Minggu, 21 Desember 2014
Tribun Timur
Home » Opini

Membina Remaja Melalui Shalat

Sabtu, 28 Juli 2012 23:48 WITA

Membina Remaja Melalui Shalat
Jika ditelusuri, salah satu faktornya adalah karena para orangtua kini tak lagi menganggap ilmu agama sebagai suatu hal yang penting untuk dipelajari oleh anak-anaknya, hingga menjadi lalai terhadap pendidikan dan pembinaan agama terhadap anaknya. Lalu, ketika anak-anak itu masuk sekolah, pembinaan sepenuhnya diserahkan kepada guru, yang lagi-lagi tak sepenuhnya bisa berbuat banyak karena tidak didukung minat para pelajar untuk mempelajari dan menambah wawasan tentang ilmu agama.

Seorang guru bercerita tentang siswa-siswi barunya. “Tambah macam-macam saja model anak-anak sekarang,” katanya. Menurut ceritanya, siswa-siswi yang masuk sekolah setingkat SMP itu, banyak diantara mereka yang tidak tahu rukun Islam. “Memprihatinkannya, diminta baca syahadat juga tidak bisa,” katanya lagi.
Dan keprihatinan itu berlanjut dengan cerita tentang siswanya di sebuah SMK. Siswa-siswa itu, ada yang tidak bisa membaca alif ba ta dan mengaji Al Quran. Padahal sudah sekolah menengah atas! Sementara di sisi lain, hanya gara-gara persoalan sepele, mereka berkelahi dan akan saling membunuh di luar sekolah.
Rasanya fakta itu tak terjangkau di dalam benak saya. Saya tidak habis pikir, sudah usia SMP belum bisa membaca syahadat? Belum tahu apa itu rukun Islam?  Masuk SMA/SMK belum juga bisa membaca Al Quran? Jarang shalat? Ya Allah… selama ini ngapain saja tuh anak? Tidak pernah diajar atau disuruh belajar oleh orangtuanya? Lalu, dengan nada terdengar kesal,-dan mungkin terkesan sedikit kasar- guru itu spontan saja menjawab, “orangtuanya hanya ngasih makan dan kebutuhan duniawi semata!”
Membincang ini, barangkali adalah sebuah aib. Tapi, suka tidak, harus kita akui, seperti inilah fenomena kehidupan sebagian anak-anak dan remaja kita saat ini. Seperti inilah sebagian besar generasi Islam kini menjalani kehidupannya. Mereka tidak tahu siapa jati dirinya, tidak kenal agamanya dan mungkin juga tidak terlalu yakin siapa Tuhannya. Dan jika agama sudah dijauhi, Tuhan tak lagi ‘dikenali’, maka jangan diharapkan mereka bisa mengetahui ajaran-ajaran agama yang semestinya dijadikan acuan dalam menjalani kehidupannya.
Lalu, jangan heran pula ketika akhirnya begitu banyak perilaku menyimpang yang dipertontonkan oleh anak/remaja sekolahan kita yang sejatinya bertentangan dengan norma moral dan agama. Dan pada akhirnya, barulah kita tersadar dan berpikir, sungguh ada yang salah dengan para generasi ini.
Fragmen di atas, tentulah menyedihkan bagi semua orang yang masih peduli akan keberlangsungan dan masa depan para penerus bangsa ini. Kita prihatin, karena bagaimanapun, kelak, para remaja inilah yang akan mengisi dan membangun peradaban di masa depan. Merekalah yang akan melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini.
Pondasi Moral
Bisa kita bayangkan, apa jadinya peradaban yang akan dibangun, jika persoalan mendasar seperti di atas justru tidak diketahui. Ke arah mana negeri ini akan dibawa jika pada saat ini pondasi moral dan agama mereka demikian rapuhnya? Dan tentu, kita tak bisa berharap banyak, jika kondisi ini terus terjadi dan dibiarkan melingkupi kehidupan mereka.
Jika ditelusuri, salah satu faktornya adalah karena para orangtua kini tak lagi menganggap ilmu agama sebagai suatu hal yang penting untuk dipelajari oleh anak-anaknya, hingga menjadi lalai terhadap pendidikan dan pembinaan agama terhadap anaknya. Lalu, ketika anak-anak itu masuk sekolah, pembinaan sepenuhnya diserahkan kepada guru, yang lagi-lagi tak sepenuhnya bisa berbuat banyak karena tidak didukung minat para pelajar untuk mempelajari dan menambah wawasan tentang ilmu agama.
Di sisi lain, rasa butuh terhadap ilmu-ilmu agama juga seakan sudah tidak ada lagi. Bandingkan saja ketertarikan anak dan (orangtua?) antara mempelajari ilmu-ilmu umum semisal matematika, bahasa Inggris dan lainnya dengan mengkaji ilmu agama seperti mengaji Al Quran dan kajian ke-Islaman.
Ilmu-ilmu umum, tak jadi masalah meski jika harus membayar les yang mahal. Sementara untuk mengeja alif ba ta dan menambah wawasan keislaman, sudah gratis, tidak ada yang mau mengikuti. Akhirnya, ini harus dibayar mahal; pondasi keimanan menjadi rapuh dan kita dilingkupi oleh permasalahan remaja yang tak ada habisnya. Akibat mereka tidak punya pegangan yang kuat atas norma akhlak dan aturan agama.       
Maka, melihat begitu rapuhnya pondasi keimanan generasi Muslim saat ini, maka harus ada yang dilakukan untuk memperbaikinya. Membiarkannya terus menerus dalam kondisi seperti itu, sama halnya menjerumuskan mereka dalam kehidupan tanpa makna dan jauh dari kehidupan yang terarah. Dan kelak, tidak akan bisa memberi andil bagi kehidupan dan masa depan umat, tidak mampu meraih hidup bahagia dunia-akhirat.    
Sanlat Ramadan     
    Beruntung, saat ini kita tepat berada di bulan suci Ramadan. Bersyukur, kita masih diberikan kesempatan untuk bertemu kembali. Bulan yang penuh dengan kemuliaan dan keberkahan. Bulan ketika pahala dari segala amal baik dilipatgandakan.
Di bulan ini, kalender pendidikan juga berubah. Libur yang bertambah, dan suasana sekolah terasa lebih islami. Dan satu yang terpenting, dalam bulan Ramadan, hampir semua sekolah menjalankan program Pesantren Kilat (sanlat) Ramadan. Program ini, diharapkan mampu memupuk keimanan, meningkatkan rasa takwa kepada Allah dan diharapkan bisa menambah wawasan keislaman kepada para peserta didik.
Karenanya, moment sanlat hendaknya bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk membina keimanan, akhlak/kepribadian, dan menambahkan wawasan keislaman sebanyak-banyaknya yang nanti bisa menjadi bekal untuk mengarungi kehidupan.
Selain itu, perlu ditanamkan pula akan wajibnya menuntut ilmu yang sudah digariskan syari’ah. Juga dibutuhkan pemahaman bahwa hanya dengan ilmu kita akan menjadi mulia dan selamat di dunia dan akhirat. Seperti ungkapan masyhur Imam Ali bin Abi Thalib: “Jika ingin selamat di dunia; dengan ilmu. Jika ingin selamat di akhirat; dengan ilmu, jika ingin selamat kedua-duanya; dengan ilmu. Seperti inilah para generasi terdahulu menghormati dan mencintai ilmu (lebih khusus ilmu agama), karena itulah bekal untuk mengarungi kehidupan di dunia yang merupakan jembatan menuju akhirat yang abadi.
Walhasil, dengan adanya sanlat ramadhan, diharapkan bisa menjadikan peserta didik menguasai/menambah tsaqafah/pengetahuan dasar seputar Islam dan membentuk kepribadian Islam yang kokoh dan akhlak mulia. Tanpa hasil ini, maka program sanlat yang dilakukan setiap tahun oleh skeolah pada bulan Ramadan hanyalah seremoni dan ritualitas semata yang tidak memberi kesan dan ilmu apa-apa kepada para peserta.
Yang terpenting setelahnya adalah follow up usai ramadhan. Karena sangat tidak mungkin bisa menguasai ilmu-ilmu keislaman yang begitu luas hanya dalam hitungan hari. Karenanya, susasana keilmuan harus senantiasa terjaga dan tetap mentradisi setelah Ramadan usai. Sehingga nilai-nilai akhlaq dan keimanan yang sudah ditanamkan pada sanlat ramadhan tidak terkikis begitu ramadhan berlalu.
Selain itu, juga harus tetap ada sinergi antara lingkungan, sekolah, rumah, dan negara untuk tetap mengawal dan membina para remaja sehingga mereka tetap terkondisikan berada pada pondasi keimanan yang kuat, berakhlak mulia, termotivasi untuk merasa butuh pada ilmu-ilmu Islam. Insya Allah, hal ini sekaligus akan menjauhkan anak-anak dan remaja dari berbagai perilaku menyimpang yang akrab dengan kehidupan generasi muda saat ini. ***

Oleh;
Undiana
Muslimah HTI Kota Makassar
Editor: Aldy
Sumber: Tribun Timur

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas