A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Bangun Peradaban Qurani Mulai Dari Majelis Taklim - Tribun Timur
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 1 Agustus 2014
Tribun Timur

Bangun Peradaban Qurani Mulai Dari Majelis Taklim

Jumat, 17 Agustus 2012 21:34 WITA
Membangun peradaban Qurani adalah impian dari Rektor Universitas Islam Makassar (UIM), Dr Majdah M Zain MSi. Ia berharap kelak umat Muslim di Sulawesi Selatan terus menjadikan Alquran sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Alquran merupakan kalamullah dan membacanya merupakan ibadah. Bagi seorang Muslim, membaca Alquran saja berpahala bahkan pahala itu diberikan atas setiap huruf AlQuran yang dibaca. Akan tetapi, yang dituntut oleh Islam selanjutnya adalah penerapan atas apa yang dibaca.

Sebab, Aluran bukan sekadar bacaan dan kumpulan pengetahuan semata, tetapi petunjuk hidup bagi manusia. Alquran tidak hanya sekadar dibaca dan dihapalkan saja, melainkan juga harus dipahami dan diamalkan isinya dalam kehidupan sehari-hari.

"Kita berharap pada generasi muda bahwa Alquran tidak hanya diyakini sebagai pedoman hidup tetapi juga tercermin pada perilaku keseharian," ujar Majdah di kampus UIM, Jl Perintis Kemerdekaan, Makassar, beberapa waktu lalu.

Untuk membangun generasi dengan peradaban Qurani, Doktor Ilmu Pertanian PPs Unhas ini rajin melakukan dakwah ke bebrapa daerah di Sulawesi Selatan. Ia sering mendapatkan undangan untuk melakukan dakwah di kelompok majelelis taklim di hampir semua kabupaten di Sulsel. Dakwah yang dilakukannya dimulai dari kelompok ibu majelis taklim hingga beberapa tahun terakhir ia juga diundang untuk membawakan ceramah bagi jamaah salat tarwih di Masjid Raya Makassar.

Menurutnya, Alquran tidak hanya disakralkan (disimpan) di lemari tapi menjadi sumber informasi dan juga menjadi sumber inspirasi, sera Alquran tidak hanya dilombakan tetapi jadi motivasi hidup. "Alquran bukan haya sekadar dibaca namun juga tercermin dalam kehidupan kesahari-harian masyarakat," kata Ketua Forum Kajian Cinta Alquran (FKCA) ini. (ana)

Mulai Dari Majelis Taklim

Menurutnya, untuk mencapai peradaban Qurani ini maka perlu pemahaman umat tentang pentingnya Alquran dalam kehiduapan sehari-hari. Majdah memulai dakwahnya dari kelompok-kelompok majelis taklim yang anggotanya adalah ibu-ibu rumah tangga. Diharapkan, ibu-ibu anggota majelis taklim dapat menerapkannya.

Mereka ini dapat mencontohkan mulai dari keluarganya yakni mulai dari anak ataupun suami, dan orang-orang yang ada disekitarnya. Setelah dari keluarga bisa diterapkan di lingkungan masyarakat. "Kalau ibunya sudah dicerahkan bisa ke anaknya dan suami," kata Ibu empat anak ini.

Sayangnya, kelompok majelis taklim saat ini hanya beranggotakan ibu-ibu rumah tangga. Majdah berharap agar suatu saat nanti, kelompok majelis taklim juga sudah bisa beranggotakan laki-laki sehingga mereka juga mampu memahami arti penting Alquran dalam kehidupan sehari-hari. (ana)

Punya 21 Cabang FKCA
Saat ini Ketua Forum Kajian Cinta Alquran (FKCA) yang dipimpin oleh Dr Majdah MZain sudah memiliki 21 cabang di 21 Kabupaten/Kota di Sulawesi Selatang. Kelompok kajian ini sering melakukan pertemuan dan komunikasi dan kegiatan-kegiatan tentang kajian cinta Alquran.

FKCA Sulsel sering melakukan pertemuan di kediaman Majdah, di Rumah Jabatan Wakil Gubernur Sulsel setiap hari Sabtu. Namun untuk misi membumikan Alquran dalam kehidupan masyarakat Sulsel, Kata Majdah, tidak cukup hanya dengan melakukan pertemuan dengan para anggota di Rujab setiap hari Sabtu.

"Olehnya itu, kita mulai mengubah paradigma bahwa membaca Alquran tidak hanya sekadar mengejar pahala tapi juga diterapkan secara terus menerus," kata Majdah.

Majdah menambahkan, awalnya, FKCA ini dibentuk untuk memberantas buta aksara Alquran, tapi setelah dikaji dengan kondisi kekinian sekarang ternyata bukan sekadar pemeberantasan buta aksara Alquran tapi memberikan pemahaman Alquran. "Yakni dipaham, dimengerti, dan diamalkan," kata Majdah.

Alquran bukan haya sekadar dibaca dan tap tercermin dalam kehidupan masyariakat. Banyak orang berbuat baik selain karena norma tapi juga karena tututan hukum namun dengan adanya pemahaman tentang Alquran, masyarakat akan sadar mana yang baik dan mana yang buru.

Dengan demikian, masyarakat berbuat baik karena memang takut pada Tuhan bukan hanya sekadar peraturan yang tertuang dalam undang-undang hukum negara. "Ada hukum saja orang bisa melanggar. Namun dengan Alquran orang bisa sadar dan paham bahwa itu tidak baik," katanya.

Hal itu karena ketentuan dan hukum yang dibawa oleh Aquran mengatur seluruh segi dan dimensi kehidupan Berbagai interaksi yang dilakukan manusia, baik interaksi manusia dengan Tuhannya, dengan dirinya sendiri, maupun dengan sesamanya, semua berada dalam wilayah hukum Aquran.
Penulis: Suryana Anas
Editor: Imam Wahyudi
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas