adin ajak minum kopi tengah dari jam 12 malam sampai
jam 2 pagi saat itu.
Banyak hal yg kami bicarakan dr politik,keluarga masing2x hingga nasib kami menjadi anak yatim. Adin sempat sedih sekali karena dia tdk telat lihat ayahnya meninggal.Karena dr jakarta dia mau kecirebon tapi nyasar kebogor.
Saya hanya bilang sama Adin bhw kondisinya jauh lebih baik dari
saya.Karena saya ga sempat lihat jenazah ayah saya sama sekali.Maklum
saya saat itu di makassar ayah saya dibekasi.Ayah saya pun telah
dikubur.
Adin pun terdiam saat itu matanya merah seperti menahan air mata.Bersama
saya adin sepertinya agak terbuka karena saya juga terbuka apapun yang
saya bicarakan.
Lalu adin bicara pada saya : "Suatu hari nanti saya harus susul ayah
saya ya de" ! Saya sontak kaget sambil bilang : Istighfar ko de' ndak
baik begitu.Kau punya keluarga sendiri sekarang (istrimu).Ayah kita
meninggal itu takdirnya dan dia tidak mau lihat kita terpuruk karena
dia.Dia mau kita kuat.
Lalu dia bilang lagi sama saya " nanti lah bos kita lihat siapa yang
bisa susul duluan ayah kita masing".Lalu saya hanya diam.mencoba untuk
mengerti perasaannya.
Mendengar adin kena musibah llau meninggal pas dunia berganti malam
(adzan maghriB). Saya kaget dan ingat akan pembicaraan kami saat di
warkop om ben itu.Ternyata mimpi adin terwujud dia bisa menyusul ayahnya
yang ia cintai dan sayangi.
Demi Allah saya hanya bisa berharap dari musibah ini semua aspek
pemerintah bisa awareness (peduli) untuk bisa menertibkan operasional
jam truk di kota makassar. Gowa dan Makassar harus kompak jangan karena
politik anda sama-sama gengsi dan lempar tanggung jawab.Seorang nyawa
wartawan telah melayang dalam tugasnya.
Adin Tenanglah disana temuilah ayahmu Al Fathihah..... (Dedi Alamsyah Mannaroi-Sobatnya Adin)
Sementara Asrar Marlang yang juga Kabag Hukum KPU Sulsel, mengatakan:
Sosok almarhum, merupakan sosok yang mudah bergaul tanpa
membeda-bedakan latar belakang orang. Di KPU Sulsel, Asrar merupakan
orang yang cukup dekat dengan wartawan politik Tribun Timur itu.
Dia menilai, sosok Adin bukan hanya dekat sebagai konstituen." Bukan
hanya hubungan wartawan dengan nara sumber. Saya dengan dia seperti
sahabat. Asik sekali, tidak hanya dekat saat butuh berita," kenang Asrar
di Kantor KPU Sulsel, Jl AP Pettarani, Makassar, Selasa (27/11/2012).
Asrar mengenal alumnus Pondok Pesantren Gontor Ponorogo, Jatim itu
sebagai pribadi yang tanpa cela. Dikatakan, almarhum adalah sosok yang
patuh pada ajaran agama Islam. "Kalau bunyi adzan, duluan dia
tinggalkan ruanganku pergi salat," kata Asrar.
Selain itu, dalam kesehariannya, dia menilai sosok pria yang mulai
mengabdikan diri di Tribun Timur tahun 2009 silam, tidak pernah
merepotkan apalagi menyusahkan orang lain. " Dia dekat dengan semua.
Tidak ceplas ceplos, dia dengan nara sumbernya seperti saudara," ujar
Asrar.
Satu yang tidak dilupakan oleh Asrar, ketika dia diberi panggilan
khusus oleh almarhum. " Saking dekatnya, dia panggil saya Pak Jubir
(Juru Bicara). Ini yang tidak bisa saya lupakan, dia yang beri saya
gelar itu," pungkas Asrar.
Penilaian yang sama juga disampaikan rekan meliput
Adin di DPRD Sulsel, Arief Situju. Wartawan Berita Kota Makassar ini
sangat merasa kehilangan sosok Adin.
"Almarhum merupakan sosok yang santun, taat beribadah, dan nyaris tanpa cela," kata Arief.