Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Sistem Pendidikan Polri yang Prohumasnisme

Presiden berpesan kepada Kapolri bahwa "didik dan latih peserta didik Polri dengan baik-baik, jangan dicecer" (Tribunnews, 26 Juli 2012).

Tayang:
Editor: Aldy
DALAM  Sidang Kabinet Terbatas  Bidang Polhukam di Kantor Kejaksaan RI 25 Juli 2012 Presiden berpesan kepada Kapolri bahwa "didik dan latih peserta didik Polri dengan baik-baik, jangan dicecer" (Tribunnews, 26 Juli 2012).
Presiden menyampaikan  pesan itu, sehubungan dengan persetujuannya atas proposal penerimaan calon Brigadir dan Perwira Polri sebanyak 10 ribu orang, tahun 2012.
Isi pesan Presiden  itu singkat namun mengandung makna dan nilai filosofis dan praksis yang mendalam. Makna dan nilai itu dipahami jika pertanyaan skeptis  berikut dijawab dengan jelas.
Siapakah calon polisi itu? Siapakah manusia itu?  Bagaimana cara mendidiknya? Serta apa tujuannya sehingga mereka perlu dididik dan dilatih?
Dalam berbagai definisi tentang manusia dalam buku Malla "Mengaktifkan Hati Nurani" (2010) mengungkapkan bahwa perpaduan antara jasmani dan jiwa disebut manusia, yang oleh Al Qur'an disebut dengan berbagai istilah al-insan, al-basyar, al-nas, dan al-uns.
Ilmu Biologi mengidentifkasi  bahwa unit terbesar dari unsur jasmani adalah sistem seperti sistem kulit, sistem pencernaan,  sistem pernapasan, sistem peredaran, sistem indera, sistem otot , dan lain-lain.
Sistem ini terdiri dari berbagai organ, seperti organ perut, jaringan sekresi, jaringan pelipis, dan lain. Lalu jaringan mengandung sel, seperti sel hati, sel darah merah, sel saraf, dan lain-lain. Sel-sel tersebut saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya.
Unsur jiwa (nafs)  terdiri atas unsur ruh (ruh), unsur nurani (fu'ad), unsur hati dan akal (qalb), dan unsur hawa nafsu ( hawaa/syahwaat). Unsur fu'ad dan qalb berasal dari ruh Allah, sedangkan unsur syahwat berasal dari jasmani. Allah juga menyebut nafs (jiwa) atau diri manusia sebagai gabungan antara aspek jiwa dan aspek jasmani sebagaima diungkapkan Al Qur'an surat Al Mu'minuun 23:12-14, 78  dan Asy Syams 91: 7-10.
Dengan demikian, unsur-unsur yang ada di dalam diri manusia itulah yang akan menjadi obyek pendidikan dalam arti luas (menyadarkan, mendidik, mengajar, dan melatih).
Sesungguhnya pendidikan itu adalah kehidupan. Pendidikan yang utuh jika disinergikan dapat menjadi kegiatan menyadarkan diri, mendidik, mengajar dan melatih.
Dalam realitasnya, sistem pendidikan yang berlangsung saat ini lebih dominan mengedepankan pengajaran, kemampuan berpikir( akal- intelektual- brain- head) dan pelatihan, kemampuan mekanistik (skill, otot, panca indra- hand). Sementara, "pendidikan" dalam arti sempit relatif sedikit digarap, kemampuan/kecerdasan sosial, muamalah, berinteraksi (emosional, hati, jiwa, heart).
Apalagi upaya penyadaran diri, sangat sedikit dilakukan. Kemampuan penyadaran diri yang diharapkan hadir dalam diri peserta didik adalah mengenali diri sebagai hamba Allah Swt dan khalifaul fil ardhi,  mengenal adanya Tuhan dan mengaktualisasikan sifat-sifat ketuhanan dalam ucapan, sikap dan tindak dalam keseharian hidup (spritual- pengenalan diri, tuhan dan ketuhanan- fu,ad- nurani).
Unsur-unsur manusia itu mengandung potensi kemampuan, kekuatan yang digunakan untuk melangsungkan hidup dan kehidupannya dalam bermsyarakat, berbangsa dan bernegara.
Semua manusia normal memiliki potensi kemampuan dan kekuatan itu. Instrumen untuk mengembangkan potensi itu adalah pendidikan dalam arti luas. Proses pendidikan dapat dilaksanakan dimana saja; di lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, dan lembaga pendidikan formal.
Kemampuan-kemampuan manusia tersebut menjadi urgen dirumuskan dalam sistem pendidikan di Indonesia, terutama dalam rumusan muatan materi kurikulum.
Muatan materi tersebut  sejatinya menyesuaikan dengan jenis dan jenjang pendidikan. Sudakah terumuskan kemampuan-kemampuan itu dengan baik dalam undang-undang sistem pendidikan nasional? rumusan itu penting karena menjadi pedoman bagi satuan pendidikan. Penonjolan pencapaian kemampuan-kemampuan hasil didik itu disesuaikan dengan jenis dan jenjang pendidikan yang utuh dan terpadu.
Fenomena sosial negatif yang sering mucul di tengah-tengah masyarakat, kemungkinan salah satu sebabnya adalah penyelenggaraan sistem pendidikan yang kurang mengutuh-padukan unsur-unsur insani tersebut. Sistem pendidikan belum optimal mengembangkan potensi kemampuan, kekuatan manusia secara utuh dan terpadu. Kemungkinan pengembangkan kemampuan peserta didik menitip beratkan kemampuan tertentu dan melalaikan kemampuan lainnya.
Sesungguhnya, pendidikan yang utuh dan terpadu harus mengembangkan potensi kemampuan manusia menyeluruh dan seimbang.
Dengan demikian, sistem pendidikan Polri perlu  mengintegrasikan segenap unsur insani tersebut dalam merumuskan filosofi pendidikan, peserta didik, pendidik, tujuan pendidikan, kurikulum, metode pendidikan, dan teknologi pendidikan. Itu semua merupakan aspek dominan menentukan kualitas pencapaian tujuan pendidikan Polri, yaitu kemampuan atau kecerdasan manusia.
Ki Hajar Dewantara menegaskan keberhasilan pendidikan apabila mampu  memanusiakan manusia. Tentunya manusia yang dimaksud adalah manusia utuh. Hasil didik lembaga pendidikan Polri akan menjadi  manusia apatur negara penegak hukum di negara tercinta ini.
Dapat dipahami bahwa ucapan, sikap dan tindakan mereka berpengaruh pada kepastian, keadilan, kesejahteraan, dan keamanan dalam masyarakat, bangsa dan negara. Dengan demikian, sosok polisi tidak beda dengan guru.
Sebagai guru, ucapan, sikap dan tindakannya menjadi sumber pembelajaran peserta didik, biasa disebut hidden curriculum.
Ruang kelas atau perkuliahan, polisi sebagai guru masyarakat dan bangsa adalah lingkungan sosial. Sedangkan peserta didiknya adalah putra-putri terbaik bangsa ini.
Karena perannya seperti itu, maka menjadi sangat penting bagi Polri mengelola dengan baik lembaga pendidikan sebagaimana pesan presiden. Apapun buah hasil dari proses pendidikan Polri tersebut akan dirasakan oleh segenap bangsa ini. Tahun 2012, Polri akan menyelenggarakan pendidikan calon Manusia Bhayangkara Negara sebanyak 10.000 orang di seluruh lembaga pendidikan Polri. Pendidikan tersebut tentunya merupakan upaya utuh dan terpadu dalam aspek pencapaian kecerdasan spritual , kecerdasan emosional, kemampuan intelektual dan keterampilan fisik. Dengan demikian, hasil dari pesan Presiden "didik dan latih dengan baik" adalah sosok polisi  bekerja karena ibadah, humanis, cerdas dan trampil.

Oleh;
DR. M. SAID SAILE
Alumnus UNM, berpangkat Inspektur Jenderal Polisi.
tenaga ahli biro hukum dan ham di Lemhannas RI Jakarta

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved