A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Don’t Stop Beramal Sekecil Apapun - Tribun Timur
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 19 April 2014
Tribun Timur
Home » Opini

Don’t Stop Beramal Sekecil Apapun

Senin, 30 Juli 2012 23:04 WITA
Don’t Stop Beramal Sekecil Apapun
dok. tribun
Dosen ILmu Komunikasi Unhas.
Kisah si Fulan, adalah contoh kecil dari sebuah sikap hidup yang mulia. Kemiskinan tidak menghalanginya menjadi penyumbang masjid. Ia Istiqomah dan bangga dengan amalan kecilnya. Ia tak pernah merasa bosan apalagi mengeluh sedikitpun dengan amalan rutinnya itu.

Suatu waktu, di sebuah warung kopi tempat saya menyeruput teh China dan roti bakar, salah seorang senior bertutur tentang kisah yang sungguh menyentuh. Senior itu adalah Najib Latandang, mantan pemain sepak bola legendaris  era tahun 70 hingga 80 an di Makassar.
Najib Latandang adalah salah seorang pemain sepak bola asuhan Ramang  sang legendaris yang cerita hidupnya banyak dimitoskan. Bersama dengan Ronny Pattinasarani, Syamsuddin Umar (terkenal sebagai  pelatih sepakbola nasional) serta  Yopie Lumoindong  dan Anwar Ramang (anak Ramang) pernah mengharumkan dunia sepak bola di Makassar. Di antaranya, melalui Klub Sepak Bola Makassar Utama pimpinan HM Jusuf Kalla.
Peristiwa apa gerangan yang begitu memengaruhi hidup Najib Latandang sang legendaris itu? Sebenarnya kisahnya cukup sederhana. Berawal dari mendengar ceramah seorang ustad yang mengisahkan sebuah peristiwa kehidupan nyata di Kota Jakarta.
Alkisah, hiduplah seorang paruh baya  (kita andaikan dengan nama si Fulan). Fulan bekerja dengan penghasilan kelas buruh harian, yang hanya  pas-pasan untuk sekadar bertahan hidup satu hari beserta anak istrinya.
Setiap hari, penghasilannya telah terbagi habis dengan perincian uang makan di tempat kerja, ongkos angkot pergi pulang dari rumah ke tempat kerja dan kembali ke rumah, serta uang beras dan lauk pauk buat anak istrinya di rumah. Selain itu, Fulan juga tak lupa setiap hari menyisihkan dua setengah persen dari total gaji hariannya untuk celengan masjid. Menjatah celengan telah menjadi ritualnya setiap hari. Seolah telah menjadi kebutuhan, sehingga tak pernah ia lalai sekalipun.
Ketika adzan dhuhur berkumandang, ia langsung bersegera ke masjid. Pada jam tersebut, memang saatnya istirahat. Sebagian teman sekerjanya, ada langsung ke warteg untuk makan siang, atau santai bercanda sejenak sembari menikmati secangkir kopi ditemani sebatang rokok dengan kepulan asapnya. Mereka tampak bahagia, meskipun hidup di bawah standar kecukupan.
Hidup memang terkadang paradoksal. Ada yang tetap bisa bahagia, meskipun hidup sekadar pas-pasan. Sementara itu, justru ada yang tak bisa menikmati hidup bahagia, karena tidur tak bisa nyenyak dan makan tak bisa nikmat. Padahal, secara materi hidup melimpah.
Di sinilah makna pentingnya sebuah keyakinan dan pegangan hidup berupa agama. Si Fulan adalah  salah satu yang berpandangan demikian. Menurutnya, jika tak sempat menikmati kekayaan di dunia, ia masih berharap semoga di akhirat mendapatkannya.
Kepentingan Akhirat
Itulah sebabnya, ia rajin menabung untuk kepentingan akhirat. Setiap salat dhuhur di masjid, tak pernah lupa memasukkan dua setengah persen penghasilan hariannya. Jumlah dua setengah persen, adalah sesuai takaran zakat yang biasa ia dengar dari ceramah para ustad. Kebiasaan itu, telah bertahun ia amalkan tanpa merasa terbebani. Meskipun ia tahu bahwa dengan penghasilan yang pas-pasan, ia tidaklah termasuk golongan yang wajib berzakat. Tapi ia tak peduli, ia bahagia jika bisa memberi. Terlebih jika itu di jalan Allah.
Setiap selesai memasukkan dua setengah persen di celengan masjid, terasa ada nikmat tersendiri yang sulit dilukisan dengan kata-kata. Yang pasti, ia bahagia, ada rasa plong di rongga dada.
Hingga suatu hari, ketika celengan masjid  yang beredar mulai menghampirinya, ia pun merogoh kantongnya untuk jatah celengan sebagaimana biasanya. Namun, ia kaget bukan kepalang.  Betapa tidak, karena terburu-buru ia lupa menukarkan uang pas (sesuai takaran dua setengah persen) untuk jatah celengan masjid. Di saku celananya cuma ada selembar uang lima puluh ribu rupiah. Uang itu, sudah termasuk ongkos pulang dan makan siang di earteg.
Dalam batin si Fulan, terjadi peperangan. Tetap memasukkan uang di celengan atau tidak. Jika memasukkan, berarti jatah makan siang hilang dan ongkos angkot untuk pulang tidak ada. Jika tak memasukkan, berarti alpa beramal hari itu. Ia berpikir keras mencari solusi karena keputusan harus segera diambil.
Celengan semakin mendekat. Si Fulan tegang, bimbang dan ragu. Dan, ketika celengan pas di hadapannya, ia pun refleks merogoh sakunya. Clup! Lembar lima puluh ribu milik satu-satunya untuk hari itu, masuk sudah di celengan masjid. Celengan itu pun berlalu di hadapannya, membawa lembar uang miliknya.

Jalan Allah
Ketika tiba saatnya berdoa, si Fulan menangis terseduh-seduh. Ia menyesal, dan memohon ampun kepada Allah SWT. Ia merasa malu di hadapan Tuhannya, karena masih ada perasaan tidak tulus dalam membelanjakan hartanya di jalan Allah. Harga dunia ternyata masih berat baginya dibanding nilai akhirat yang ingin dia tuju.
Lama ia terpekur di atas sajadah. Orang-orang sudah pada meninggalkan masjid. Ia merintih dalam hati; "Betapa bodohnya saya karena masih sempat ragu membelanjakan harta di jalan Allah. Bahwa jika sekarang tak punya uang sepeserpun, karena seluruhnya telah ia sumbangkan di masjid, bukankah nanti  ia bisa pinjam di teman? Di sisi lain, jika sekiranya tadi ia tak menyumbang sebagaimana amalan rutinnya, maka itu artinya ia kehilangan kesempatan satu hari. Amalannya menjadi bolong, dan itu merupakan suatu kerugian yang amat besar."
Kesimpulannya, keputusannya sudah benar, dan tak ada penyesalan  sedikitpun. Ia bangga telah sukses mempertahankan kebiasaan rutinnya.  Setelah merasa tenang, ia pun perlahan beranjak, bermaksud meninggalkan masjid. Tiba-tiba ia dikagetkan oleh seseorang yang menepuk bahunya, dan langsung memeluknya. Rupanya, orang itu sahabat lamanya semasa masih di Sekolah Dasar.
Temannya itu pun berpesan, agar tidak segera meninggalkan masjid. "Mohon tunggu saya kawan, saya salat dulu, sudah lama saya mencari Anda. Rindu berbincang-bincang dengan kamu." Kata sahabatnya itu.
Singkat cerita, teman lamanya itu, akhirnya mengajaknya makan siang dan mengantarnya pulang hingga di rumah. Bahkan, temannya yang telah sukses itu, memaksanya untuk bekerja di kantornya. Namun, si Fulan menolak dengan halus. Konon, setelah pertemuan itu, kebutuhan hidup si Fulan sudah jauh lebih baik, ia mendapat modal kerja dari sahabat lamanya.
Kisah si Fulan, adalah contoh kecil dari sebuah sikap hidup yang mulia. Kemiskinan tidak menghalanginya menjadi penyumbang masjid. Ia Istiqomah dan bangga dengan amalan kecilnya. Ia tak pernah merasa bosan apalagi mengeluh sedikitpun dengan amalan rutinnya itu.
Sangat boleh jadi, si Fulan mengamalkan Sunnah Rasulullah, SAW yang menyatakan: "Laksanakan amalan semampu kalian, sesungguhnya Allah tidak bosan sampai kalian (sendiri) yang bosan. Dan sesungguhnya amalan yang paling di cintai Allah adalah amalan yang kontinu (berkesinambungan) walaupun sedikit." (HR Abu Daud). Maka dari itu, don't stop beramal, sekecil apapun itu.***
 
Oleh:
Aswar Hasan
Dosen ILmu Komunikasi Unhas.
Sumber: Tribun Timur
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
96909 articles 11 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
© 2014 TRIBUNnews.com All Right Reserved About Us Privacy Policy Help Terms of Use Redaksi Info iklan Contact Us Lowongan
Atas