A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Menunaikan Amanah Ramadan - Tribun Timur
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 26 Juli 2014
Tribun Timur
Home » Opini

Menunaikan Amanah Ramadan

Kamis, 30 Agustus 2012 19:58 WITA
Menunaikan Amanah Ramadan
Fakhruddin Ahmad, Wakil Ketua Pemuda Muhammadiyah Sulsel
Bulan mulia Ramadan sesungguhnya telah mengkondisikan kita sedemikian rupa untuk mewujudkan semua itu dalam kepribadian kita. Selama sebulan penuh kita banyak berlatih untuk berkorban demi ibadah, demi taubat, menahan hawa nafsu, meninggalkan kebiasan yang jelek

Bulan mulia Ramadan 1433 telah meninggalkan kita. Ia telah pergi membawa amal ibadah bersama dosa dan kelalaian kita. Setiap Muslim tentu berdoa agar semua amal ibadahnya diterima Allah Swt, semua dosa dan kelalaiannya diampuni oleh Allah Swt, semua doa dan harapannya dikabulkan dan diwujudkan oleh Allah Swt. Setiap Muslim tentu berusaha untuk meningkatkan sensitifitas hatinya sehingga ia benar-benar menghayati rasa butuhnya kepada Allah Swt.
Seorang Muslim yang memiliki sensitifitas hati, tentu akan sangat risau dan prihatin melihat keluarga dan masyarakat Muslim di sekitarnya mulai melupakan bulan mulia Ramadan. Sebagian keluarga dan masyarakat kita mulai malas ke masjid untuk salat jamaah. Sebagian keluarga dan masyarakat kita mulai malas salat sunnah, mulai malas membaca Al Quran, mulai malas memperbanyak dzikir dan doa.
Bahkan, sebagian keluarga dan masyarakat kita tidak terlihat pada wajah, perilaku dan ucapannya, ada tanda kesadaran, tanda kepedulian pada ibadah, tanda keberhasilan ibadah selama sebulan mulia Ramadhan. Astaghfirullah al azhim.
Mengapa banyak Muslim yang ke masjid hanya pada bulan Ramadan saja? Mengapa banyak Muslim yang membaca Al Qu’an hanya pada bulan Ramadan semata?. Mengapa banyak Muslim yang menjauhi dosa hanya pada bulan Ramadan saja? Semoga saja, salah satu alasannya karena mereka belum paham bahwa peningkatan iman itu adalah kewajiban seumur hidup.
Itulah bentuk konkrit dari dari pengamalan firman Allah Swt: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (QS. Ali Imran: 102)
Orang yang beriman kepada Allah Swt, diwajibkan untuk bertaqwa kepada Allah Swt dengan taqwa yang sebenar-benarnya. Melaksanakan semua perintahNya dan menjauhi semua laranganNya semaksimal kemampuan. Pengamalan perintah Allah ini, memerlukan kesungguhan dan kerja keras untuk senantiasa meningkatkan ibadah dan amal shaleh, meningkatkan rasa takut berbuat dosa, dan penyesalan yang mendalam setelah berdosa serta upaya memperbanyak istighfar, dzikir dan doa.
                    Demi Ibadah
Bulan mulia Ramadan sesungguhnya telah mengkondisikan kita sedemikian rupa untuk mewujudkan semua itu dalam kepribadian kita. Selama sebulan penuh kita banyak berlatih untuk berkorban demi ibadah, demi taubat, menahan hawa nafsu, meninggalkan kebiasan yang jelek.
Setelah bulan Ramadan berakhir, semestinya kita telah berada pada level iman dan taqwa yang lebih tinggi, sehingga kita semakin cinta kepada ibadah dan amal shaleh, semakin takut pada dosa dan kelalaian. Kalau perasaan mulia ini belum menggelora dalam diri kita, mohon maaf- berarti kita masih gagal dalam pelatihan iman dan taqwa selama Ramadan. Bulan mulia ini ternyata lebih menyerupai penjara bagi kita yang tidak membawa nilai-nilai pendidikan bagi kepribadian kita, sehingga kita merasa sebebas-bebasnya setelah keluar dari bulan mulia itu. Naudzubillah.
Marilah kita renungkan firman Allah yang agung ini: Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali (QS. An-Nahl: 92).
Ayat yang mulia ini melarang kita mencontoh perbuatan seorang wanita gila yang menenung benang, helai demi helai menjadi kain. Lalu setelah benang-benang itu telah sempurna menjadi kain yang kuat, dia cabut kembali benang-benang itu satu persatu sampai habis, sampai tidak ada kain lagi.
Inilah perumpamaan orang yang bersungguh-sungguh beribadah pada bulan Ramadan, lalu setelah Ramadan berakhir, ia menghentikan ibadah, ia kembali aktif berbuat dosa dan maksiat, tenggelam dalam kelalaian. Inilah perumpamaan orang yang menunaikan ibadah haji dan umrah dengan pengorbanan yang sangat besar, lalu setelah ia pulang dari ibadah haji dan umrah, ia kembali aktif berbuat dosa dan maksiat.
Ia kembali malas beribadah, ia menjadi orang yang lalai. Inilah perumpamaan orang yang telah mengikuti training ESQ atau training yang serupa dengan itu. Lalu setelah itu ia malas beribadah, malas berdzikir, tidak peduli pada ibu dan bapak, masih memelihara sifat dendam, bakhil, dan tunduk kepada hawa nafsunya.
                Amanah Ramadan
Setidaknya, 3 hal penting utama yang patut kita capai dalam bulan Ramadan, 1) Rahmat Allah Swt, 2) Ampunan atas semua dosa, 3) Dibebaskan dari Neraka di hari kemudian. Ketiganya tentu akan kita raih jika senantiasa menjaga diri menjadi muslim sejati, dimana semuanya berawal dari taubat sebenar-sebenarnya.
Marilah kita bertaubat dan selalu bertaubat kepada Allah Swt, sebab tidak ada seorangpun dari kita yang suci dari dosa dan kealpaan. Itulah sebabnya semakin tinggi iman seseorang, semakin banyak istighfarnya, karena hatinya semakin sensitif terhadap dosa dan kelalaian, semakin mendalam rasa takutnya kepada Allah, semakin besar rasa butunya kepada Allah, rasa ketergantungannya kepada Allah. Bahkan, ia merasakan kebahagiaan yang tiada taranya dalam istighfar, dzikir, munajat, dan semua ibadahnya.
Allah Swt berfirman: Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An-Nur: 31)
Inilah target perjuangan peningkatan kualitas kepribaidian kita, yaitu menikmati ibadah, bahagia dengan dzikir, merasakan cinta yang mendalam kepada amal shaleh, merasakan kesedihan yang mendalam atas semua dosa, merasakan penyesalan yang mendalam atas semua kelalaian. Inilah manifestasi iman dan taqwa yang mesti kita capai, mesti kita rasakan. Rasulullah saw pernah bersabda: ”Siapa yang berbahagia dengan kebaikannya dan bersedih dengan kejelekannya, maka ia orang beriman”.
Alhamdulillah, bulan mulia Ramadan telah melatih kita untuk mencapai target itu. Ibadah haji telah melatih kita untuk merasakan nikmatnya ibadah. Training peningkatan iman dan training-training keIslaman lainnya sangat memotivasi kita untuk mewujudkan kesadaran imani yang sangat membahagiakan.
Pengajian, majelis taklim, khutbah jum’at, pesantren kilat, muhasabah, berbagai ceramah di TV dan radio, semua itu telah mengingatkan kita untuk meningkatkan iman dan taqwa secara berkesinambungan. Sebab tanpa perjuangan, kesungguhan dan kerja keras untuk meningkatkan iman dan taqwa secara terus menerus, niscaya iman kita pasti turun. Jika kita sengaja berbuat dosa, iman kita pasti turun, jika kita malas beribadah, iman kita pasti turun. Jika kita tidak shalat jamaah di masjid tanpa halangan, iman kita pasti turun.
Jika kita lalai berdzikir, iman kita pasti turun. Jika kita tidak membaca Al Quran dalam sehari semalam tanpa halangan, iman kita pasti turun. Kalau iman kita turun, maka kita kurang menikmati ibadah dan amal shaleh. Kalau iman kita turun, ibadah itu terasa membebani, terasa sangat berat.
Kalau iman kita turun, dosa-dosalah yang membahagiakan kita. Kalau iman kita turun, tidak ada rasa penyesalan setelah berbuat dosa. Akibatnya, hati kita kotor, pikiran kita kacau, urusan dan pekerjaan kita sulit, mudah pessimis, cepat putus asa, cepat marah, pendendam, arogan, takabbur, bakhil, serakah, dan banyak lagi dampak negatif dari iman yang lemah, iman yang terpuruk.
Marilah kita menghayati firman-firman mulia ini: 1) Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit (QS. Thaha: 124). 2) Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya (QS. At-Thalaq: 2-3). 3) Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya (QS. At-Thalaq: 4).***
Editor: Aldy
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas